Di Brunei Martabat Papeda Tinggi, Maluku Jangan Kalah

0
1279

Oleh: M. Ikhsan Tualeka

Ikut aktif di komunitas pengusaha muda membawa saya mendarat di Bandar Udara Internasional Brunei, Bandar Seri Bengawan. Kali ini untuk mengikuti young enterprenuer forum. Tema yang diangkat adalah; “Renewing Prospects for Growth”.

Saya dan delegasi Indonesia lainnya ikut dalam ASEAN-China Young Enterpreneur Forum yang digelar di International Convention Centre, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, hingga 7 Februari kemarin. Ini adalah forum regional yang mempertemukan para pengusaha muda dari 10 negara ASEAN, plus China.

Dari Indonesia, hadir rombongan yang cukup besar, sebanyak 35 orang yang terdiri dari utusan daerah. Selain mengikuti konferensi, para peserta dari masing-masing negara juga turut memperkenalkan dan mempresentasikan potensi bisnis yang ada di negaranya, juga mengajak para pengusaha untuk saling ber-investasi.

Tentu ada banyak cerita menarik selama kunjungan dan keikutsertaan di forum ini. Tapi yang mungkin paling berkesan dan patut diceritakan adalah ketika tuan rumah menjamu peserta makan siang di Restoran Aminah yang berada di salah satu komplek pertokoan di Bandar Seri Bengawan.

Kenapa berkesan? Karena sebelumnya saya tak menyangka akan ada hidangan spesial, Papeda. Iya, para peserta ramai-ramai makan Papeda. Makanan khas Indonesia timur yang terbuat dari endapan tepung Sagu ini ternyata juga adalah makanan khas Brunei. Tapi punya istilah atau nama yang berbeda, di Brunei, Papeda disebut Ambuyat.

Ambuyat merupakan salah satu makanan tradisional yang bukan hanya digemari oleh masyarakat atau penduduk asli Brunei, namun juga banyak digemari oleh para turis yang berkunjung ke Brunei Darussalam. Ada istilah, tak lengkap rasanya ke Brunei kalau belum mencicipi hidangan yang satu ini.

Biasanya satu set Ambuyat terdiri dari bubur sagu yang dicampur air panas mendidih, dan dimakan dengan sup ikan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan ampap ikan, hampir sama dengan ikan kuah kuning kalau di Maluku. Selain itu, Ambuyat juga disajikan dengan sambal belacan, saus tempoyak, lalapan, ikan goreng, dan sayuran lainnya.

Baca Juga  Isu Gempa Dan Tsunami, Warga Pulau Buru Kembali Naik Gunung

Sedangkan di Maluku, Papeda biasanya dimakan dengan colo-colo, yaitu kuah campuran lemon cina, tomat dan cabe rawit. Ada juga yang menyajikan Papeda dengan ikan kuah asam, kangkung dan bunga pepaya, sungguh perpaduan yang pas.

Sama seperti Papeda, Ambuyat sebelum dihidangkan digulung untuk kemudian dicampurkan dengan sup ikan dan juga sambal. Rasanya benar-benar lezat, terlebih lagi bagi yang memiliki hobi makan makanan pedas. Untuk satu porsi Ambuyat biasanya akan dinikmati oleh 3 sampai dengan 4 orang.

Hal yang membuat Ambuyat unik adalah cara menyantapnya, karena kita harus mengaduk dan menyendokkan bubur sagu tersebut menggunakan sumpit kayu atau bambu tebal yang di Brunei disebut candas. Alat makan ini kalau di Maluku di sebut gata-gata, namun hanya untuk mengaduk dan menuangkan Papeda ke piring, tapi di Brunei candas dalam bentuk yang lebih kecil digunakan untuk mengait Papeda dari piring ke mulut.

Melihat bagaimana Ambuyat diperlakukan di Brunei dengan begitu istimewa, terbersit dalam pikiran, mestinya Papeda juga dapat dikemas dan diposisikan sebagai makanan yang istimewa pula, khususnya di Maluku. Apalagi nanti kalau makan Papeda juga dilengkapi dengan candas atau gata-gata kecil, biar lebih terlihat lebih gaya.

Saya membayangkan satu saat nanti, bahkan ada hari khsusus makan Papeda. Satu hari dalam seminggu akan disepakati untuk semua rumah warga, termasuk tempat makan dan restoran menghidangkan Papeda. Atau bahan makanan utama yang dimakan hari itu berbahan dasar sagu. Ini dapat menjadi langkah penting dan startegis, selain menghidupkan lagi pangan lokal, juga menjadi solusi atas ketergantungan warga terhadap beras atau nasi.

Selain ada hari makan Papeda, atau Papeda Day, semua instansi pemerintah yang mengadakan acara atau kegiatan wajib menjadikan Papeda sebagai menu utama. Bahkan setiap tahun ada Festival Papeda di mana dalam festival ini warga bisa berbondong-bondong datang membawa berbagai panganan berbahan dasar Sagu, untuk dilombakan dan dimakan bersama, seperti makan Patita.

Bila ide ini berjalan, sehingga Papeda diangkat lagi dan menjadi kegemaran masyarakat, –tidak seperti fenomena saat ini kerap dianggap makanan pinggiran– tentu ekonomi warga juga ikut tumbuh dan berkembang. Hutan-hutan Sagu yang selama ini seperti tak bernilai, akan menjadi sumber ekonomi warga, seiring tingginya permintaan pasar.

Baca Juga  Keterampilan Multikultural, Catatan 20 Tahun Konflik Maluku

Lebih positif lagi karena Papeda atau Sagu juga dikenal memiliki kandungan nutrisi yaitu karbohidrat murni yang masuk dalam kategori makronutrien yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak untuk bahan energi dan fungsi otak. Sagu mengandung lemak jenuh yang rendah. Sagu juga tak membutuhkan pupuk kimiawi sehingga tergolong makanan organik yang sehat dan ramah lingkungan.

‘Martabat’ Papeda juga bukan hanya soal makanan, tapi juga tradisi. Sebagai bagian dari khasanah bahan pangan lokal Sagu memiliki nilai budaya, nilai ekonomi, nilai solidaritas, hingga nilai konservasi. Makanan memang bukan lagi sebuah produk yang anonim; makanan mencerminkan hubungan ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya.

Meski begitu, Sagu sampai hari ini belum dimanfaatkan secara maksimal, baik secara alami maupun budidaya. Padahal masyarakat di Maluku dan Papua secara turun temurun mengonsumsi Sagu. Sagu mestinya jadi solusi untuk mengatasi krisis pangan. Bahkan ada kajian sagu juga dapat mengatasi krisis energi, sebagai bioetanol.

Itu artinya, Papeda atau Sagu sebagai pangan potensial sudah waktunya diberi proporsi. Sosialisasi Papeda yang semakin gencar baik di dalam maupun di luar negeri diharapkan mampu membukakan mata banyak orang bahwa makanan dari Indonesia Timur ini tak kalah dengan makanan dari wilayah Indonesia lainnya. Sudah saatnya Papeda punya posisi yang sama dengan Ambuyat di Brunei.

Pikiran yang menerawang hingga ke tanah air akhirnya tersadar, saat salah satu rekan mencolek saya, kalau kita sudah harus balik ke lokasi kegiatan karena sesi konferensi akan segera dimulai. Kami pun segera menuju bus panitia yang diparkir tak jauh dari restoran.

Balik menuju International Convention Centre, Bandar Seri Begawan, kami menyusuri kota yang sepi. Sekalipun ibu kota negara, Ambon masih terlihat lebih ramai dan sibuk dibanding Bandar Seri Begawan. Walau begitu kota ini telah menyadarkan saya arti dan pentingnya ‘martabat’ Papeda kembali ditinggikan.(*)

Baca Juga  Fourth of July, Terbang ke Amerika

Penulis adalah Direktur Beta Kreatif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here