Ambon Manise, Manjakan Diri di Alam Pantai dan Air Panas yang Menyegarkan

0
2285

Catatan: Irham Maulidy HR, S.Sos, M.Sos 

Perjalanan saya silaturahmi ke Ambon, Maluku merupakan undangan terhormat dari Ikhsan Tualeka Founder IndoEast Network, dan juga intelektual muda yang cukup dikenal di Maluku.

Saya sendiri dan Bung Ikhsan adalah kawan rasa saudara yang sudah saling kenal sejak 25 tahun lalu. Tepatnya sejak masa kuliah di Surabaya dimana kami sama-sama sebagai aktivis kampus.

Dari Bung Ikhsan lah, saya mendengar cerita-cerita tentang eksotisme dan kesuburan alam Maluku. Mulai dari pantai, gunung, air terjun, dan tentu saja Kota Ambon yang berada di Teluk Maluku layaknya Kota Hongkong di China.

Kedatangan ke Maluku, adalah untuk rencana pengiriman beasiswa santri dan pendirian cabang Pondok Pesantren. Sekaligus juga untuk konsolidasi organisasi LSM LIRA di Maluku.

Pada hari kedua di Ambon, saya mulai membuktikan cerita-cerita Bung Ikhsan yang selama ini melekat dalam imajinasi dan benak saya. Sudah lama saya ingin memenuhi undangan atau ajakan Bung Ikhsan ke Maluku, tapi bari menjelang tahun baru 2021 itu keinginan itu bisa diwujudkan.

Setelah menikmati sarapan Nasi Kuning khas Maluku, tepat sekitar pukul 11.00 WIT, kami menuju Mall ACC (Ambon City Centre). Tujuannya untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan peralatan saat nge-pantai nanti.

Selepas dari Mall ACC, kami memilih mengeksplor Pantai Liang sebagai tujuan pertama. Pantai Liang berada di samping Dermaga Hunimua dengan garis pantai yang panjang, pasirnya putih, bersih, dan eksotis dihiasi akar pohon yang tercabut dan menjuntai ke tepi pantai.

Sambil menyaksikan kapal Ferry yang kadang lalu-lalang dari Pulau Ambon menuju Pulau Seram, kami bermain air laut dan menaiki perahu nelayan tradisional yang disewakan Rp 50.000/Jam (murah sekali, khan guys).

Sambil berlayar menikmati indahnya gelombang, saya pun menceburkan tubuh ke dalam laut biru yang bening dan indah. Sesekali menyelam menyapa ikan-ikan laut yang penuh keriangan.

Setelah puas berenang, kami pun menyusuri pantai, hingga rasa haus datang. Maka ada air degan hijau (kelapa muda.red) yang segar siap mengguyur kerongkongan. Selain kelapa muda, kami juga makan rujak khas Maluku.

Lidah seperti dimanjakan dengan nikmatnya rujak buah yang aduhai dan maknyus nikmatnya. Kuliner ini agak berbeda dari rujak di tempat lain terutama pada tumbuhan kacang yang dibiarkan bertekstur (tidak halus) dan gula asli Maluku (Saparua) yang kenyal dan manis alami.

Matahari beringsut pergi, panorama Pantai Liang malah semakin mempesona, indah, dan menggoda. Sebelum suasana menjadi gelap, kami segera meninggalkan Pantai Liang dengan sejuta kenangan Indah.

Air Panas Hatuasa Tulehu

Setelah puas memanjakan jiwa raga di Pantai Liang, sengaja kami tidak mandi dan membilas tubuh dengan air tawar, karena kami bertiga (saya, Ikhsan dan Gus Army) punya rencana lebih seru lagi, yakni mandi di Air Panas Hatuasa Tulehu.

Perjalanan dari Pantai Liang ke Air Panas Hatuasa sekitar 10 menit dengan jalan aspal mulus. Setelah melalui perjalanan berkelok membelah hutan, maka sampailah kami di pemandian air panas Hatuasa.

Di pemandian air panas Hatuasa ini ada dua pemandian yang dikelola oleh masyarakat setempat. Sengaja kami memilih diujung yang masih tradisional. Ada juga pemandian yang sudah dikeramik.

Sekitar 2 jam kami berendam, menceburkan diri dalam hangatnya air yang keluar dari perut bumi Hatuasa. Ada sekitar ratusan orang yang juga berendam bersama kami. Saking asik dan terkenalnya pemandian ini, anda jangan heran jika ada banyak rombongan pengunjung yang datang dari Surabaya, Makassar, dan Jakarta.

Sengaja saya menjumpai penjaga pemandian bernama Rahman. Menurut penuturannya, pengunjung rata-rata biasanya bisa mencapai ribuan orang per hari. Namun karena ada pandemi Covid-19 jumlah pengunjung pun menurun menjadi sekitar 700 orang per hari. “Ya lumayan drastis penurunan jumlah pengunjungnya mas”, ujarnya.

Di pemandian Hatuasa, banyak penjual makanan/minuman. Diantara banyak pilihan, kami pun memesan hidangan indomie telor yang disuguhkan setelah mandi dan berendam dengan harga yang relatif murah, hanya Rp 20.000, membuat tubuh kembali bugar.

Potong Rambut Madura

Orang Madura selalu ada di mana-mana, ungkapan itu memang benar adanya. Hal itu saya buktikan setelah mandi air panas Hatuasa. Kami singgah di Potong Rambut Madura.

Di Maluku, tukang potong rambut dikuasai oleh orang Madura. Sebagai sesama warga/suku Madura saya mencoba untuk potong rambut yang sudah cukup panjang.

Ternyata antriannya banyak sekali (sekitar delapan orang). Antrean panjang adalah alat penguji, bahwa kualitas cukurannya pasti rapi dan bagus karena banyak peminat.

Dengan penuh kesabaran, akhirnya tiba giliran saya dipangkas. Sambil rambut dipotong, saya pun lakukan interview ringan, tentu dengan bahasa Madura.

Adalah Afif Marzuqi, yang memotong Rambut saya. Pria paruh baya ini rupanya sudah 7 tahun berada di Ambon menjadi tukang potong rambut, berasal dari Pamekasan, Madura.

Menurut Afif, ada ratusan anggota komunitas orang Madura di Ambon dan sekitarnya, sebagaian besar berprofesi sebagai tukang cukur (potong). Untuk merawat silaturahmi, mereka kompak setiap malam Jum’at berkumpul dan melakukan pengajian, yasinan dan tahlilan seperti kebiasaan/tradisi di Madura.

Setelah selesai, awalnya Afif tidak mau dibayar, namun tak kuasa menolak setelah saya memaksa, tarif/harga potong rambut Afif Rp 20.000 untuk semua kalangan (pria dewasa dan anak anak). Disinilah letak persaudaraan sesama orang Madura di perantauan, rasa persaudaraannya sangat tinggi.

Bagi anda yang ingin ke Ambon, jangan lupa mampir ke Potong Rambut Madura yang menjamur di sudut-sudut Kota Ambon, buktikan hasilnya. Dijamin anda akan tampil lebih tampan dan percaya diri. Selamat mencoba.

Tulehu, 29 Desember 2020

Penulis adalah Wakil Presiden LSM LIRA, ini merupakan catatan hari ke-2 kunjungannya ke Maluku