Hela Rotan, Tradisi Besar yang Masih Sepi

0
1279

Tabaos.id,- Maluku adalah daerah yang memiliki banyak tradisi, dan dalam era kekinian mestinya dapat menjadi bagian penting dalam memajukan sektor pariwisata. Seperti halnya juga dengan tradisi Hela Rotan di Negeri Aboru, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Siang itu (2/01) ribuan warga Negeri Aboru yang dibagi dalam dua kelompok, yakni warga matahari naik dan matahari turun, saling tarik-menarik lebih dari 300 meter ikatan tumpukan rotan. Setelah tarik menarik selama beberapa kali, dan kelompok yang menang saling bergantian, tapi tak ada ekspresi kecewa bila ada yang kalah, yang ada adalah semua larut dalam kegembiraan.

Setelah puas berlomba tarik menarik atau Hela Rotan, tumpukan rotan itu kemudian dipikul dan diarak keliling negeri. Terdengar juga teriakan mena-muria yang adalah bahasa asli orang Maluku untuk saling menyemangati. Tiga kali putaran berkeliling, di ujung acara rotan-rotan itu ditenggelamkan di laut membentang dari ujung timur hingga barat negeri adat itu, sebagai simbol menolak bala.

Terlihat semua orang bersuka-ria, apalagi setelah rotan ditarik untuk ditenggelamkan di laut, para pemuda saling bersenda gurau, basah-basahan. Beberapa penonton dipinggir pantai juga ditarik untuk ikut berendam bersama.

Kegiatan ini sebenarnya bisa jadi ajang festival pariwisata, karena selain unik, juga kolosal sehingga bisa menarik wisatawan dan tentu dapat berimplikasi bagi perekonomian masyarakat setempat. Hal ini bisa saja terjadi, jika mau dikelola dengan benar, serta didukung dengan perkembangan ekonomi kreatif lainnya.

Sayang lagi-lagi pemerintah tidak hadir alias terkesan tidak peduli, sehingga tak mampu melihat potensi ini. Padahal Hela Rotan selain adalah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, juga punya nilai filosofi dalam mempersatukan 4 negeri adat Salam-Sarane di Nusa Ama atau Pulau Haruku, terlihat dari 4 ikatan rotan yang mewakili, Negeri Aboru, Pelauw, Rohmoni dan Oma.

Baca Juga  Habitat Burung Maleo di Negeri Kailolo akan didorong BKSDA Jadi Kawasan Ekosistem Esensial

Tradisi yang juga adalah kearifan lokal ini wajib dilestarikan, sebagai sarana memperkuat kohesi sosial, dan juga punya implikasi terhadap pelestarian lingkungan, karena mau tak mau alam dan hutan mesti dijaga, sebab rotan-rotan sebagai medium utama acara ini mesti selalu tersedia.

Andaikan saja pemerintah mau punya perhatian, event yang diikuti oleh ribuan orang ini mestinya menjadi bagian dari salah satu kalender pariwisata, sehingga banyak dihadiri wisatawan, domestik dan mancanegara.(T01)

Tulisan ini diolah dari catatan Ikhsan Tualeka dilaman Facebook-nya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here