In Memoriam: Perginya Om Dokter Atihuta

0
1314

Oleh: Bethfy Sohilait

Ketika terang berpacu dengan gelap. Saat semua orang sudah terlelap. Dari kejauhan terdengar suara rintihan. Mimpikah, ataukah ini hanya sebuah khayalan belaka.

Sembari menenangkan diri, namun suara itu kembali terdengar lagi, agak mengganggu malam itu. Rupanya suara rintihan yang sepintas terdengar itu adalah satu isyarat menghantar kepergian-nya.

Di Minggu dini hari, 20 September 2020. Tepat pukul 01.15. Seorang pribadi baik, yang akrab kami sapa Om dokter, pergi menghadap Sang Pencipta.

Sosok yang gagah dan pandai, jebolan Fakultas Kedokteran, Universitas Hasannudin Makasar Angkatan II, saat itu adalah mahasiswa urutan ke-5. Menunjukan peringkat yang mumpuni di antara rekan-rekan seangkatannya.

Usai menempuh studi, tak seperti sejumlah koleganya yang lain, ia memilih kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan diri. Itu Karena cinta akan daerah asalnya Maluku.

Dokter yang bersahaja ini bersama sejumlah rekannya. Diantaranya almarhum Ir. L Nanlohy (Rektor pertama Universitas Pattimura) membangun Fakultas Teknik/FTA yang kemudian merupakan cikal bakal dari Universitas Pattimura.

Om dokter selain pernah menjabat Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Pattimura, bahkan hingga menjabat rektor di kampus yang sama mengantikan almarhum Dr. Ir. L. Lawalata, hingga terpilihnya rektor baru, Prof. Dr. Ir. J.I. Nanere. Fase prestisius di kampus tertua di Maluku itu.

Om dokter saat itu tercatat sebagai satu-satunya dokter di Maluku yang memiliki NIP 130. Tidak saja itu, sebagai seorang akademisi, beliau pun ada dalam deretan politisi kawakan.

Bahkan pernah menjadi Ketua DPRD Kota Ambon dua periode dari Partai Golkar. Om dokter yang multitalenta ini pun adalah salah satu pengusaha yang berkiprah di bidang pariwisata.

Hal yang turut memberikan kontribusi dalam mewarnai iklim parawisata Maluku. Ia dengan Hotel Cendrawasih-nya di Jalan Tulukabessy berjaya pada era tahun 80 hingga 90-an, termasuk hotel dan restoran di kawasan Pantai Natsepa.

Baca Juga  Aksi Mahasiwa Ternate yang Berujung Drop Out, Menggugat ke PTUN

Namun di balik semua kiprahnya itu, beliau tidak melupakan kodratnya sebagai seorang dokter. Sepajang hidupnya terus mengabdi dan menjalani profesi agungnya itu.

Om dokter juga tercatat pada tahun 1964 turut diberi kepercayaan untuk mendirikan poliklinik kesehatan di Sekolah Tinggi Teologia —sekarang Universitas Kristen Malaku—, yang melayanai hampir seantero Maluku.

Rumah Sakit Sumber hidup juga pernah mendapat sentuhan tangan dingin Om dokter. Berlangsung selama kurang lebih 10 tahun, mulai dari tahun 1978 hingga 1988.

Om dokter adalah sosok yang tegas, disiplin, namun di balik semua itu, beliau seorang penuh kasih. Ada banyak testimoni yang memberikan kesaksian, bahwa kerap kali pasien yang beliau layani hanya dengan imbalan terima kasih.

Pasien Om dokter dari semua kalangan dan golongan, Salam maupu Sarani. Bahkan ada cerita yang fenomenal, karena terkadang ada pasien yang datang belum minum obat, mengaku sudah sembuh.

Begitu kesaksian sejumlah pasien yang datang ke tempat praktik. “Dong sakit, tapi datang ke dokter, baru lihat dokter saja dong panas sudah turun”, begitulah kalau diungkapkan dengan dialeg orang Ambon.

Dokter bersahaja yang selalu tampil rapih dengan baju putih kebesarannya. Dengan gantungan Stateskope di lehernya, selalu sigap dan menyapa pasien denga logat Saparua-nya yang kental.

Om dokter telah pergi untuk selamamya, namun kebaikan kasih sayang dan pelayanan sebagai dokter, akademisi, politisi dan pengusaha, akan tetap terpatri dalam sanubari kami semua yang pernah mengenal mu.

Terima kasih banyak atas jasa dan bakti mu bagi negeri ini. Bagi masyarakat Maluku, khususnya di Kota Ambon, terlebih bagi kami dan keluarga.

Kami memohon maaf, bila ada tutur kata, atau tindakan yang menyinggung bahkan menyakiti mu. Terima kasih pula untuk Ma Chossy dan anak cucu yang selalu memberi support bagi Om dokter untuk turut membangun Maluku.

Baca Juga  Cerita sosok Serka La Adam, Babinsa yang mengajar puluhan siswa putus sekolah di Desa Funanayaba, Pulau Seram

Selamat jalan Dokter kami, Dokter Filipus Atihuta. Doa kami mengiringi kepergian mu, jasa dan pengabdian mu akan terus dikenang dan terkenang.

Ambon, 21 September 2020

dr. F. Atihuta adalah dokter bagi penulis dan keluarganya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here