Ikhsan Tualeka, Sang ‘Radikal’: Catatan Pendek Memaknai Hari Jadi

0
1502

”Dari semua yang Kaka Ikhsan lakukan, beta lihat dan harus akui, adalah untuk Maluku.”

Oleh: Collin Lepuy 

Hari ini adalah momen spesial bagi salah satu sosok anak muda inspiratif dari Maluku yang beta kenal dekat dalam beberapa tahun terakhir ini. Beta ingin turut memaknainya dengan menulis satu catatan pendek, semacam testimoni.

Cerita berawal dari tahun 2010, ketika itu beta adalah seorang mahasiswa semester 1 pada Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP UKIM. Waktu itu beta tengah sibuk atau turut mengadvokasi kasus korupsi yang melibatkan mantan Bupati Aru, Theddy Tengko senilai 42,5 milyar.

Saat itu kasus tersebut memang ramai diberitakan di hampir semua media mainstream di Kota Ambon, termasuk pula di media nasional. Menjadi perhatian karena disoroti banyak pemerhati korupsi dan pembangunan termasuk pakar hukum.

Tak ketinggalan Ikhsan Tualeka, yang kala itu aktif dalam advokasi isu demokratisasi, Hak Asasi Manusia termasuk pemberantasan korupsi, melalui MDW yang dipimpinnya. Kasus mantan Bupati Aru di atas juga tak luput dari perhatiannya.

Mungkin karena ada dalam kegelisahan intelektual dan visi yang sama atas sejumlah problem di Maluku. Beta menjadi lebih tertarik dengan sosok yang sering atau akrab beta panggil dengan Kaka Ikhsan ini.

Kami, akhirnya dipertemukan. Tentu beta yang adalah anak belia di dunia aktivis ketika itu merasa senang bisa bertemu langsung dengan seorang aktivis HAM dan Demokrasi Maluku yang punya rekam jejak yang menurut beta prestisius itu.

Relasi aktivisme itu menjadi semakin kental tatkala kita secara bersama-sama menyoroti sejumlah kasus, baik korupsi, krisis lingkungan maupun pelanggaran HAM. Beta pun menimba banyak pengalam baru, terutama soal bagaimana melakukan advokasi dan monitoring dengan baik dan efektif.

Singkat cerita, kami pun akrab bukan saja sebagai sesama aktivis dalam menyoroti berbagai krisis di Maluku tetapi lebih dari itu. Keakraban sebagai kakak beradik hingga sekarang ini.

Beta bahkan diajak ikut pulang kampung dan nginap di rumah Kaka Ikhsan di Pelauw, Negeri adat yang eksotis. Satu negeri yang beta tahu masyarakatnya bersaing untuk menyekolahkan anak-anaknya ketimbang membangun rumah yang megah.

Meski demikian, bukan berarti beta dan Kaka Ikhsan tidak pernah berbeda pendapat tentang sesuatu hal. Perbedaan pendapat beberapa kali muncul, namun itu hanya terkait cara pandang kita terhadap sebuah isu publik.

Dalam perjalanan relasional itu, beta selalu pelajari apa, siapa dan bagaimana sosok yang bernama Ikhsan Tualeka ini dalam berpikir dan bertindak, termasuk mazhab paham apa yang mempengaruhi pemikirannya.

Dari semua yang Kaka Ikhsan lakukan, beta lihat dan harus akui, adalah untuk Maluku. Sebagai orang yang bersahabat baik dengannya, beta berkesimpulan bahwa “Ikhsan Tualeka adalah Seorang Radikal”. Mengapa bisa?

Ya benar, Kaka Ikhsan adalah seorang yang radikal. Radikalisme dalam konteks yang positif, yang tertambat dalam pikirannya itu akan muncul menjadi kekuatan moral yang sangat kuat tatkala ia menyaksikan ketidakadilan, pelanggaran HAM dan krisis lingkungan yang terjadi, apalagi di Maluku, negeri tempat asalnya.

Ia bahkan tak segan-segan mengadvokasi kasus hingga berujung dihukumnya pejabat yang korup, tak lain karena berharap tata kelola pemerintahan di Maluku lebih baik. Lewat tulisan-tulisannya berbagai persoalan dikemukakan dan menjadi diskursus publik.

Ia juga berani menentang praktik ketidakadilan terjadi, hingga ikut turun ke jalan bersama adik-adik Mahasiswa, seperti saat mendorong agar ada perhatian pemangku kewajiban atas kasus gizi buruk di Pulau Seram.

Bahkan ia juga getol mengkritisi kebijakan Pemerintah Pusat, khususnya Presiden apabila Maluku dianaktirikan dalam berbagai kebijakan pembangunan. Pandangan kritiknya itu bisa dibaca secara rutin di media sosialnya, terutama Facebook, yang kadang dibagikan hingga ratusan bahkan ribuan kali oleh warganet.

Seperti dapat dilihat dalam surat terbuka yang Kaka Ikhsan tulis kepada Menkopolhukam Wiranto, yang diberi tajuk Surat Cinta. Surat untuk mengkritisi paradigma pemerintah dalam hal ini Wiranto dalam melihat penanganan Gempa di Maluku tahun 2019 itu viral hingga Kaka Ikhsan diundang membahasnya di Studio Kompas TV.

Jauh sebelum itu, sekira tahun 2011, pada usia masih tergolong muda, di bawah 30-tahun, Kaka Ikhsan bahkan sudah diundang oleh salah Radio Netherland Wordwide (RNW) di Belanda untuk diwawancarai dan mengupas banyak hal tentang Maluku. Video yang bisa diakses melalui Youtube itu pun telah ditonton puluhan ribu kali.

Kaka Ikhsan selain karena menjadi Finalis ajang The Next Leaders di Metro TV, juga karena aktivitasnya dalam pemajuan HAM dan demokrasi di Maluku menjadikannya diundang mengikuti International Visitor Leadership Program di Amerika Serikat. Termasuk undangan di sejumlah negara lain di Eropa, Asia bahkan Afrika.

Publik tentu ada juga yang tahu kalau Kaka Ikhsan bersama mendiang Glenn Fredly, turut menggarap film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Kaka Ikhsan juga menjadi Eksekutif Produser film Salawaku, sebuah film yang juga mengambil setting di Maluku.

Apa dasar semua itu? Apa yang menggerakkannya untuk melakukan semua aktivisme itu? Tentu semuanya karena kegelisahan intelektualnya kepada Maluku, negeri yang ia cintai. Semua situasi problematik pembangunan di Maluku membuatnya bertumbuh menjadi seorang radikal sejati, memilih berjuang demi tanah leluhurnya ini.

Dengan kata lain, Negeri Maluku yang termarjinalkan dan terisolasi ini telah melahirkan seorang ‘Kapitang’ yang radikal dan siap berhadap-hadapan dengan siapa pun hanya demi 6 huruf: M A L U K U.

Selamat ulang tahun kaka sayang, Sang Radikal, semoga kaka selalu sehat dan dirahmati Allah SWT. Mari katong sama-sama terus melangkah dan melahirkan kaum radikal berikutnya, yang mau dan mampu untuk terus memperjuangkan kepentingan Maluku. Hormatee

Dobo, 22 Juli 2021

Penulis adalah aktivis muda Maluku asal Aru. Catatan ini diambil dari akun Facebook-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here