Menikmati Diperkosa: Cerita Getir dari Ukulam

0
1776

“…namun ada yang kemudian menjadi pelacur, dan akhirnya dengan pasrah menjalaninya sebagai sebuah konsekuensi hidup. Diantaranya bahkan menikmati.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Pemerkosaan adalah situasi yang tak diinginkan oleh siapa pun. Merusak fisik dan membekas pada psikis, atau berdampak traumatik yang mengancam masa depan seseorang.

Itu sebabnya, siapapun takut atau perlu berhati-hati sehingga tidak menjadi korban perkosaan. Jika lengah, kehormatan dan harga diri diambil oleh orang yang tak ber-hak secara paksa.

Namun ada pula sejumlah cerita miris. Kebanyakan dari rumah-rumah bordil. Mengenai seseorang yang awalnya adalah korban perkosaan, kemudian terhempas di tempat pelacuran, saban hari seperti diperkosa, akhirnya pasrah dan menikmati, karena tidak ada pilihan.

Menikmati karena terpaksa, tak bisa lari, menolak atau mengelak. Mungkin diterima sebagai takdir hidup, walau sejatinya tersiksa, toh dapat uang, meski tak sebanding dengan pengorbanan.

Seperti diceritakan dalam film Signal. Drama yang diadaptasi dari kisah nyata ini diangkat dari kasus di Hwaseong, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan pada 1986-1991.

Saat itu, 10 perempuan mulai dari nenek berumur 71 tahun hingga anak sekolah berusia 13 tahun menjadi korban pemerkosaan. Ada yang dibunuh, namun ada yang kemudian menjadi pelacur, dan akhirnya dengan pasrah menjalaninya sebagai sebuah konsekuensi hidup.

Sebuah cerita tragis, yang mengajarkan getirnya hidup yang kadang harus dijalani seorang manusia. Cerita di mana kemanusiaan tak ada arti bagi mereka yang tamak, rakus dan menjadi budak dari hawa nafsu.

Namun cerita pemerkosaan yang berujung ke tempat pelacuran, rupanya tak hanya terjadi pada individu, karena pada kenyataanya dapat menimpa satu kelompok masyarakat. Bahkan ada bagian dari kelompok itu yang akhirnya turut menikmati, walau tiap saat diperkosa dengan brutal tanpa prikemanusiaan.

Baca Juga  Papeda: Antara Jatuh Gengsi dan Masa Depan Ketahanan Pangan

Diceritakan, ada satu komunitas masyarakat di kepulauan Ukulam yang kaya, lautnya luas, penuh ikan dan hasil alam melimpah-ruah. Ibarat gadis cantik, mempesona, penuh masa depan yang gemilang.

Namun petaka menghampiri, seiring datangnya orang-orang kuat dari berbagai daerah, negara atau bangsa. Tak tahan melihat kemolekan, tergiur dengan potensi kepulauan Ukulam itu, akhirnya mahkota dan seluruh potensinya dirampas dengan paksa.

Tidak saja oleh satu bangsa, digilir secara bergantian oleh bangsa-bangsa lain. Beberapa orang dari kepulauan Ukulam memang tak terima dan berusaha melawan, tapi para pemerkosa itu terlalu kuat dan beringas.

Generasi berganti, namun pemerkosaan terus terjadi, hingga dianggap sebagai hal yang biasa. Tak lagi ada perlawanan. Rupanya penduduk Ukulam mulai menikmati diperkosa, bahkan ada yang nyaman karena diuntungkan, walau hanya diberi hadiah kecil.

Di era kekinian, beberapa orang sebenarnya berusaha protes dan melakukan perlawanan agar bisa keluar dari situasi yang tidak menguntungkan itu. Tapi apalah daya, karena justru dihadang oleh kalangan sendiri, para penikmat atau yang menikmati diperkosa.

Mereka justru membela pemerkosa dan mengatakan saudara-saudara yang melawan itu adalah pemberontak dan mau menghancurkan kepulauan Ukulam. Sesama saudara bertikai dan saling meniadakan.

Akhirnya pemerkosaan pun terus terjadi, dibiarkan karena dinikmati, meski tidak olah semua anggota tubuh. Banyak orang-orang Ukulam nampak tersenyum getir, karena hatinya penuh luka, namun tetap setia berteriak Harga Mati, demi upah murah dari para bedebah.

Maluku, 25 Agustus 2020

Penulis adalah Founder IndoEast Network