Cerita dari Rekor Merajut ‘Merah Putih’ Terpanjang di Jembatan Merah Putih

0
816
Ikhsan Tualeka, Direktur Beta Kreatif

Tanggal 19 Agustus 2017, Beta Kreatif bersama berbagai elemen lainnya mencatatkan rekor baru Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk Pembentangan dan Menjahit ‘Bendera’ Merah Putih terpanjang di atas Jembatan Merah Putih, Ambon, Maluku. Rekor ini masih bertahan hingga saat ini. Bagaimana ide ini bermula hingga diaktualisasikan, berikut ulasannya:

Oleh: Ikhsan Tualeka

Saat sedang di Athens International Airport Yunani 5 Mei 2017, pukul 17.30, dalam perjalanan dari Kairo, Mesir ke Belanda, dari Facebook saya tahu kalau Gubernur Maluku dan rombongan sedang berada di Belanda. Saya kemudian coba menghubungi Gubernur, Said Assagaff lewat WhatsApp.

“Lagi di Eropa ya Pak Gubernur, beta kebetulan juga ada kegiatan di Eropa, kalau ada waktu ketemu ya pak,” tulis saya dalam pesan singkat, yang tak lama kemudian dibalas: “Iya Ikhsan, tapi beta masih di Paris, kalau mau ketemu di Novotel Hotel, Den Haag besok pagi jua.”

Sore itu juga saya terbang dari Athena Yunani ke Belanda. Tiba di Schiphol International Airport, kemudian dengan light rail transit atau kereta listrik antar kota, saya langsung menuju Rotterdam Marriott Hotel yang disediakan panitia CinemAsia Tour. Ini kedatangan saya yang kedua tahun ini di Belanda atas undangan CinemAsia.

Tiba di hotel, saya lalu menghubungi saudara perempuan saya yang sudah lama bermukim di Belanda, Idja Latuconsina, untuk meminta bantuannya menemani saya ke Den Haag besok pagi. Idja yang tinggal di Utrecht menyanggupi untuk menjemput dan mengantar. Ia memang kakak yang baik.

Pagi-pagi, pukul 07.00, sesuai janji, Kak Idja tiba dengan mobil sedan BMW-nya. Kami meluncur, membelah dinginnya pagi dan jalanan yang masih sepi. Tiba di Novotel Hotel di pusat kota Den Haag, ternyata sudah ada rombongan dari Maluku yang sedang sarapan. Diantaranya ada Ibu Reti Assagaff, Pendeta John Ruhulessin, Kepala Bappeda Maluku Anton Sihaloho dan lainnya.

Tak lama kemudian Pak Gubernur datang menghampiri. Kami lalu bercerita berbagai hal, antara lain terkait ide saya untuk melaksanakan Festival Jembatan Merah Putih. Sebuah ikhtiar dan upaya untuk memberikan nilai tambah terhadap jembatan terpanjang di kawasan timur Indonesia itu.

Baca Juga  Protes Gaji Tak Dibayar Perusahan Ralahalu, Demo Eks Buruh Ricuh

Saya juga menyampaikan nantinya dalam festival itu, akan ada pembentangan potongan kain merah-putih sepanjang ruas jembatan, yang kemudian disambungkan secara serentak oleh para peserta sebagai Rekor MURI yang baru. Gagasan itu disambut baik Pak Gubernur, kita sepakat mengadakan festival itu beberapa bulan kedepan, tepatnya di Hari Ulang Tahun Provinsi Maluku, 19 Agustus 2017.

Senang gagasan dan rencana disambut positif, namun diskusi singkat nan berkualitas itu mesti berakhir. Pak Gubernur dan rombongan rupanya siang itu harus kembali ke tanah air. Sementara saya masih ada beberapa hari lagi di Belanda berkaitan dengan CinemAsia Tour, di mana film Salawaku kembali diputar. Saya dan Kak Idja pun berpisah jalan dengan rombongan dari Maluku itu di depan hotel dengan hati senang, karena dapat harapan baik.

Setelah kembali ke tanah air, dan kebetulan karena saya juga aktif di Persatuan Artis Film Indonesia 1956 (PARFI 56), ide yang sudah dibahas dengan gubernur di Den Haag itu saya utarakan ke sahabat saya Marcella Zalianty, Ketua Umum PARFI 56. Saya usulkan bagaimana bila kegiatan ini dikolaborasikan dengan organisasi yang ia pimpin. Marcella setuju.

Begitu pula ketika rencana ini saya sampaikan pada rekan saya Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Dito Ariotedjo, ia juga sepakat untuk ambil bagian. Dan itu artinya, yang akan terlibat makin banyak. Setelah itu saya menemui pihak MURI, mereka pun setuju dan senang dengan inisiatif saya itu.

Begitu pula saat kembali ke Ambon, rencana ini saya utarakan pada Pangdam XVI Pattimura Mayjen. TNI Doni Monardo, yang juga memberikan respon positif. Pangdam sangat antusias dan siap membantu terlaksananya agenda ini.

Baca Juga  Amnesty Internasional: Bebaskan 5 Aktivis Politik yang ditangkap di Pulau Haruku, Maluku

Respon serupa saya dapatkan saat menemui dan berdiskusi dengan Rektor Universitas Pattimura, Prof. Marthinus Johanes Saptenno. Ia tertarik dengan rencana ini, kami bahkan sepakat ada talk show dengan dengan mengangkat Tema: “Nasionalisme, Seni Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” di Universitas Pattimura sebagai rangkaian dari Festival Jembatan Merah Putih.

Meski koordinasi berjalan lancar, ternyata ada problem, karena untuk pengadaan kain merah-putih sepanjang Jembatan Merah Putih tentu tidak mudah, butuh anggaran yang tidak sedikit. Guna menyiasati kebutuhan itu, berbekal surat rekomendasi dari Gubernur Maluku, saya menyurati sejumlah kepala daerah dan organisasi untuk menyumbang kain merah-putih.

Alhasil terkumpulah 20 potong kain merah-putih, masing-masing panjangnya 100 meter, ditambah 17 meter sumbangan warga. Sehingga total ada 2017 meter kain dengan lebar 2 Meter, siap dipergunakan.

Singkat cerita, dengan dukungan berbagai pihak, tanggal 19 Agustus 2017, pukul 09.00 pagi, talk show diadakan di Auditorium Universitas Pattimura, menghadirkan lima ribu lebih mahasiswa. Dibuka dengan satu puisi “Nusantara” yang menggetarkan dari aktor senior Ray Sahetapy.

Sedangkan yang tampil sebagai pembicara adalah; Inspektorat Jenderal Kementerian Pertahanan RI Letjen Agus Sutomo, Pangdam Pattimura XVI Mayjen TNI Doni Monardo, Ketua Umum PARFI’56 Marcella Zalianty, Ketua Umum AMPI, Dito Ariotejo dan saya sendiri selaku Ketua Umum Empower Youth Indonesia dan Direktur Beta Kreatif.

Usai talk show, seluruh peserta dan narasumber kemudian longmarch diiringi sejumlah marching band menuju Jembatan Merah Putih yang jaraknya tidak begitu jauh dari Universitas Pattimura. Diguyur hujan, para peserta tetap antusias. Tiba di jembatan ternyata sudah berkumpul lebih dari tiga ribu pelajar se-Kota Ambon. Mereka berjejer rapih membentangkan kain merah-putih yang siap untuk disambung.

Setelah semua bersiap, Gubernur Maluku, Irjen Kementerian Pertahanan RI, Pangdam XVI Pattimura, Kapolda Maluku, Ketua DPRD Maluku, Kepala Kejaksaan Tinggi, sejumlah kepala daerah, tokoh masyarakat serta para pelajar dan pemuda dari berbagai kalangan, etnis dan agama, secara bersamaan dengan menggunakan jarum besar dan benang woll, menjahit potongan kain merah-putih. Dalam tempo kurang dari 20 menit, seluruh potongan kain merah-putih yang total panjangnya 2017 Meter tersambung.

Baca Juga  Hambra: Pendidikan Harus Jadi Prioritas di Maluku

Perwakilan MURI kemudian mengukur panjang kain dan menyatakan proses menjahit kain merah-putih di atas Jembatan Merah Putih itu sebagai rekor yang baru. Sorak-sorai, menandai pencapaian bersama itu. Upaya memaknai bulan kemerdekaan, serta menjadikan Jembatan Merah Putih tidak sekadar infrastruktur penghubung, tapi lebih dari itu juga sebagai ikon pariwisata dan simbol pemersatu generasi muda, khususnya di Maluku.

Dipilihnya Jembatan Merah Putih Kota Ambon juga bukan tanpa alasan. Jembatan  terpanjang di Indonesia Timur ini diharapkan tidak hanya sekadar sebagai infrastruktur penghubung, tetapi juga dapat menjadi simbol persatuan dan multikulturalisme.

Kegiatan ini juga melibatkan komunitas fotografi, dengan pertimbangan efek foto yang dalam perkembangan komunikasi media dewasa ini pengaruhnya sangat signifikan. Apalagi foto dengan mudah tersebar dan jadi viral, ini penting bagi kampanye dan membangun citra Maluku yang damai dan terbuka bagi investasi maupun pariwisata.

Ribuan perwakilan pelajar dan mahasiswa dari berbagai komunitas etnik dan agama di momentum itu sejatinya juga merupakan bagian dari pembentukan tradisi besar untuk saling menerima dan bekerja sama di kalangan masyarakat luas di Maluku. Tradisi besar yang dimiliki bersama ada bagian dari instrumen pemersatu.

Sebagai penggagas dan pelaksana kegiatan tersebut, saya tentu berharap upaya ini terus berlanjut. Semangat kerjasama dan bersatu-padu yang tercermin dalam kegiatan itu, harapannya dapat membawa pesan pada generasi muda agar lebih bersinergi positif, saling dukung, baku bae, baku kele, baku sayang untuk kehidupan yang lebih baik.

Ambon, 21 Agustus 2017

Penulis adalah Direktur Beta Kreatif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here