Momentum Maluku Menuju Kasta Tertinggi Sepak Bola

0
405
M. Ikhsan Tualeka Direktur Beta Kreatif

PS. Pelauw Putra takluk dengan skor 2-0 saat menjamu Persipura Jayapura di ajang Piala Indonesia yang digelar di Stadion Mandala Remaja Karang Panjang Ambon, Selasa 18 Desember 2018. Namun laga itu ternyata menyisahkan sejumlah diskusi.

Iya, diskursus bahwa sejatinya kita di Maluku punya potensi yang jika mau dikelola dengan baik akan melahirkan prestasi yang membanggakan daerah ini, di tengah banyak indikator ketertinggalan. Apalagi sepak bola adalah bicara soal cabang oleh raga yang paling digandrungi di tanah air, disukai semua lapisan masyarakat, miskin atau kaya, tua maupun muda.

Di Maluku, bahkan jika ada ajang turnamen internasional seperti piala dunia atau world cup, fanatisme masyarakat bisa sangat memuncak. Bendera-bendera negara yang didukung bisa nangkring, berkibar di atap-atap rumah dan pepohonan warga. Nobar bola pun digelar di mana-mana.

Tidak saja soal fanatisme terhadap club atau negara tertentu, Maluku juga selalu melahirkan pemain berbakat, khususnya dari Negeri Tulehu, semacam Ramdhani Lestaluhu, Alfin Tuasalamoni, Abdul Lestaluhu, Rizky Pellu, maupun dari negeri atau desa lain di Maluku, seperti Musafri Talaohu, Rizaldi Hehanusa, Manhati Lestusen dan lainnya, yang tidak saja ikut bermain di club-club besar, tapi sampai memperkuat tim Nasional. Sayangnya hingga saat ini Maluku belum punya satu pun club sepak bola yang bermain di kasta tertinggi liga nasional dan menjadi kebanggaan bersama.

Padahal itu sesuatu yang mungkin saja, jika anak-anak negeri mau mulai fokus dalam membangunnya. Obsesi yang wajar, sebab selain gudang pemain berbakat, DNA orang Maluku bahkan terbukti telah ada di-level sepak bola internasional, hingga menjadi capten tim yang bermain di final piala dunia, seperti Giovanni van Bronckhorst. Khusus untuk ini, terlalu panjang daftar para pemain berdarah Maluku, jika ingin disebut satu per satu disini.

Maluku bisa jadi adalah satu-satunya daerah atau provinsi di Indonesia yang punya diaspora atau keturunan yang menjadi pemain sepak bola terbanyak dan tersebar di berbagai club Eropa hingga tanah air. Tapi menjadi ironis bila menyaksikan posisi Maluku dalam peta persepakbolaan Nasional.

Baca Juga  Untuk Apa Paspor Kedutaan Besar Maluku?

Di tengah dahaga itu, satu tim anak-anak muda asli Maluku dari club ‘kampung’ yang tak begitu dikenal, PS. Pelauw Putra, mencuri perhatian dalam perhelatan Piala Indonesia, menjadi wakil Maluku dan menjamu salah satu raksasa sepak bola di Indonesia, Persipura, Papua. Sebuah tim yang selain selalu ada di papan atas liga nasional, para pemainnya sudah jadi langganan tim nasional.

Sekalipun akhirnya kandas, Peluaw Putra tak bisa dianggap remeh. Sebagai club berbasis kampung, desa atau negeri, dan materi pemainnya pun sebagian besar adalah asli dari Negeri Pelauw, apa yang tersaji di lapangan tidak mengecewakan. Melawan tim dari kasta tertinggi liga nasional itu PS. Pelauw Putra bermain terbuka, dan kerap mengancam gawang Persipura.

Official Persipura pun dalam jumpa pers usai pertandingan, mengakui PS. Pelauw Putra punya kualitas dan mampu mengimbangi permainan cepat tim mereka, pertanda sepak bola Maluku tak jauh ketinggalan. Selain soal kualitas, yang juga banyak mendapat perhatian adalah tingginya antusiasme penonton dan para sporter. Meski pertandingan itu tidak mendapat porsi publikasi yang memadai, tapi tercatat ada lebih dari 3700 tiket yang laku terjual, belum terhitung penonton yang masuk tanpa tiket dan yang menonton dari luar tribun.

Dari catatan itu, artinya kita di Maluku punya dua hal utama dan penting dalam sepak bola. Pertama, potensi pemain berbakat, itu ditunjukan dengan banyak pemain asal Maluku tersebar di banyak club, bahkan tim kelas ‘kampung’ pun bisa meladeni club besar yang didukung dengan managemen dan sponsorship yang kuat. Kedua, dukungan publik dan fanatisme sporter sepak bola yang kuat.

Ini adalah dua potensi yang belum tentu dimiliki oleh daerah atau bahkan club besar lainnya. Ambil contoh PS. Tira yang sering sepi penonton saat menjamu lawan, atau Bhayangkara FC yang menjadi kampiun Liga 1 edisi 2017 pun meredup prestasinya antara lain karena tak punya home base yang jelas, serta pendukung yang fanatik, dan akhirnya kerap mengandalkan personil kepolisian kala melakoni laga kandang.

Baca Juga  Mempersempit Peluang Caleg ‘Takajo’

Namun semua potensi yang dimiliki Maluku ini faktanya tak berbanding lurus dengan kemauan yang kuat dari stake holder sepak bola di Maluku. Ukurannya sangat sederhana, yaitu hingga kini belum ada stadion atau lapangan bola yang representatif dan membanggakan di Maluku. Sepak bola belum ada dalam orientasi pembangunan pemerintah daerah termasuk juga swasta, karena belum dilihat sebagai potensi yang besar.

Stadion Mandala Karang Panjang Ambon misalnya, lebih mirip lapangan bola kelas tarkam. Terang saja, dalam pertandingan Persipura dan PS. Pelauw Putra terlihat bola kerap salah memantul dan kaki pemain sering keseleo akibat rumput dan permukaan lapangan yang tidak rata. Belum lagi ruang ganti pemain yang tak ubahnya ‘kandang ayam’, juga lingkungan stadion yang tak terurus, sungguh memalukan, parameter bahwa sepak bola Maluku belum menjadi prioritas, hingga tak maju-maju.

Padahal, kalau mau dilihat lebih jauh, sepak bola di Maluku sejatinya bukan hanya urusan olah raga semata, tapi dapat berkontribusi pada makin kuatnya ikatan sosial dan membawa angin segar bagi terbangunnya perdamaian di Maluku. Sepak bola sesungguhnya bisa menjadi modal sosial.

Betapa tidak, bila saja ada tim Maluku atau paling tidak Kota Ambon yang bermain di Liga 1, kita tentu akan ada dalam satu masa, di mana saat pertandingan kandang di Ambon, sporter tim Maluku dari berbagai suku dan agama berbondong-bondong ke stadion, menyatu dalam harmoni dan emosi yang sama, seperti kerap kita lihat saat Jakmania datang mendukung Persija, atau Bonek mendukung Persebaya dan Bobotoh mendukung Persib.

Jika menang dan apalagi hingga jadi juara, akan ada pawai dan arak-arakan yang panjang dan eforia bersama, seperti dapat kita lihat kala Persija Jakarta berhasil menggondol tropi Liga Indonesia baru-baru ini. Dengan begitu, bukan hanya sepak bola yang maju, perputaran ekonomi akan semakin baik seiring Maluku dapat ikut ambil bagian dalam industri sepak bola tanah air, dan lebih penting dari semua itu, sebagai daerah yang pernah berkonflik, menyatunya dukungan sporter dari berbagai kalangan, sesungguhnya akan memperkuat kohesi sosial dan persatuan anak negeri.

Baca Juga  Literasi Media di Era 4.0

Kita semua tentu bisa menyaksikan, seperti yang diangkat dalam Film Cahaya dari Timur; Beta Maluku (2014), bagaimana sepak bola bisa mempersatukan, kala tim U-15 yang terdiri dari anak-anak Maluku, beda agama, masih ditengah suasana konflik berhasil menjuarai Medco Cup 2006. Sungguh sepak bola sangat bisa menjadi alat pemersatu.

PS. Pelauw Putra boleh saja kalah lawan Persipura, tapi mestinya pertandingan yang disiarkan secara langsung di TV Nasional itu dapat menjadi momentum penting dan menyadarkan kita semua, bahwa Maluku punya potensi sepak bola yang sangat besar, dan sudah saatnya dikelola dengan benar. Kalau saja ini dapat menjadi kesadaran kolektif, kedepan selain pembinaan pemain usia dini akan semakin digenjot, satu stadion bertaraf internasional akan dibangun, dan dari situ bukan tak mungkin kemudian akan lahir club sepak bola bergengsi yang dapat menjadi kebanggaan orang Maluku. Ayo, katong bangun dari tidur panjang.

M. Ikhsan Tualeka adalah Inisiator Beta Sport dan co Produser Film Cahaya dari Timur: Beta Maluku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here