Monia Latuarima, Srikandi Hatuhaha, Pahlawan yang Terlupakan dalam Pentas Sejarah Bangsa

0
2113

Oleh : Jannes A. Uhi

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Slogan ini sering terdengar di moment peringatan hari Pahlawan, setiap tanggal 10 november. Slogan ini mengindikasikan bahwa perjuangan para pahlawan harus dihargai dan dihormati oleh bangsa, sebab mereka yang berjuang, mengorbankan jiwa dan raga, adalah orang-orang yang ingin bebas, merdeka dan tidak mau masyarakat, bangsa dan negaranya dijajah oleh bangsa atau orang lain. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan tersebut yang selalu menyemangati rakyat untuk tetap mengangkat senjata, parang, tombak, bambu runcing, dll dalam mempertahankan wilayahnya dari penjajah.   

Indonesia memiliki begitu banyak pahlawan yang telah gugur. Pahlawan-pahlawan itu berasal dari daerah-daerah, yaitu dari Sabang sampai Merauke. Maluku juga memiliki sejumlah pahlawan, seperti Thomas Matulessy (Pattimura), Alexander Yacob Patty, Yohanes Leimena, dll. Ada juga perempuan Maluku yang menjadi pahlawan, yaitu Christina Martha Tiahahu. Para pahlawan Maluku ini memiliki tingkat kesadaran dan pengorbanan diri yang tinggi demi bangsa, sehingga rela mati dalam perjuangan melawan penjajahan, serta hanya untuk mempertahankan harkat dan martabat sebagai manusia bebas – merdeka.

Namun, sayangnya bangsa ini, termasuk pemerintah Maluku, entah lupa atau tidak tahu, selama ini mengabaikan pengorbanan seorang perempuan berdarah Maluku yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi melawan dan mengusir penjajah dari tanah Maluku. Seorang perempuan Hatuhaha di tanah Alaka – pulau Haruku, Monia Latuarima, jika disejajarkan dengan Christina Martha Tiahahu dari Nusalaut, atau Cut Nyak Dien dari Aceh, memiliki perjuangan dengan tingkat kesadaran berkorban demi bangsa, dan keberanian yang sama-sama dimiliki. Monia Latualinya merupakan sosok yang berani mengambil tanggung jawab memimpin pasukan dan masyarakat Hatuhaha Amarima berperang melawan penjajah Belanda.

Peperangan berawal ketika Belanda menginstruksikan negeri-negeri yang berada di pegunungan untuk turun ke pesisir. Instruksi tersebut tidak ditaati, sehingga terjadi ketegangan dan memuncak pada peperangan, yang dikenal dengan nama perang Alaka II (1637 – 1638). Dalam perang tersebut Belanda harus mendaki gunung dengan tingkat kemiringan antara 75 sampai 85 derajat sehingga sulit bagi Belanda mencapai puncak gunung Alaka. 

Monia Latualinya, dalam perang Alaka ini, menyusun strategi menghadapi Belanda yang datang menyerang Hatuhaha Amarima di puncak gunung Alaka menggunakan persenjataan lengkap. Salah satu ide Monia Latuarima, mengikat batangan pepohonan dan melepaskannya di saat Belanda berada pada lereng gunung Alaka, ternyata memberikan hasil yang menggembirakan bagi masyarakat Hatuhaha Amarima saat itu. Alasannya, ketika ide Monia Latuarima tersebut dilakukan, pasukan Belanda berhasil dilumpuhkan. Banyak tentara Belanda yang terbunuh ketika menyerang di gunung Alaka.

Dieter Bartels (1994), dalam bukunya “In de Schaduw van de Berg Nunusaku”, menjelaskan bahwa Patti Hatuhaha (pemimpin tertinggi Hatuhaha Amarima) langsung memberi perintah agar sambil menunggu serangan, melakukan persiapan pertahanan. Semua kekuatan tempur di Alaka berada di bawah komando Kapitan Alaka, yaitu seorang perempuan pemberani bernama Monia Latuarima. Dia (Monia Latuarima) memerintahkan agar semua pohon yang besar ditebang, ditimbun, dan diikat di atas lereng gunung. Begitu terdengar suara tembakan pertama dari orang-orang Belanda di kaki gunung, batang-batang pohon dilepas dan menggelinding dari atas lereng gunung ke bawah. 

Banyak korban dari pasukan Belanda yang berjatuhan. Selain itu, Kapitan Alaka ini juga memberikan kode untuk melemparkan tempurung kelapa, yang di dalamnya terdapat abu tungku (debu hasil pembakaran dari kayu), ke orang-orang Belanda, yang menyebabkan buta atau mengalami gangguan penglihatan. Akhirnya, orang-orang Belanda harus mundur, sebab mengalami banyak kehilangan pasukan. Berkaitan dengan situasi perang Alaka II, pejabat tinggi Belanda di Maluku, Joan Ottens, menulis surat tertanggal 12 September 1637 kepada pimpinannya di Holland menyinggung situasi umum di Maluku Tengah, termasuk di Pulau Haruku. 

Sebagian isi surat Ottens berbunyi: “…dengan Hatuhaha segala sesuatu tidak bisa berlangsung secepat itu. Dengan cepat kami mengalami kerugian besar; 74 dari tentara kami tidak bisa lagi berperang, 14 terbunuh dan 60 terluka, dan kami harus mundur. Setelah kami menghancurkan pohon-pohon kelapa dan cengkeh, para penduduk Hatuhaha meminta pengampunan. Kami menerima mereka kembali, termasuk desa-desa Kristen yang memberontak, seperti Haruku, Sameth, Oma, Aboru, dan Kariu”.

Sebagian tulisan Sejarawan Belanda, Rumphius, tahun 1910 no I halaman 136-138, berbunyi: “ketika tentara-tentara kami (Belanda) diperintah untuk melalui akses jalan yang sulit (mendaki gunung Alaka), tentara-tentara kami harus berpegangan satu sama lain dan saling menumpuk, serta seorang tentara tidak bisa berdiri dan bertempur. Musuh (Hatuhaha Amarima) membombardir tentara kami sedemikian berat dengan batu dan kayu yang digelindingkan (digulingkan) ke bawah, dan setelah serangan berikutnya, tentara kami terpukul mundur; 5 orang meninggal, 2 tidak bisa ditemukan, dan banyak yang luka, termasuk beberapa perwira. Dalam perjalanan mundur, tentara-tentara kami dihina oleh Hatuhaha. Pertempuran yang tidak beruntung itu membawa tentara-tentara kami pada keputusan untuk tidak lagi mengalami kematian yang sia-sia di sarang (lereng gunung Alaka) yang sangat buruk ini”.

Sebagian isi surat pejabat tinggi Belanda, Joan Ottens, tahun 1637, dan sepenggal uraian sejarawan Belanda, Rumphius, tahun 1910, serta penjelasan Bartels membuktikan bahwa perang Alaka II yang dipimpin oleh seorang perempuan perkasa dari Hatuhaha, Monia Latuarima saat itu mampu meredam dan menghancurkan tentara Belanda. Kecanggihan persenjataan yang dimiliki oleh tentara Belanda, dan keterampilan berperang yang ada pada prajurit Belanda tidak mampu melemahkan semangat dan keberanian seorang perempuan Hatuhaha yang tampil mengobarkan semangat bagi para lelaki dan perempuan Hatuhaha untuk berperang dengan Belanda. 

Ide srikandi Hatuhaha (sebutan masyarakat Hatuhaha untuk Monia Latuarima) dalam mengatur strategi perang melawan Belanda, dan memberikan hasil yang positif, semestinya dimaknai sebagai suatu bentuk kejeniusan seorang perempuan Hatuhaha, sekaligus perempuan Maluku, apalagi saat itu sistem patriarki (keutamaan laki-laki) masih sangat kuat di Maluku. Kegigihan, keperkasaan, dan keberanian Monia Latuarima melawan dan mengusir Penjajah dari bumi Maluku (juga Indonesia) selama ini tidak ditulis, dibicarakan, bahkan disinggung sama sekali dalam pentas sejarah Indonesia bahkan Maluku, padahal perjuangan dan pengorbanannya untuk bangsa dan negara ini sama seperti pahlawan-pahlawan lainnya di Indonesia. 

Monia Latuarima sama seperti Thomas Matulessy, Tulukabessy, Christina Martha Tiahahu, dll sama-sama memiliki semangat berkorban demi bangsa dan negara, serta berjuang sampai titik darah penghabisan. Namun, mengapa sampai perjuangan dan pengorbanan Latuarima sia-sia, tampak diabaikan begitu saja oleh kita, bangsa ini? Semangat perjuangan membela bangsa dan negara yang diperlihatkan oleh Srikandi Hatuhaha ini semestinya tidak boleh dilupakan begitu saja oleh pemerintah maupun masyarakat. 

Jika ditinjau dari aspek sosiologis, perjuangan Monia Latuarima melawan dan mengusir penjajah Belanda adalah bentuk kepedulian dan partisipasi nyata perempuan dalam mempertahankan wilayah kedaulatan Indonesia, meskipun saat itu Hatuhaha Amarima merupakan suatu kerajaan yang bersifat nation (bangsa). Apabila dilihat dari sudut kultural, kejeniusan ide Srikandi Hatuhaha adalah wujud pola pikir perempuan yang tidak ingin mengalah demi sebuah kebenaran dan tidak ingin ditindas oleh orang-orang kuat, namun mau terus berjuang membangun dan mengembangkan kehidupan masyarakat banyak ke masa depan yang lebih aman, damai, dan bahagia. 

Ketika ditelaah dari perspektif filosofis, dalam diri Monia Latuarima terdapat nilai-nilai solidaritas yang dalam terhadap kaum yang tertindas,  nilai persaudaraan yang kuat terhadap sesama anak bangsa, dan nilai rela berkorban demi kehidupan banyak orang. Jika ingin menghargai pengorbanan para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan melawan penjajahan, tidak cukup dengan hanya berdiam diri lalu mengheningkan cipta pada setiap tanggal 10 November. 

Kita, masyarakat, teristimewa pemerintah Maluku (juga pemerintah Kabupaten/Kota se Maluku) sepantasnya melakukan beberapa hal: 1) inventarisasi sejarah-sejarah perjuangan rakyat Maluku di berbagai tempat pada wilayah Maluku; 2) melakukan penelitian-penelitian sejarah (dan budaya) yang lebih mendalam dan bersifat ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademik; dan 3) membuat kajian-kajian yang konstruktif sehingga bisa menjadi pegangan bagi generasi penerus dalam memaknai perjuangan para pendahulunya.

Apabila ingin menjadi bangsa atau provinsi yang besar, hargailah jasa para pahlawan yang telah gugur demi mempertahankan wilayah ini. Para pahlawan kita, bukan saja mereka yang selama ini ditulis dan dibicarakan. Masih banyak pahlawan-pahlawan dari bumi Maluku yang belum dicari, digali dan dikaji sejarahnya secara mendalam. 

Hargailah jasa pahlawan-pahlawan ini dengan mencari, menggali dan mengkajinya secara mendalam, supaya “bangsa” Maluku menjadi besar dan Indonesia menjadi lebih besar, sama seperti ucapan Soekarno di atas, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”… Itulah salah satu wujud nyata aplikasi perayaan Hari Pahlawan yang harus dilakukan. Selamat memperingati Hari Pahlawan…

Kamis, 18 Juni 2015

Baca Juga  Mengenal Lebih Dekat Rosmila Rosalinda Latuconsina Anggota Legislatif DPRD Provinsi Riau, 1992-1997

Penulis adalah Alumni Program Doktor Filsafat UGM, Yogyakarta