Kritik ‘Jakarta’, Betkraf Cetak Mata Uang Maluku

0
2873

TABAOS.ID,- Berbagai cara digunakan untuk mengkritik dan mengingatkan pemerintah agar lebih memperhatikan kepentingan daerahnya. Jika sebelumnya Beta Kreatif (Betkraf) menerbitkan ‘Paspor Kedutaan Besar Maluku’, kini mereka mengeluarkan pecahan mata uang Maluku dengan nominal 100 PISI.

Adapun PISI diambil dari salah satu bahasa daerah di Maluku yang artinya uang. Menurut Direktur Beta Kreatif, M. Ikhsan Tualeka, dalam kepada tabaos.id, peluncuran mata uang Maluku ini juga sebagai bentuk satire dan kritik simbolik mengingat Maluku masih masuk daerah termiskin di Indonesia. Meskipun kaya akan sumber daya alam.

“Ini kan realitas yang ironis dan paradoks, padahal menurut Kementrian Perikanan dan Kelautan RI, untuk sektor kelautan saja setiap tahun lebih dari 40 Triliun Rupiah dicuri dari laut Maluku, belum lagi dari sektor lain, tapi Maluku APBN-nya tidak lebih dari 3 Triliun”, kritik Tualeka.

Menurutnya, situasi ini perlu dikritisi dengan serius, apalagi dalam waktu yang tidak begitu lama, akan ada eksplorasi Gas Abadi Blok Masela dengan nilai investasi Blok Masela mencapai US$20 miliar. Jangan kemudian masyarakat Maluku tidak dilibatkan dalam berbagai pengambilan keputusan dan hanya kebagian ‘tulang’.

Sejarah ekspolarasi sumber daya alam di Indonesia ini selalu saja meminggirkan hajat hidup dan kepentingan masyarakat lokal atau daerah. Seperti halnya yang dilakukan PT. Arun di Aceh, atau PT. Newmont di Nusa Tenggara Timur dan berbagai daerah lainnya.

“Kondisi ini jangan lagi terjadi di Maluku, dimana nanti Rupiah dihasilkan dari bumi Maluku tapi masyarakatnya tak pengang Rupiah. Atau lebih baik orang Maluku yang kelola sendiri alam-nya dan punya mata uang sendiri seperti PISI?”, sindir dan kritik Tualeka

Aktivis muda Maluku ini menjelaskan PISI akan menjadi bentuk kritik simbolik. Ada banyak cerita bagaimana pemakaian simbol dapat menarik solidaritas bersama dan membentuk perlawanan kolektif terhadap kebijakan yang tidak adil.

Baca Juga  HUT RI Ke-74 Diwarnai Pengibaran Sejumlah Bendera RMS Di Negeri Aboru, Pulau Haruku

Hal ini misalnya dapat kita saksikan dalam gerakan ‘jaket kuning’ sebagai simbol perlawanan warga terhadap kebijakan Presiden Prancis, Emmanuel Marcon beberapa waktu lalu, yang ternyata efektif sehingga kebijakannya soal BBM dan pajak bisa dinegosiasikan ulang.

“Artinya, perlawanan rakyat atas ketidakadilan secara simbolik dan kolektif dapat mendesak pemangku kewajiban untuk lebih menaruh perhatian dan peduli dengan pemangku kepentingan atau rakyat”, urai Tualeka.

Ia menjelaskan, upaya dan gerakan yang mereka lakukan itu oleh Jhon C. Cross dalam bukunya, Informal Politics, Street Vendors, and the State in Mexiko City, disebut sebagai teori mobilisasi sumber daya atau resource mobilization theori. Yakni apabila kelompok marginal dalam masyarakat mampu memobilisasi sumber daya mereka, maka mereka akan dapat mempengaruhi kebijakan negara.

Sumber daya yang dimobilisasi bisa berupa jumlah orang, solidaritas kelompok, jaringan kemampuan lobi dan sebagainya. Artinya, bila ada gerakan kolektif secara simbolik yang mau dilakukan bersama, antara lain jika sama-sama menjadikan ‘Paspor Maluku’ yang sudah diluncurkan sebelumnya, serta PISI sebagai ‘Mata Uang Maluku’ atau gimmick dan satire lainnya sebagai simbol protes kolektif akan menjadi pressure bagi pemerintah.

“Gerakan protes dengan simbol-simbol tertentu, bila berlangsung secara massif, minimal di media sosial, dipastikan dapat menjadi fenomena baru dalam menggalang solidaritas orang Maluku, sehingga suara-suara yang selama ini tak terdengar akan bisa lebih didengar,” tegas Tualeka.(T04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here