Membaca Fenomena Fashion Street Ala Anak Muda SCBD

0
1114

“Fenomena ini semacam gayung bersambut, di satu sisi anak anak ini perlu ruang aktualisasi, dan pada sisi yang lain itu tersedia tempat tongkrongan baru dengan suasana seperti di luar negeri.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Beberapa waktu terakhir ini publik dijejali dengan informasi atau pemberitaan tentang Citayam Fashion Week dan pengaruhnya, terutama di media sosial. Fenomena ini setidaknya dilatarbelakangi karena berbagai faktor.

Pertama, Ini dampak dari semakin majunya teknologi digital. Apa yang dilakukan anak-anak ini yang mungkin hanya sekadar nongkrong, iseng, dan mengaktualisasi diri, namun karena majunya teknologi digital yang mempublikasi secara masif, akhirnya menyita perhatian publik dan menjadi trend baru.

Jelas saja, karena jika hal ini terjadi ketika teknologi belum begitu maju, mereka yang hanya sekedar nongkrong, wara-wiri kemudian pulang, peristiwanya akan menguap begitu saja. Namun karena majunya teknologi digital, aktifitas mereka kemudian viral, membekas dan meninggalkan jejak di pengguna media sosial.

Kedua, dibangunnya berbagai ruang publik, seperti di kawasan Sudirman Jakarta telah menjadi destinasi baru bagi ‘turis lokal’, terutama bagi anak-anak muda dari pinggiran jakarta yang notabene tinggal di kawasan yang tidak sebagus destinasi baru yang mereka temukan itu. Jadilah tempat tongkrongan.

Fenomena ini semacam gayung bersambut, di satu sisi anak anak ini perlu ruang aktualisasi, dan pada sisi yang lain itu tersedia di pusat kota (baca: kawasan Sudirman-Thamrin), mereka jadi punya tempat tongkrongan baru dengan suasana seperti di luar negeri.

Anak-anak muda ini sebelumnya hanya bisa melihat suasana modern dan asri seperti di Hongkong, Singapura, Kuala Lumpur, Seoul, dll itu lewat TV, film atau media sosial. Namun kini hanya dengan modal ongkos kereta yang tak sampai 50 ribu sudah dapat merasakan nuansa destinasi semacam di ‘luar negeri’, di kawasan Sudirman.

Baca Juga  Tak Jalankan Tugas, Bripka Riupassa Resmi Diberhentikan Sebagai Anggota Polisi

Apalagi kawasan ‘nongkrong baru’ anak-anak SCBD ini kerap kali terlihat begitu ‘kontras’ dengan penampilan, gaya berpakaian atau fashion yang mereka tampilkan, bila tak mau disebut modern vs ‘norak’. Sehingga ketika didukung dengan kemampuan photography atau filter aplikasi di gadget penampilan mereka terlihat begitu menarik perhatian.

Dalam kadar tertentu juga sejatinya menunjukan adanya disparitas pembangunan antara pusat kota (Jakarta) dengan kawasan pinggiran (Citayam, Bogor, Depok/CBD). Karena jika ditelisik kembali, kenapa Citayam Fashion Week ini trennya di kawasan Sudirman, dan bukan di CBD, atau kawasan lain seputaran Jakarta.

Ketiga, fenomena ini menunjukan adanya semacam kritik sosial. Bahwa selama ini kerap kali fashion diartikan dan dikaitkan hanya milik kelompok elit atau supermodel saja. Ternyata tidak, fenomena ini menunjukan bahwa fashion ngak melulu untuk orang- orang golongan tertentu saja, tapi fashion ini milik semua orang.

Namun yang paling penting dan menjadi inti dari fenomena CFW adalah, ada anak-anak muda yang menemukan ruang untuk aktualisasi diri. Karena mungkin saja ada bakat- bakat yang selama ini terpendam pada akhirnya menemukan panggung dan tersalurkan.

Apalagi fenomena ini menjadi semakin menguat karena industri yang digerakan oleh media sosial mulai masuk, melibatkan anak-anak muda ini sebagai konten, diundang di acara TV, juga untuk meng-endorse produk tertentu. Punya efek ekonomi.

CFW memang telah menjadi satu fenomena baru, yang bahkan mulai diduplikasi di sejumlah kota. Lama-tidaknya fenomena ini waktu juga yang akan mengujinya, sapa tau hanya sekadar cendawan yang tumbuh di musim hujan, saat kemarau pun hilang ditelan bumi.

Penulis adalah pegiat sosial