Abdoel Moethalib Sangadji Perintis Kemerdekaan RI: Refleksi Realitas 77 Tahun Indonesia Merdeka

0
2223

“Awal tahun depan 2023 proses pengusulan menuju gelar pahlawan nasional A.M.Sangadji kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia harus segera diaktualisasikan, dan menjadi catatan penting bagi Bapak Presiden Joko Widodo.”

Oleh: Kamil Mony

Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan bagi seluruh warga bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pada momentum yang baik ini kami ingin mengajak pembaca sekalian khususnya kaum muda milenial guna dapat melakukan kontemplasi (mengheningkan cipta ) mendoakan pejuang – pejuang bangsa yang telah gugur dalam mempertahankan seluruh tumpah darah Indonesia dari cengkeraman imperialis penjajah.

Apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita merupakan kerja nyata kemanusiaan, tugas maha besar kita hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan melek akan sejarah bangsa agar supaya terus – menerus menumbuh -kembangkan semangat Nasionalisme Kebangsaan tanpa perbedaan yang tidak penting.

Tujuh puluh tujuh tahun sudah kita menikmati kebebasan, kemerdekaan signifikan dan komprehensif. Semua itu karena legacy pendiri bangsa. Apakah dengan menyambut momentum istimewa tersebut cukup dengan upacara bendera, dilanjutkan dengan lomba – lomba tujuh belasan? Jawaban nya tentu tidak. Ada persoalan fundamental yang harus kita pahami bersama bahwa proses menuju Indonesia Merdeka itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. keringat, darah, air mata dari syuhada gagah berani itulah menjadi titik balik negara – bangsa (nation – state) bernama Indonesia bebas menentukan arah kebijakan politik kemerdekaan itu.

Semangat persatuan dan kesatuan seperti kehilangan arah, kita dihadapkan oleh persoalan – persoalan krusial yakni politik, ideologi, kemanusiaan, hukum, sosial budaya, dan lain -lain. Menjadi anak bangsa yang sengaja acuh akan nilai – nilai penting dimana termaktub dalam amandemen UUD 45 dan Pancasila. Seyogianya nilai – nilai pandangan hidup bangsa itu harus terus digelorakan dalam setiap sanubari manusia Indonesia seutuhnya.

Abdoel Moethalib Sangadji (A.M.Sangadji) salah satu prototipe bangsa dengan pemikiran –pemikiran progressif nya, telah membuktikan itu kepada umat, bangsa, juga negara. Tetapi setelah 77 (tujuh puluh tujuh tahun ) Indonesia Merdeka nama besar nya bak terlupakan di Bangsa ini? Miris memang namun itulah faktanya.

Baca Juga  Menyongsong 76 Tahun Indonesia Merdeka: Maluku Masih Tertinggal, Suatu Tinjauan

Lahir dan dibesarkan dari keluarga ningrat pada salah satu desa adat atau negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah, 03 Juni 1889, Menamatkan sekolah dasar (HIS ) di Pulau Saparua, sekolah menengah (MULO) di kota Ambon. Tahun 1909 menjadi pegawai Belanda (griffir Landraad). Hingga memutuskan hijrah ke tanah Jawa dan membersamai duo tokoh hebat lainnya Raja Jawa Tanpa Mahkota (Tuan Tjokroaminoto, The Grand Old Man (Hadji Agus Salim ), dalam wadah berhimpun kolektif kolegial Syarikat Islam tahun 1922, di Surabaya bersama H.O.S. Tjokroaminoto menyusun konstitusi PSII atau program asas tafsir dan tandhim PSII.

Sebab tokoh asal Maluku ini selain piawai dalam berpidato juga pandai memainkan mesin Tik. ( Baca: Amelz, 1952, H.O.S.Tjokroaminoto, Hidup dan Perjuangannya). Lalu kemudian tahun 1930 terpilih sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah PSII masa jihad 1930 – 1942, setelah melalui tahapan proses openbare vergadering, Yogyakarta. Jago Toea didapuk menjadi Ketua Umum Partai Syarikat Islam Indonesia menggantikan sahabat karib nya Tjokroaminoto secara demokratis. Sebuah jabatan politik prestisius yang tidak pernah diimpikan oleh A.M.Sangadji seorang anak kampung dari kawasan timur Indonesia, Maluku.

A.M.Sangadji menguasai beberapa bahasa asing sebagai alat komunikasi, diplomasi, ketika berhadapan dengan penjajah ataupun kolega bangsa lain. Beliau juga aktif menulis dalam koran – koran underbow Syarikat Islam seperti Oetoesan Hindia, Fadjar Asia. Hampir rata – rata pejuang jaman dulu menjadikan media massa sebagai seluler agitasi dan propaganda. And then hal demikian itu berhasil membuat penjajah naik pitam tapi mampu menjadi message moral bagi rakyat saat itu lewat tulisan – tulisan simbol perlawanan terhadap kaum penjajah.

Perjumpaan A.M.Sangadji dengan tokoh – tokoh terkemuka Indonesia asal Syarikat Islam di Rumah H.O.S.Cokroaminoto, Gang Peneleh No. 29, 30,31, Surabaya, dan menjadi tempat indekos Soekarno, Semaun, Alimin, Tan Malaka, Muso, S.M.Kartosoewirjo. Seakan memantik kesamaan visi – misi besar membawa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan, apalagi saat itu tuan Tjokroaminoto sedang menggagas politik hijrah dan zelfbestuur (pemerintahan sendiri ) lepas dari otoritarianisme Belanda.

Karakteristik negarawan sejati Abdoel Moethalib Sangadji dibuktikan beliau dengan menolak naik takhta di kampung halamannya sebagai regent/raja. Ketika ayahanda beliau Abdoel Wahab Sangadji mengunjunginya di Surabaya tahun 1921. Kecintaan terhadap republik juga harapan mewujudkan Indonesia Merdeka berdaulat adil dan makmur menjadi alasan penolakan A.M.Sangadji, beliau berujar kepada sang ayah “Lebih baik berjuang untuk Indonesia Merdeka daripada pulang menjadi raja “

Baca Juga  Pergeseran serta Distorsi Tatanan Adat dan Budaya di Maluku, Suatu Tinjauan

Setelah membaca buku biografi A.M.Sangadji menuju Indonesia Merdeka karangan Sam Habib Mony yang notabene adalah cucu mantu A.M.Sangadji, Dan berselancar di dunia maya dengan bantuan Google saya menemukan banyak data dan fakta terkait sosok pejuang perintis kemerdekaan ini Semangat patriotisme, heroisme, kepada tanah Air, sangatlah monumental. Sempat terlintas dibenak saya dan teman – teman Abdoel Moethalib Sangadji Institute berencana menghadirkan sebuah buku biografi A.M.Sangadji part three.

Hal ini semata – mata ingin mengedukasi publik Indonesia serta orang muda milenial Indonesia bahwa selain nama – nama tokoh Pahlawan bangsa lainnya ternyata geliat juang untuk Indonesia A.M.Sangadji tercatat dalam lintasan sejarah peradaban bangsa sebagai tokoh intelektual etik nasionalisme Islam dimana kontribusi besarnya harus dibaca pun dimaknai secara tuntas agar menambah khazanah perjuangan sekaligus menambah referensi tentang beliau dalam konteks kurikulum wacana identitas sejarah nasional.

Keaktifan beliau dalam mendirikan Laskar Hizbullah di Yogyakarta, menempuh perjalanan panjang (long march) menuju kota Istimewa Yogyakarta. Setelah bebas bersyarat dari tahanan Belanda, penjara Cipinang Batavia. Sebelumnya itu beliau dan tokoh – tokoh pemuda lainnya di Kalimantan dipenjarakan oleh Jepang kemudian Belanda.

Bukan tanpa alasan tentunya Jago Toea akhirnya dipenjarakan oleh Jepang dan Belanda, tokoh A.M.Sangadji dianggap sebagai orang dengan hegemoni yang kuat dan di-judge berbahaya dalam menggerakkan massa aksi melawan ketidakadilan. Hal mana terbukti dengan sebab pengaruh kekuasaan nya itu oleh pemerintah Jepang A.M.Sangadji diajak berunding (kesepakatan damai) dengan janji – janji manis akan memberikan Kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia.

Sebelumnya di tahun 1945, mendengar kabar proklamasi kemerdekaan RI telah dikumandangkan oleh Soekarno – Hatta pada jalan Pegangsaan timur No 56 Jakarta pusat. Seharusnya A.M.Sangadji kala itu sudah mempersiapkan diri menuju Batavia namun terkendala hal teknis beliau mengurungkan niat dan ditemani adik perempuannya Hajjah Siri Nur Sa’ad Sangadji, Jago Toea mengkoordinir tiga group masuk hutan belantara dataran Kalimantan ratusan kilometer dengan berjalan kaki beserta rombongan pemuda Kalimantan lainya mewartakan kepada rakyat, mengibarkan sang saka merah putih, bahwasanya di Batavia Proklamasi telah dikumandangkan dan kita bangsa Indonesia telah bebas merdeka dari segala intervensi penjajah.

Baca Juga  Sinergi BUMN Untuk Efisiensi, Masyarakat Harus Dapat Pelayanan Murah

Saya tidak lagi harus mengungkapkan narasi – narasi hebat lainnya tentang Jago Toea Abdoel Moethalib Sangadji sebab pada angle tulisan sebelumnya telah saya ulas dan terekam dalam jejak digital baik itu akun Facebook, Twitter, Instagram, media online lainnya. Yang menjadi campaign gerakan moral nol rupiah.

Prinsipnya dalam kesempatan dan momentum dirgahayu republik Indonesia ke -77 ini, ingin saya sampaikan kepada pembaca sekalian bahwa Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia (Ir. Soekarno). Diksi dari putra sang fajar atau kita kenal sebagai salah satu murid Tuan Tjokro, A.M.Sangadji, Agus Salim dan tokoh – tokoh pemimpin teras Syarikat Islam ketika ber-Indekos di Rumah Peneleh kediaman Jang Oetama Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Sebagai sesama anak bangsa teruslah menebar benih kebaikan atas nama persatuan dan kesatuan, kemanusiaan yang adil dan beradab, juga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga perjuangan Tim Peneliti dan pengkaji gelar daerah (TP2GD) provinsi Maluku, selalu diberkahi Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa), Doa dari seluruh rakyat Maluku dan juga publik Indonesia. Awal tahun depan 2023 proses pengusulan menuju gelar pahlawan nasional A.M.Sangadji kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia harus segera diaktualisasikan, dan menjadi catatan penting bagi Bapak Presiden Joko Widodo selaku pemangku kepentingan (decision maker) tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke -77 Tahun. Pulih lebih cepat bangkit lebih kuat, Menuju Indonesia Maju.

Penulis adalah Founder Abdoel Moethalib Sangadji Institute.