Keluarga Cemara dan Kesederhanaan

0
256

Oleh: Almudatsir Sangadji*

Keluarga Cemara, serial judul film di tahun 1990-an, diangkat kembali ke layar lebar. Film keluarga yang mengisahkan kesederhanaan keluarga kecil. Aba, ayah dari 2 anak, dan seorang Emak, yang di akhir cerita melahirkan anak ketiganya.

Awalnya Abah adalah pengusaha kaya dan tinggal di Jakarta. Sayangnya, usahanya tak berjalan lancar. Terpaksa Abah harus merelakan semua hartanya untuk membayar ganti rugi. Sebenarnya Abah bisa saja berkelit, tapi kejujuran baginya lebih penting. Hanya Emak dan Euis yang sempat menikmati kehidupan mewah itu.

Aba diperankan Ringgo Agus Rahman dan Emak dilakoni Nirina Jubir. Dua sosok yang dengan penjiwaan cukup baik, memainkan peran pergulatan bathin orang tua, saat mereka harus berhadapan dengan kehidupan yang berubah drastis.

Bisnis yang bangkrut, rumah disita dept colector, dan hanya dalam sehari kehidupan mereka berubah 180 derajat. Itu terjadi bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun ke 13, anak pertama mereka, Euis.

Keluarga Cemara yang tayang di layar lebar, sepertinya mengambil alur mundur kehidupan. Bisnis yang bangkrut, dan kehidupan yang berubah, adalah pesan yang kuat dalam film ini. Beda dengan kesederhanaan Aba dalam serial layar kacanya, Aba dalam layar lebar, adalah aba yang mengalami kejatuhan secara finansial dan berusaha menguatkan anak-anaknya untuk tetap kuat dan punya martabat dalam hidup.

Euis yang telah remaja mengalami keadaan ini lebih berat. Dia memahami keadaan yang berubah, dan berusaha beradaptasi dengan kondisi ini di sekolah dan kehilangan teman-teman lamanya di kota, karena mereka harus balik ke desa tinggal di rumah kakek mereka yang telah meninggal.

Euis mengalami situasi dari keadaan yang terproteksi karena hidup berkecupan sebelum ayahnya bangkrut kepada situasi kehidupan yang lebih terbuka. Dia harus berjualan kerupuk di sekokah untuk membantu keuangan keluarga.

Baca Juga  Saatnya Menjaga Daerah Aliran Sungai di Pulau Ambon

Adiknya, yang berusia 7 tahun, menikmati kehidupan alam di kampung. Dia tidak mengalami lompatan perubahan yang sedemikian terjal seperti Euis, kakaknya. Perubahan finansial berdampak pada pribadi Eusi yang telah remaja dan lingkungan sosialnya yang rumit, terutama di sekokah.

Film ini menguras air mata penonton. Memberikan perspektif yang berbeda, dari film-film lainnya. Gaya hidup, fanatasi dan romantisme kadang-kadang sangat dominan dalam film kekinian. Dalam Keluarga Cemara, sisi lain dari kehidupan ditegaskan kembali: kesederhanaan dan kasih sayang.

Keluarga adalah harta yang paling indah dan berharga adalah pesan dari film ini. Aba yang sibuk, karena mengurus bisnis, bahkan tak punya waktu untuk anak-anaknya. Aba yang bangkrut, yang kembali mengajak anak-anak dan istrinya ke kampung, bisa lebih punya waktu bersama keluarga: anak-anak dan istrinya.

Kisah Keluarga Cemara barangkali mewakili definisi keluarga seperti yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Menggelinding 1 (2004): “Lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan”.

Di luar kekurangan harta benda, kehidupan Keluarga Cemara banyak disebut sebagai contoh keluarga Indonesia yang ideal. Film ini layak ditonton. Layak menjadi inspirasi bagi keluarga kecil saat ini yang membutuhkan perspektif luhur dalam kesederhanaan.

*Penulis adalah intelektual muda, tulisan ini diambil dari laman Facebook-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here