Momentum Sepak Bola Maluku Bangun dari Tidur Panjang

0
2445

“Sepak bola di Maluku sejatinya bukan hanya urusan olahraga semata, tapi dapat berkontribusi pada makin kuatnya ikatan sosial dan membawa angin segar bagi terbangunnya perdamaian di Maluku.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Baru-baru ini, 21-25 Januari 2021, atau selama 4 hari, satu tim yang terdiri dari para pemain senior Maluku dari Surabaya, Putra Maluku (PUMA) bertandang ke Maluku. Selain melakoni pertandingan eksebisi melawan Masohi All Star, Liang Putra All Star, Tulehu Putra All Star Plus dan PSA All Star juga mengadakan Coaching Clinic.

Asprov PSSI Maluku dibawah kepemimpinan mantan pesepakbola, Sofyan Lestaluhu bekerjasama dengan PUMA sengaja menghelat kegiatan ini, sebagai upaya menghangatkan atmosfer sepak bola Maluku meski di tengah pandemi. Gubernur Maluku, Pangdam Pattimura dan Beta Kreatif yang belakangan ini menelorkan program Beta Sport pun turut mendukung.

Perhelatan ini sejatinya memperlihatkan bahwa Maluku punya potensi besar dibidang sepak bola, yang jika mau dikelola dengan baik akan melahirkan prestasi yang membanggakan. Apalagi sepak bola adalah bicara soal cabang olahraga yang paling digandrungi di tanah air, disukai semua lapisan masyarakat, miskin atau kaya, tua maupun muda.

Di Maluku, jika ada ajang turnamen internasional seperti piala dunia atau World Cup, fanatisme masyarakat bisa sangat memuncak. Bendera negara-negara yang didukung bisa nangkring, berkibar di atap-atap rumah dan pepohonan warga. Nonton bareng bola pun digelar di mana-mana.

Tidak saja soal fanatisme terhadap klub atau negara tertentu, Maluku juga selalu melahirkan pemain berbakat, semacam Ramdani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, Abduh Lestaluhu, Rizky Pellu, Musafri Talaohu, Rezaldi Hehanusa, Manahati Lestusen, hingga yang lebih senior seperti Imran Nahumarury, Rahel Tuasalamony, Chairil Anwar Lestaluhu dan lainnya, yang tidak saja ikut bermain di klub-klub besar, tapi hingga memperkuat tim Nasional. 

Sayangnya sampai saat ini Maluku belum memiliki klub sepak bola yang bermain di kasta tertinggi liga nasional dan menjadi kebanggaan bersama. Padahal itu sesuatu yang mungkin saja, jika orang Maluku mau mulai fokus dalam membangun persepakbolaan.

Obsesi yang wajar, sebab selain gudang pemain berbakat, DNA orang Maluku terbukti telah ada di-level sepak bola internasional, bahkan ada yang menjadi kapten tim yang bermain di final piala dunia, seperti Giovanni van Bronckhorst. Terkait pemain berdarah Maluku kelas dunia, tentu terlalu panjang daftarnya bila ingin disebut satu per satu disini.

Maluku bisa jadi adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang punya diaspora atau keturunan yang menjadi pemain sepak bola terbanyak dan tersebar di berbagai klub Eropa hingga tanah air. Tapi menjadi ironis bila menyaksikan posisi Maluku dalam peta persepakbolaan Nasional.

Di Maluku bahkan ada Kampung Sepak Bola, yakni Negeri Tulehu. Dijuluki demikian karena negeri atau desa itu seperti tak habis-habisnya melahirkan pesepakbola handal. Unik memang, karena rata-rata tim sepak bola di Maluku berbasis kampung atau negeri. 

Seperti pada Desember 2018 lalu, satu klub ‘kampung’ yang baru mencuat prestasi sepak bolanya, PS. Pelauw Putra, mencuri perhatian dalam perhelatan Piala Indonesia, saat menjadi wakil Maluku dan menjamu salah satu raksasa sepak bola di Indonesia, Persipura, Papua. Sebuah tim papan atas liga nasional, dan pemainnya sudah menjadi langganan tim nasional.

Sekalipun akhirnya pada waktu itu kandas, Pelauw Putra tak bisa dianggap remeh. Sebagai klub berbasis kampung, dan materi pemainnya pun sebagian besar adalah asli dari Negeri Pelauw, apa yang tersaji di lapangan waktu itu tidak mengecewakan.

Melawan tim dari kasta tertinggi liga nasional itu PS. Pelauw Putra bermain terbuka, dan kerap mengancam gawang Persipura. Official Persipura pun dalam jumpa pers usai pertandingan, mengakui PS. Pelauw Putra punya kualitas dan mampu mengimbangi permainan cepat tim mereka. Tandanya sepak bola Maluku tak jauh ketinggalan. 

Namun ada fakta menarik, yakni tingginya antusiasme penonton dan para suporter. Meski pertandingan itu tidak mendapat porsi publikasi yang memadai, tapi tercatat hampir 4 ribu tiket yang laku terjual. Belum terhitung penonton yang masuk tanpa tiket, atau yang menonton dari luar tribun.

Menggambarkan Maluku punya dua hal utama dan penting dalam sepak bola. Pertama, potensi pemain berbakat, bahkan tim kelas ‘kampung’ pun bisa melayani klub besar yang didukung dengan manajemen dan sponsorship yang memadai. Kedua, dukungan publik dan fanatisme suporter sepak bola yang kuat.

Ini adalah dua potensi yang belum tentu dimiliki oleh daerah atau klub besar sekalipun. Ambil contoh PS. Tira yang sering sepi penonton saat menjamu lawan, atau Bhayangkara FC yang menjadi kampiun Liga 1 edisi 2017, meredup prestasinya, lantaran tak punya home base permanen, dan pendukung fanatik. Mereka akhirnya mengandalkan suporter dari personil kepolisian saat melakoni laga.

Sayangnya semua potensi yang dimiliki, faktanya tak berbanding lurus dengan kemauan yang kuat dari stakeholder sepak bola di Maluku. Ukurannya sangat sederhana, yaitu sampai saat ini belum ada stadion atau lapangan bola yang representatif dan membanggakan.

Stadion Mandala Karang Panjang Ambon misalnya, harus jujur, masih jauh dari memadai. Terang saja, dalam pertandingan PUMA dan PSA. Ambon, terlihat bola kerap salah memantul, akibat rumput dan permukaan lapangan yang tidak rata, pemain juga beresiko cedera.

Begitu pula ruang ganti pemain yang tidak layak, serta lingkungan stadion yang harus diakui kondisinya tak terurus. Semua itu menjadi parameter bahwa sepak bola Maluku belum menjadi prioritas, hingga tak maju-maju.

Padahal, kalau mau dilihat dengan lebih jernih, sepak bola di Maluku sejatinya bukan hanya urusan olahraga semata, tapi dapat berkontribusi pada makin kuatnya ikatan sosial dan membawa angin segar bagi terbangunnya perdamaian di Maluku. Sepak bola sesungguhnya adalah modal sosial.

Betapa tidak. Bila saja ada tim Maluku atau Kota Ambon yang bermain di Liga 1, tentu akan ada satu masa, di mana saat pertandingan kandang di Ambon, suporter tim Maluku dari berbagai suku dan agama berbondong-bondong ke stadion, menyatu dalam harmoni dan emosi yang sama.

Seperti sering kita lihat saat Jakmania mendukung Persija, Bonek mendukung Persebaya, Bobotoh mendukung Persib, atau saat anak-anak muda Melanesia mendukung Persipura. Juga seperti hubungan yang kuat antar tim dan suporter yang bisa kita saksikan di daerah atau negara lain.

Lantas apalagi bila kemudian Tim Maluku memenangkan pertandingan, hingga menjadi juara, tentu akan ada pawai dan arak-arakan yang panjang, larut dalam euforia bersama. Seperti dapat kita lihat saat Persija Jakarta berhasil menggondol trofi Liga Indonesia beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, bukan hanya sepak bola yang maju, perputaran ekonomi akan semakin baik, seiring Maluku dapat turut mengambil bagian dalam industri sepak bola tanah air. Lebih penting lagi adalah, sebagai daerah yang pernah berkonflik, menyatunya dukungan suporter dari berbagai kalangan, sesungguhnya akan memperkuat kohesi sosial dan persatuan anak negeri.

Kita bisa menyaksikan, seperti yang diangkat dalam Film Cahaya dari Timur; Beta Maluku (2014), bagaimana sepak bola bisa mempersatukan, kala tim U-15 yang terdiri dari anak-anak Maluku, beda agama, masih di tengah suasana konflik berhasil menjuarai Medco Cup 2006. 

Sungguh sepak bola bisa menjadi alat pemersatu. Semua ini harusnya menjadi momentum penting yang dapat menyadarkan kita semua, bahwa Maluku punya potensi sepak bola yang sangat besar, dan sudah saatnya dikelola dengan benar.

Kalau saja ini dapat menjadi kesadaran kolektif, ke depan selain pembinaan pemain usia dini akan semakin digenjot, satu stadion bertaraf internasional akan dibangun, dan dari situ bukan tak mungkin kemudian akan lahir klub sepak bola bergengsi yang dapat menjadi kebanggaan orang Maluku. Ayo, katong bangun dari tidur panjang.

Penulis adalah Direktur Beta Kreatif, Inisiator Beta Sport dan co Produser Film Cahaya dari Timur: Beta Maluku 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here