Mengenang 20 Tahun ‘Pawai Damai’ Pemuda Islam dan Kristen dari Hatuhaha Sebagai Martir Perdamaian Maluku

0
1870

“Ada semacam ‘Sensasi Spiritual’ dan kepuasan batin luar biasa yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang ikut dalam rombongan ‘Pawai Perdamaian’ ketika itu.” 

Oleh: Fadly Tuaputty

Saat ini mungkin tidak banyak lagi warga Maluku yang ingat dengan peristiwa luar biasa yang pernah terjadi di Kamis 28 Februari 2002, ketika tepat di 20 Tahun lalu itu. Ratusan Pemuda Islam dan Kristen HATUHAHA rela “bertaruh nyawa” melakukan aksi damai berupa PAWAI PERDAMAIAN menyusuri beberapa ruas jalan utama di Kota Ambon yang masih mencekam.

Melintasi wilayah dua komunitas yang terlibat dalam Konflik Kemanusiaan yang telah merenggut ribuan korban jiwa, ratusan ribu orang mengungsi dan eksodus ke tempat/daerah lain karena kehilangan tempat tinggal. Puluhan Negeri dan Kampung musnah terbakar dalam amarah dan dendam antar sesama orang basudara di Provinsi Seribu Pulau ini.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Konflik Horizontal berkepanjangan yang pernah melanda Maluku dengan melibatkan dua komunitas berbeda keyakinan (Muslim dan Nasrani) dan telah berlangsung lebih dari dua tahun ketika itu. Bukan saja telah meluluhlantakkan hampir seluruh aspek kehidupan orang Maluku, tapi juga telah “menggetarkan Indonesia”, dan mungkin juga dunia.

Kota Ambon sebagai ibukota provinsi yang menjadi awal dan pusat konflik, seketika berubah menjadi “kota hantu”. Kota Ambon yang lebih terkenal dgn sebutan “Ambon manise” itu telah benar-benar menjadi semacam “ladang pembantaian” (Killing Ground) bukan saja bagi kedua pihak yang bertikai, tapi juga bagi siapa saja. Termasuk aparat keamanan/TNI-Polri yang bertugas di sana. Entah berapa banyak korban berjatuhan dari pihak Aparat Keamanan kala itu. Baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka.

Dan untuk mengatasi konflik Maluku yang sangat berdarah itu, Pemerintah RI mengerahkan puluhan ribu personel TNI dari berbagai kesatuan terbaik yang dimiliki negara. Bahkan sampai harus membentuk Satuan Gabungan Khusus (YonGab) yang terdiri atas prajurit-prajurit pilihan dari beberapa Kesatuan Elite TNI yang terkenal “sangat tegas” dan cenderung bengis itu.

Status Pemerintah Provinsi Maluku pun terpaksa harus “naik level” menjadi Pemerintah Darurat Sipil. Bahkan Presiden RI yang ketika itu dijabat Megawati Soekarnoputri sampai harus turun langsung ke Ambon guna mencoba menengahi konflik. Namun konflik Maluku yang telah menjadi seperti benang kusut itu tetap saja membara.

Ironisnya. Aparat Keamanan yang seharusnya netral dalam bertugas mengamankan konflik, baik yang Organik maupun yang BKO, justru secara personal banyak yang terkontaminasi dan ikut terlibat dalam Konflik yang sangat menyengsarakan rakyat Maluku ketika itu.

Baru kemudian setelah Perjanjian Malino II di bawah arahan Jusuf Kalla sebagai Menko Kesra RI (waktu itu) disepakati dan ditandatangani oleh para pihak yang mewakili semua elemen masyarakat dari dua Kelompok Umat yang bertikai. Orang kemudian baru boleh berani mengucapkan kata Perdamaian, yang ketika itu seolah menjadi kata yang sangat tabu dan “Tidak boleh diucapkan”.

Sosialisasi butir-butir Perjanjian Malino II pun mulai dilakukan di dua komunitas. Di Komunitas Muslim sendiri sosialisasi baru bisa dilakukan di Pelataran Masjid Al Fatah Ambon pada Kamis 28 Februari 2002, yang juga diikuti oleh ratusan Pemuda Muslim yang khusus datang dari empat Negeri di HATUHAHA (Pelauw, Kailolo, Kabauw, dan Rohomoni) pada satu hari sebelumnya, Rabu 27 Februari 2002.

Usai mengikuti sosialisasi di Pelataran Masjid Al Fatah Ambon, para Pemuda Empat Negeri itu pun langsung berjalan menuju ke Wijaya Hotel I di Jl Said Perintah Ambon untuk menjemput Pemuda-pemuda Kristen HATUHAHA dari Negeri Hulaliu yang diinapkan sementara di sana. Untuk bersama berjalan kaki menyusuri Jln. Said Perintah, Jln. A.M. Sangaji, berbelok ke Jln. A.Y. Patty, dan seterusnya menuju Kantor Gubernur untuk sowan kepada Gubernur Maluku saat itu, Bapak M Saleh Latuconsina.

Setelah mendapatkan wejangan singkat dari Gubernur yang di hari itu juga langsung menyatakan “Maluku Damai”, para Pemuda Islam dan Kristen HATUHAHA ini selanjutnya melakukan PAWAI DAMAI melintasi wilayah pemukiman dua komunitas yang bertikai dan sempat membuat banyak pihak terkesima. Bahkan ada yang seperti terhipnotis menyaksikan AKSI HEROIK para Pemuda HATUHAHA itu, sehingga banyak juga warga Ambon lainnya yang kemudian secara spontan ikut bergabung sambil bersama meneriakkan yel-yel Perdamaian.

Aksi Damai para Pemuda HATUHAHA ini sendiri sebenarnya terbilang “Nekat”. Sebab di saat itu jangankan untuk berpawai bersama, menjalin komunikasi personal secara sembunyi-sembunyi lintas dua komunitas saja taruhannya bisa nyawa melayang. Maluku terutama kota Ambon sebagai Pusat Konflik benar-benar sangat mencekam ketika itu.

Dan di tengah situasi Ambon masih mencekam seperti itulah Ide Spontan utk melakukan PAWAI PERDAMAIAN itu lahir dengan satu asumsi dasar, bahwa “Dengan telah ditandatanganinya Kesepakatan Damai oleh Perwakilan semua elemen masyarakat Maluku di Malino, berarti semua orang Maluku ketika itu sudah sepakat untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang telah membuat Maluku benar-benar terpuruk. Untuk kembali merajut hidup berdampingan secara damai sebagai sesama orang basudara di Negeri Raja-raja ini”.

Dan suka atau tidak suka, aksi heroik para pemuda HATUHAHA itu juga telah menjadi salah satu fakta KONTRIBUSI TERBESAR mereka dalam ikut mendamaikan Maluku. Karena selain aksi itu telah berhasil men-trigger kelompok Masyarakat lain di Maluku untuk mulai kembali menjalin hubungan persaudaraan yang lama terputus akibat Konflik

Juga telah menjadi semacam “Pintu Masuk” penting dalam merealisasi butir-butir Perjanjian Malino II yang telah disepakati tersebut. Sebab pasca Aksi Damai itu, Konstelasi Konflik Maluku secara signifikan mulai berangsur menurun, setelah para Pemuda HATUHAHA yg sebelumnya terkenal cukup trengginas di arena konflik itu secara otomatis “menarik diri dari semua medan Konflik”.

Cukup panjang ceritanya jika harus mengurai detail kisah seputar proses perjalanan para Pemuda AMARIMA HATUHAHA dalam melakukan aksi damai tersebut. Mulai dari soal ide spontan Pawai Perdamaian yang lahir sangat tiba-tiba. Atau ada cerita tentang banyak keluarga yang dengan “berat hati” melepas kepergian anggota keluarga mereka untuk ikut serta karena khawatir dengan situasi kota Ambon yang masih mencekam.

Ada juga “kekhawatiran luar biasa” ketika para Pemuda HATUHAHA ini harus menempuh jarak kurang lebih 25 km menuju Kota Ambon melewati wilayah pemukiman dua komunitas. Termasuk ketika harus menginap bersama Pemuda-pemuda Haturessy yang beragama Kristen itu di tengah-tengah pemukiman Muslim (Kawasan Waihaong).

Dan puncak kekhawatiran itu terjadi ketika mereka memulai aksi jalan kaki menyusuri jalanan kota. Dengan diapit massa kedua belah pihak yang bertikai di kiri kanan jalan, yang segelintir diantaranya masih tetap memperlihatkan Sorot Mata Permusuhan yang sangat tajam.

Pawai Perdamaian Maluku sebagai bukti komitmen para Pemuda HATUHAHA untuk ikut mendamaikan Negeri ini “telah tercatat dalam lembaran waktu” tepat di 20 Tahun yang lalu. Mau diakui atau tidak, itu kurang penting. Yang jelas, ada semacam “Sensasi Spiritual” dan kepuasan batin luar biasa yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang ikut dalam rombongan PAWAI PERDAMAIAN ketika itu.

Yang mana itu sangat diyakini sebagai pertanda adanya “Restu Para Leluhur” (Barakate), dan Ridho dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menjadi “Sumber Kekuatan Utama” dan Spirit perjuangan mereka untuk terus merangsek maju guna ikut “Bersama Mendamaikan Maluku”. Semoga saja kedamaian di Negeri Raja-raja yg sudah dibangun dengan susah payah oleh berbagai pihak ini senantiasa terjaga dan lestari hingga ke anak cucu. Peace Is Beautiful. In syaa Allah.

Penulis adalah pelaku sejarah Pawai Damai Pemuda Hatuhaha, 28 Februari 2022