Cerita Dua Warga Belanda Keturunan Maluku Taklukan Puncak Binaiya,Tolak Illegal Fishing dan Deforestasi Hingga Bantu Pengungsi Gempa

0
715
Willem Pentury dan Bea Saija, Dua Warga Belanda Keturunan Maluku Taklukan Puncak Binaiya. Foto : Willem Pentury

 

TABAOS.ID,- Pesawat Maskapai Penerbangan Garuda Boeing 737-800 rute Jakarta-Ambon landing dengan mulus di Bandara Internasional Pattimura Ambon, pukul 07.00 Wit, 19 Oktober 2019 . Diantara puluhan penumpang yang bergegas turun, terlihat pasangan suami isteri warga negara Belanda keturunan Maluku, Willem Pentury dan Bea Saija. Meskipun mengalami kelelahan karena menempuh perjalanan panjang dari negaranya, wajah keduanya menyiratkan senyum bahagia, karena telah kembali menginjakkan kaki ditanah leluhur.

Lahir dan hidup berkecukupan di Belanda, tidak membuat keduanya melupakan sanak saudaranya di Maluku. Mereka merupakan generasi kedua dari sekian ribu warga keturunan Maluku yang masih tetap setia mengunjungi tempat asal leluhurnya.

 

Agenda kunjungan kali ini selain melepas kangen dengan keluarga, keduanya juga sudah menjadwalkan sejak tahun 2018 lalu, ingin menaklukan gunung Binaiya yang merupakan gunung tertinggi di Maluku. Bukan sekedar menjajaki tingginya Binaiya, aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap deforestasi sejumlah hutan di Maluku, illegal fishing dan dukungan terhadap pengungsi gempa di Maluku.

Mendengar Maluku masih dilanda gempa susulan pasca gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), tidak menyurutkan niat keduanya.

Agenda awal untuk mendaki Gunung Binaiya sebagai bentuk minta perhatian dari pemerintah atas praktek penebangan hutan dan pencurian ikan di Laut Maluku, kini ditambahkan dengan agenda menyalurkan bantuan kepada korban pengungsi di Maluku.

“Saya Senang, sudah tiba dengan selamat di Ambon. Banyak yang bilang kalau masih gempa, tapi kami tetap mau datang untuk melihat basudarakami, sekaligus ada bantuan yang diserahkan yang berasal dari warga keturunan Maluku kepedulian basudara di Belanda,”ungkap bung Willem saat bincang-bincang santai di restoran Baguala Resor, tempat mereka menginap, Selasa (12/11/2019).

Ditemani sang isteri, pria berusia 53 tahun yang saat ditemui megenakan kaos hitam, berikat kepala ini antusias saat mengisahkan berbagai agenda perjalanannya selama di Maluku.

Segelas minuman dingin lemon tea untuk mengobati haus, Wilem menuturkan, sejak tahun 2018 telah merencanakan pendakian gunung Binaiya yang memiliki ketinggian 3027 mlp .

Baca Juga  Di Brunei Martabat Papeda Tinggi, Maluku Jangan Kalah

Pendakian yang dilakukan bersama sang isteri bertujuan untuk meminta perhatian pemerintah terhadap praktek deforestasi besar-besaran di Pulau Seram, dan illegal fishing di laut Maluku, serta penanganan terhadap pengungsi gempa di Maluku.
“Beta hanya minta agar hutan dijaga untuk anak cucu, jangan terus dirusak, karena bencana alam yang akan mengancam kehidupan kedepan,”ucapnya.

Penebangan hutan ini kata dia memicu terjadinya kerusakan lingkungan, yang mengancam keberadaan masyarakat adat. Meskipun sudah ada aksi demo, dan upaya pemerintah daerah untuk melakukan moratorium terhadap sejumlah perusahaan, namun hal tersebut menurut Willem tidak berhasil.

Pemda melalui Gubernur telah kembali memberikan ijin dan membiarkan perusahaan melanjutkan penebangan hutan. Demikian juga dengan praktek pencurian ikan . Sumber daya alam yang melimpah ini belum dikelola secara baik untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat Maluku, karena masih sering dicuri. Ada harapan yang disampaikan Willem, yang menginginkan suatu saat, masyarakat Maluku bisa sejahtera, dan sebaliknya mengunjungi saudara-saudaranya yang berada di Belanda dan Eropa.

“Beta berharap, suatu saat basudara di Maluku sejahtera, dan dapat mengunjungi katorang (Kami) di Belanda atau Eropa,”ungkapnya sambil matanya menerawang jauh.

Untuk mendorong kepentingan pendakian Gunung Binaiya, Willem mengaku jauh-jauh hari telah mengurus sejumlah surat ijin melalui saudaranya. Diantaranya surat ijin dari Balai Taman Nasional Manusela, ijin dari Polda Maluku dan BIN, termasuk pemeriksaan kesehatan. Untuk bisa mendaki, mereka harus membayar 150 ribu per orang setiap hari. Pasangan suami isteri ini harus merogoh kocek cukup dalam hingga Rp 1,2 juta, karena melakukan pendakian selama empat hari.

“Kalau untuk orang lokal yang mau mendaki, hanya membayar Rp. 10 ribu, tapi kalau WNA, kita harus bayar lebih mahal yaitu 150 ribu tiap hari per orang,”ungkapnya.

Pendakian ini kata dia mengusung dua tema, yaitu minta perhatian terhadap pembangunan sosial society sipil di Maluku dan menunjukan solidaritas, serta menyalurkan bantuan kepada korban gempa, melalui dua organisasi setempat.

Baca Juga  Stand Maluku di Trade Expo Indonesia Disambut Antusias

Meskipun baru pertama kali melakukan pendakian, Willem bersama Bea mengaku bisa mencapai puncak. Mereka menggunakan tiga porter untuk mengangkut barang. Sebelum melakukan pendakian, keduanya menjalani prosesi adat oleh raja negeri Piliana, dan didoakan oleh Pendeta Titahena, agar perjalanan berjalan lancar.

Saat pendakian, mereka harus melewati empat posko, dan bermalam di kamp. Bahkan perjalanan dilakukan dalam kegelapan malam. Dalam kondisi lelah, ada kepuasan tersendiri saat mencapai puncak, dan sempat melihat gunung Murkele yang menjadi legenda di Pulau Seram. Sangat jarang pendaki maupun masyarakat setempat bisa melihat gunung tersebut, karena selalu ditutupi awan. Keberuntungan berpihak, gunung Murkele terpampang jelas dan berhasil diabadikan.

“Kata bapa raja, tidak sembarang orang bisa liat puncak gunung Murkele, tapi katong bisa liat, dan sangat luar biasa,”ucapnya antusias.

Mengaku sempat mengalami kekurangan stok air minum, Willem berkisah mendapat bantuan pasokan air minum dari pendaki lainnya.

“Akhirnya di puncak gunung Binaiya pada hari keempat. Bersama Mateos, Jeffrey dan Gatot. Mulai pukul 05.00 dari shelter 4. Tiba di atas pukul 15.00 Wit. Kemudian kembali ke shelter 4 tempat kami tiba pukul 23.00. Berjalan 4 jam dalam gelap. Cukup panas, cukup minum. Terima kasih atas dukungan kalian,”cetusnya puas.

Pengalaman lainnya yang diakuinya menarik adalah saat bermalam di Pastori Desa Piliana. Willem mengaku menikmati malam tanpa penerangan. Warga setempat mengatakan, sering terjadi pemadaman listrik di malam hari, dan siang hari hanya beberapa jam listrik dinyalakan.
“Kalau malam itu, di pastori dorang pake genset. Jadi katong bisa charger HP,”jelasnya.

Usai menjalankan misinya mendaki gubung Binaiya, Willem juga menyempatkan diri mengujungi keluarganya di Negeri Sariawan, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), dan Aboru, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Dia melihat warga masih mengungsi di dataran tinggi untuk menghindari gempa dan tsunami.

“Kondisi ini memang sangat memprihatinkan, dan kami ikut merasakan apa yang dialami oleh basudara samua di Maluku. Beberapa kali gempa juga kami rasakan, jadi sangat wajar kalau masyarakat Maluku masih takut karena trauma,”ucapnya.

Baca Juga  Apa Setelah Pilgub?

Menyikapi kondisi itu, Willem telah menyerahkan bantuan berupa uang, yang merupakan hasil sumbangan dari sejumlah warga Belanda Keturunan Maluku, yang peduli atas bencana yang terjadi.
“Kami sudah salurkan bantuan dalam bentuk uang, untuk dua organisasi yang kami kenal, yaitu organisasi Gandong, dan Komunitas Kalesang Maluku. Mereka yang punya kegiatan untuk pengungsi,”jelasnya.

Bantuan itu diserahkan, Selasa (12/11/2019) langsung kepada ketua Komunitas Kalesang Maluku, Vigel Fakaubun dan ketua organisasi Gandong, atas nama Atta.
Willem mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak yang ikut membantu aksi keduanya, lewat donasi bantuan yang telah dikumpulkan, dan telah diteruskannya kepada dua organisasi sosial di Maluku, untuk kepentingan pengungsi korban gempa.

Dia juga mengajak warga keturunan Maluku lainnya untuk ikut peduli dengan kondisi yang terjadi, dengan menyumbangkan bantuan dan bergabung lewat aksi yang dilakukan.
Donasi bantuan dari warga keturunan Maluku lainnya masih sangat dibutuhkan, mengingat masih dibutuhkan dana untuk kebutuhan lainnya.

“Katong berharap bahwa bapa, ibu, basudara lain akan mendukung aksi katong, karena masih ada bidang-bidang lain yang harus diperhatikan. Saya melihat banyak bantuan yang juga sudah disalurkan oleh banyak pihak, tapi ada banyak kebutuhan dibidang lain yang dibutuhkan korban gempa di Maluku. Mari katong bergabung untuk bantu pengungsi di Maluku,”ajaknya.

Willem dan Bea Kamis, 14 November telah kembali ke Belanda, Kenangan indah yang selalu akan terekam manis di memori keduanya. Solidaritas telah ditunjukkan oleh sesama warga keturunan Maluku di Belanda terhadap korban pengungsi.
“Katong akan selalu ada bersama-sama basudara samua. Ale rasa beta juga rasa, katong samua adalah satu, Save Maluku”. (T05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here