75 Tahun yang Gagal, Saatnya Moratorium NKRI

0
352

Oleh: Ikhsan Tualeka

Arah dan perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah 75 tahun rupanya menunjukan tanda-tanda yang kurang memuaskan, bahkan mengkhawatirkan. Sejumlah realitas memperlihatkan ada kekecewaan yang mendalam dari anak bangsa.

Keadilan distributif yang jauh dari harapan, sistem politik yang diskriminatif, hingga oligarki yang mencengkeram kuat dari pusat kekuasaan sampai ke daerah, adalah pangkal utama dan sulit terbantahkan, karena dikonfirmasi oleh banyak data. Termasuk yang dikeluarkan oleh otoritas negara seperti dari Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Implikasinya jelas, kekecewaan politik atau political disconten terus menguat dan mengental. Hampir semua terbentuk atau terjadi dikarenakan rasa persentuhan warga negara dengan negara yang faktanya tidak sama, tergantung di mana warga negara itu lahir dan dibesarkan.

Jika terlahir sebagai anak Aru atau besar di Maluku Barat Daya, Seram Timur atau di banyak tempat di Papua dan Indonesia timur lainnya, tentu akan merasakan negara tak hadir dalam berbagai urusan publik yang sejatinya adalah tanggungjawab negara. Itu setidaknya dapat dilihat dengan jelas dalam urusan pendidikan dan kesehatan.

Jumlah anak-anak yang putus sekolah atau sekolah dengan fasilitas ala kadar dan memprihatinkan, serta ratusan anak-anak yang meninggal saat persalinan setiap tahunnya di Maluku, mengkonfirmasi realitas yang tidak menguntungkan itu. Pemerintah pusat dan daerah punya andil besar, tapi jangan-jangan kita ada dalam sistem bernegara yang tidak relevan.

Membuat sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di Maluku Raya, Nusa Tengara Raya dan Papua Raya susah keluar dari kondisi yang nyaris sama dengan saat masih berada di masa kolonial Belanda —atau jangan pada masa itu jauh lebih baik. Negara kerap menyampaikan memiliki berbagai keterbatasan, tapi sulit untuk dimaklumi bila kebutuhan dasar warga negara saja masih jauh dari harapan untuk terpenuhi.

Baca Juga  Perayaan HUT RI Diwarnai Pengibaran Bendera RMS di Kantor Pengadilan TIPIKOR Passo

Sentralisasi pengelolaan negara yang coba diatasi dengan otonomi daerah rupanya tidak menjawab persoalan. Adanya 5 daerah otonomi khusus; DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Aceh, Papua dan Papua Barat, justru memperlihatkan bahwa negara ini sudah sejak awal tidak relevan menggunakan sistem negara kesatuan.

Diajukannya RUU provinsi atau daerah kepulauan oleh delapan provinsi, menunjukan kalau ada banyak daerah yang juga ingin diperlakukan secara khusus sebab memiliki karakter wilayah yang berbeda. Karena mengatur daerah kelautan sama dengan daerah lain berbasis daratan, justru hanya memupuk dan biarkan ketidakadilan terus berlangsung.

Wajah NKRI semakin mengarah pada federalisme yang malu-malu. Ada dalam praktik tapi tak didukung oleh legitimasi konstitusi. Sehingga bila ada yang terkait dengan beban negara, maka logika otonomi yang dikembangkan, sedangkan bila menyangkut keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam, paradigma negara kesatuan yang ditonjolkan.

Kondisi ini tentu tak dapat dibiarkan, kita tidak bisa terus berada dalam penerapan Negera Kesatuan rasa federal semacam ini. Membiarkan situasi terus seperti ini, sejatinya sedang memasrahkan Indonesia diambang kehancuran dan perpecahan. Kekecewaan politik yang ibarat bisul itu, akan pecah pada waktunya.

NKRI Perlu segara ‘dimoratorium’, kemudian mencari serta menerapkan format baru bernegara yang lebih relevan, bila menginginkan Indonesia tatap ada dalam peta negara-negara dunia. Memaksakan diri menjadi kesatuan hanya menunda kematian alias sedang menuju jalan yang salah.

Meminjam pendapat Raymond Gettel, Negara Kesatuan itu dapat terjadi bila terdiri dari pulau atau satu daratan; relatif tidak luas wilayahnya; relatif tidak banyak penduduknya; dan relatif tidak majemuk masyarakatnya. Untuk semua syarat itu hampir berseberangan dengan realitas NKRI.

Tak salah kemudian bila ide federalisme telah muncul jauh sebelumnya. Bung Hatta yang menginisiasinya tentu dengan alasan dan padangan yang lebih maju, meski akhirnya harus kalah dengan pilihan menjadi Negara Kasatuan, yang dalam perjalanan sejarah terbukti anomali.

Baca Juga  Setelah PSBB, Kota Ambon Terapkan PSBB Transisi Selama 2 Minggu

Melihat kondisi yang ada, ide negara federal perlu dihidupkan kembali, tak boleh dimatikan begitu saja hanya dengan menunjuk ‘kegagalan’ era Republik Indonesia Serikat (RIS). Ide negara federasi bukanlah sesuatu yang ahistoris dalam peta pertarungan pemikiran politik di Indonesia.

Ide yang pernah diusung oleh sejumlah founding fathers Indonesia dengan munculnya perdebatan federalisme vs unitarisme adalah fakta sejarah yang tentu perlu kembangkan kembali. Karena itu, menggali lagi pemikiran tentang negara federasi di Indonesia bukanlah sesuatu yang salah, bisa jadi alternatif.

Rasanya setalah 75 tahun ini, perlu ada terobosan dengan melakukan ‘moratorium’ NKRI. Langkah berikutnya, bisa jadi dengan menerapkan Negara Federal sacara kafah, untuk menyelamatkan tujuan berbangsa dan bernegara; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pilihan yang lebih dapat memastikan keberlanjutan Indonesia ketimbang terus bertahan dalam status kesatuan, namun menjalankan federasi secara malu-malu. Dengan demikian NKRI mestinya menjadi Harga Hidup, agar bisa terus didiskusikan guna menemukan formula yang tepat dalam pengelolaan negara-bangsa.

Penulis adalah Direktur IndoEast Network

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here