Cerita Masyarakat Pegunungan Seram Utara Dihari Kemerdekaan RI ke-74, Lilihata : Kami Masih Terjajah

0
111
Foto ini didokumentasikan Yossi Lilihata saat menempuh perjalanan ke Negeri Manusela, Pegunungan Seram Utara dengan berjalan menelusuri hutan dan sungai.

TABAOS.ID,- Kemerdekaan adalah euforia atau pesta rakyat dari belenggu penjajahan yang menguras berbagai kekayaan Alam, Penyempitan pemikiran untuk berkembang (Pembunuhan Sumber Daya Manusia) dll.

74 tahun merupakan salah satu usia yang cukup matang dalam menata Perkembangan perjalanan umur suatu negara untuk membangun, baik itu membangun Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Mengelola Sumber Daya Alamnya (SDA).

Dalam menyambut 74 tahun SDM Unggul Indonesia Maju seharusnya kacamata pengelola negara harus melihat dan meneropong akses jalan yang merupakan jantung dan roda untuk menghidupkan segala aspek, mulai dari pertumbuhan ekonomi, kesehatan yang notabene memberikan angin segar kepada SDM.

Beberapa paragraf diatas merupakan kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat oleh Yosis Lilihata, seorang warga negeri Manusela, di pegunungan Seram Utara.

Ungkapan perasaan dan jeritan Yosis Lilihata sendiri mewakili warga Negerinya Manusela dan juga Negeri-negeri lainnya yang ada di pegunungan Manusela. ya seperti itulah kondisi yang diceritakan Yossy saat mengungkapkan perasaannya kepada jurnalis tabaos.id, jumat (16/8/2019).

Sejumlah kata-kata dirangkai Yossi untuk menjadi kalimat yang bisa menggunggah hati para Negarawan dan Pemerintah dengan kondisi mereka saat ini.

Ironisnya, adalah sepenggal pesan yang dikirim Yossi melalui pesan messenger media sosial facebook, kepada jurnalis tabaos id. Beruntungnya pesan itu bisa terkirim.

“Bung Beta jalan turun dolo.  kalau beta seng aktif itu ada di tempt seng ada jaringan. Beta berharap tulisannya bisa kaluar bersamaan HUT 17  ( hari ini ) besok bung,” pinta Yossi saat berada di salah satu Negeri yang masih ada jaringan.

Yossi sendiri kecewa dengan kondisi mereka saat ini yang sangat memprihatinkan sejak Indonesia merdeka

“ Indonesia negara besar, saya kira 74 tahun bukan umur yang belia untuk membangun. Bukalah kelopak matamu dan pasanglah gendang telingamu berikanlah kami setitik harapan dengan usiamu yang menginjak 74 Tahun dan peluklah kami dengan kasih sayang Ibu Pertiwi,”Kesal Pria asal Negeri Manusela tersebut.

Baca Juga  Teriak Keadilan, Mahasiswa : Tol Laut di Maluku Hanya Janji Kosong

Pria yang biasa disapa Yos ini menceritakan kesulitan menenmpuh perjalanan menuju kampung-kampung yang ada di pegunungan kecamatan Seram Utara,Kabupaten Maluku Tengah yang jaraknya kurang lebih 60 KM.

“ ya saya mau hitung perjalanan  dari Negeri Kaloa ke Negeri Elemata 15 km, Negeri Elemata ke Negeri Hatuolo 15 km, Negeri Hatuolo ke Negeri Manusela 29 km dan Negeri Manusela ke Negeri Maraina 1 km.Ya bisa 60 KM baru sampai ke kampung saya,” Terang Yossi.

Dijelaskan Yossi kondisi memprihatinkan tersebut telah lama dirasakan mereka baik sebelum Indonesia merdeka maupun saat ini yang telah 74 tahun.

“ Kalau jarak jalan basar ke Negeri Kaloa itu 30 km itu sudah jalan sertuan belum di aspal. 60 km terhitung dari Negeri Kaloa ke Negeri Elemata selanjutnya Negeri Elemata ke Negeri Hatuolo dan Hatuolo Ke Manusela serta Manusela ke Maraina,”jelas mantan mahasiswa ekonomi Unpatti ini.

Tak hanya jalan yang menjadi masalah, kondisi yang memprihatinkan seperti kesehatan dan pendidikan di sejumlah perkampungan di pegunungan Seram Utara juga menjadi masalah yang sangat serius.

“ya ini mungkin sudah menjadi nasib kami yang masih terjajah meskipun telah merdeka selama 74 tahun, namun ini akan terus kami selamanya jika tidak ditanggapi secara serius,”tutup dia. (T05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here