Melanesia Bersatu: Membangun Kesadaran Identitas, Maju Bersama

0
2273

”Di Indonesia, sebagai sebuah identitas, Melanesia tampaknya belum diperkenalkan secara jelas dan gamblang di bangku-bangku sekolah, hanya kerap diidentifikasi sebagai orang-orang Indonesia Timur. Makanya kata Melanesia masih asing bagi telinga orang Indonesia.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Ada tampilan yang berbeda secara fisik, yang sejatinya memberikan petunjuk terhadap ras yang berdiam di pulau-pulau yang membentang dari Nusa Tenggara Timur, kepulauan Maluku, melintasi tanah Papua hingga ke kepulauan Fiji. Ras ini kemudian dikenal sebagai Melanesia.

Pengelompokan Melanesia sebagai wilayah yang berbeda dengan wilayah lain, awalnya datang dari para penjelajah Eropa ketika melakukan ekspedisi menjelajahi Pasifik. Secara umum, ras Melanesia merupakan ras yang berkulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat, serta memiliki profil tubuh atletis. Mengutip artikel Tony Firman di Tirto.id (2016).

Dalam artikel yang sama, dituliskan bahwa pada 1756 Charles de Brosses berteori bahwa ada orang-orang ras kulit hitam yang mendiami wilayah Pasifik. Selanjutanya tahun 1825 Jean Baptiste Bory de Saint-Vincent dan Jules Dumont d’Urville mengidentifikasi ras itu sebagai Melanesia, merujuk pada sekumpulan ras yang berbeda dari ras penghuni wilayah sekitarnya seperti ras Australian dan Neptunian.

Sementara Robert Codrington pada abad-19 dalam sejumlah karyanya, seperti The Melanesian Languages (1885) dan The Melanesians: Studies in Their Anthropology and Folk-lore (1891), mendefinisikan Melanesia itu termasuk wilayah Vanuatu, Kepulauan Solomon, Kaledonia Baru dan Fiji. Sedangkan Nugini baru dimasukan ke ras Melanesia oleh para peneliti antropologi dalam studi-studi berikutnya.

Seiring dengan waktu, orang Eropa semakin melihat Melanesia sebagai kelompok masyarakat yang berbeda budaya, bukan lagi sekadar berbeda ras dan daerah. Codrington, bahkan menghasilkan serangkaian monograf pada orang Melanesia berdasarkan lama waktu mereka tinggal di wilayah tersebut.

Prof. Harry Truman Simanjuntak, Arkeolog senior dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, penulis Buku “Diaspora Melanesia di Nusantara”, menyebutkan sejak ribuan tahun lalu, sudah ada interaksi di antara ras Melanesia, jika dilihat dari peninggalan-peninggalan atau bukti-bukti arkeologi di Papua Nugini menyebar hingga Maluku, Maluku Utara, dan wilayah di sekitar itu.

Masih menurut Simanjuntak, perkembangan ras Melanesia di Papua sudah ditemukan buktinya sejak 45.000 tahun lalu, sementara di Indonesia secara umum bukti peninggalan sejarahnya pun sudah ditemukan sejak 45.000-50.000 tahun lalu. Sedangkan di Australia lebih lama lagi, sudah ada sejak 50.000-60.000 tahun lalu.

Saat ini, secara populasi, ras Melanesia lebih banyak bermukim di wilayah yang diklaim sebagai Indonesia. Merujuk pada data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tahun 2015, jumlahnya ras Melanesia bisa mencapai 13 juta jiwa di negara yang mayoritas populasinya tergolong ras Mongoloid yang tersebar Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan ras Melanesia tersebar lima provinsi di kawasan timur Indonesia, meliputi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Adapun jumlah penduduk Melanesia di negara-negara lainnya, bila digabungkan sekira sembilan juta Jiwa. Tersebar di Negara Papua Nugini, Timor Leste, Vanuatu, Kaledonia Baru, Kepulauan Salomon, serta Fiji.

Di Indonesia, sebagai sebuah identitas, Melanesia tampaknya belum diperkenalkan secara jelas dan gamblang di bangku-bangku sekolah, hanya kerap diidentifikasi sebagai orang-orang Indonesia Timur. Makanya kata Melanesia masih asing bagi telinga orang Indonesia.

Belakangan Melanesia mulai diperkenalkan dan dikonsolidasikan. Pada Oktober 2015, diadakanlah Melanesian Culture Festival atau Festival Budaya Melanesia untuk pertama kalinya, dan Indonesia didapuk sebagai penyelenggara. Sesuatu yang merupakan manifestasi dari mulai terbangunnya kesadaran kolektif.

Indonesia dipilih sebagai tuan rumah dengan pertimbangan sekitar 80 persen penduduk yang disebut Melanesia bermukim di wilayah Indonesia. Sebagaimana disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Kacung Marijan, dikutip dari Antara.

Adalah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang menjadi tempat pelaksanaan festival. Kegiatan tersebut dihadiri para pemangku kepentingan bidang kebudayaan dan seniman dari Indonesia, Fiji, Papua Nugini, Pulau Solomon, Timor Leste, Vanuatu dan Kaledonia Baru, serta sejumlah perwakilan dari Melanesian Spearhead Group (MSG) yang berpusat di Vanuatu.

Dalam acara itu, disuguhkan berbagai macam kebudaayaan dari masing-masing wilayah Melanesia, terutama dari kawasan timur Indonesia. beragam tarian, seperti tarian suku Molow di Timor Tengah Selatan, tarian dari Papua, Maluku dan kepulauan di NTT. Juga diadakan pemutaran film bertema Melanesia.

Sayang nuansa kepentingan tuan rumah atau setidaknya kepentingan luar negeri Indonesia sulit ditepis. Wajar saja karena kegiatan itu turut difasilitasi oleh pemerintah Indonesia, yang ditengarai sebagai salah satu instrumen atau upaya untuk melunakkan sejumlah dukungan negara di Pasifik terhadap isu Papua.

Terlepas dari kecurigaan itu, yang pasti upaya itu telah menjadi embrio bagi lahirnya kesadaran komunitas bangsa Melanesia untuk terus membangun komunikasi dan konsolidasi. Antara lain guna menjalin kerjasama lebih strategis dalam berbagai bidang, seperti; pendidikan, kebudayaan, sosial dan ekonomi.

Apa yang terjadi sejauh ini baru pada tataran kerjasama antar pemerintah, dan itu baru sebatas oleh organisasi MSG, dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kedepan tentu perlu ada konsolidasi yang lebih kuat dan makin maju, terutama yang terbangun atas inisiatif dari kalangan masyatakat sipil. Para intelektual muda orang Melanesia (Melanesian) harus mau membuka diri dan pikiran, guna membangun langkah-langkah konsolidatif yang lebih nyata dan terukur.

Momentum yang ada jangan dibiarkan berlalu. Kesadaran akan identitas bersama sebagai sebuah kesatuan bangsa Melanesia, selain dapat mengakomodir tujuan-tujuan strategis kolektif, secara politik bisa menjadi alat untuk penjaga keseimbangan pembangunan dan distribusi keadilan, terutama terhadap 80 persen Melanesian yang ada di kawasan timur Indonesia, yang terkesan masih termarjinalkan oleh pemerintah setempat.

Meningkatnya kesadaran kolektif terhadap identitas bersama, sementara pemerintah Indonesia hanya fokus dan sibuk pada berbagai persoalan di Jawa atau kawasan Indonesia bagian barat lainnya, kemudian cenderung mengabaikan kawasan timur, bukan tak mungkin akan memicu lahirnya nasionalisme baru, berbasis bangsa-bangsa Melanesia yang mengejutkan. Melanesia, bersatulah.

Ambon, 2 Juli 2020

Penulis adalah Founder IndoEast Network dan inisiator Melanesian Young Leaders Forum (MYLF) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here