One Youth One Product

0
109

“Satu pemuda satu produk juga memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang dengan pesat seiring makin majunya teknologi informasi..”

Judul di atas adalah tema Seminar Penumbuhan Wirausaha Pemuda yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI di Universitas Pattimura Ambon, 23 November 2017. Saya juga turut menjadi salah satu pembicara kegiatan itu.

Memang upaya dan paradigma seperti judul tulisan ini perlu terus digaungkan, mengingat jumlah pengusaha di Indonesia masih sedikit. Sebagai negara yang jumlah populasi penduduknya paling besar di ASEAN proporsi jumlah wirausaha dari total jumlah penduduk masih kalah dibanding sejumlah negara tetangga. Indonesia baru mencapai 3,1 persen, sementara rasio wirausaha Singapura 7 persen, Malaysia 6 persen dan Thailand 5 persen.

Jumlah wirausaha perlu ditingkatkan juga dikarenakan tiga realitas objektif. Pertama, kondisi persaingan pasar bebas. Tak bisa dipungkiri era pasar bebas saat ini memerlukan kemampuan daya saing di berbagai sektor. Salah satunya adalah lahir dan tumbuhnya para pengusaha atau wirausaha muda, yang tidak hanya mampu memanfaatkan pasar domestik, tapi juga mampu melakukan ekspansi ke negara lain.

Dengan berlakunya pasar bebas seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah berlaku efektif sejak akhir Desember 2015, negara anggota ASEAN meleburkan batas teritori dalam sebuah pasar bebas, sehingga menyatukan pasar setiap negara dalam kawasan menjadi pasar tunggal. Konsekuensinya, arus barang dan jasa yang bebas merupakan kemestian. Selain itu, negara-negara dalam kawasan juga diwajibkan membebaskan arus investasi, modal dan tenaga trampil.

Kenyataan ini mau tak mau, membutuhkan kesiapan bangsa kita, bila tak mau hanya sekadar menjadi pasar potensial negara lain, atau bahkan menjadi penonton. Lahirnya wirausaha muda yang handal, selain penting dalam persaingan antar kawasan, dalam konteks yang lebih jauh, akan memberikan kontribusi positif bagi penerimaan devisa negara seiring meningkatnya neraca ekspor terhadap nilai import.

Baca Juga  Literasi Media di Era 4.0

Kedua, memaksimalkan pengelolaan potensi daerah. Dengan semakin meningkatnya jumlah pengusaha, yang bergerak mengelola potensi daerah, tentunya berbagai potensi cenderung diabaikan dapat terkelola dengan optimal.

Dengan banyaknya jumlah wirausaha juga dapat mengubah kebiasaan bangsa kita menjadi eksportir bahan baku produksi atau raw material, menjadi bangsa yang memproduksi bahan jadi. Sehingga rantai produksi lebih panjang dan mampu menyerap lebih banyak lapangan pekerjaan.

Ketiga, dalam menyikapi bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia dalam waktu dekat. Negara kita diprediksi mendapat bonus di tahun 2020-2030, kondisi dimana jumlah penduduk dengan umur produktif yang besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.

Saat itu, jumlah usia angkatan kerja, usia 15 hingga 64 tahun, pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif, di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun. Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif akan mencapai sekitar 180 juta, sementara non produktif hanya 60 juta.

Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial – ekonomi. Salah satunya menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif. Situasi ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020.

Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Implikasinya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Namun berkah ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya. Masalah yang paling nyata adalah terkait  ketersedian lapangan pekerjaan. Kerap menjadi pertanyaan adalah apakah negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk menampung 70 persen penduduk usia produktif di tahun 2020-2030?. Meski lapangan pekerjaan dapat disediakan, mampukah sumber daya manusia yang ada bersaing di dunia kerja dan pasar internasional?

Baca Juga  Untuk Apa Paspor Kedutaan Besar Maluku?

Ini adalah pertanyaan yang mesti bisa dijawab bersama. Karena menjadi tantangan tersendiri, mengingat fakta yang ada, indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) Indonesia masih rendah. Saat ini, dari 182 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 111. Sementara dikawasan ASEAN, HDI Indonesia berada di urutan enam dari 10 negara ASEAN.

Posisi ini masih di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura. Tingkat HDI yang rendah ini terbukti dari tidak kompetitifnya pekerja Indonesia di dunia kerja baik di dalam ataupun luar negeri. Paling-paling, pekerja Indonesia di luar negeri adalah menjadi pembantu rumah tangga. Ujung-ujungnya disiksa dan direndahkan. Untuk tingkat dalam negeri sekali pun, kualitas pekerja Indonesia masih kalah dibanding pekerja asing. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya peluang kerja dan posisi strategis yang malah ditempati tenaga kerja asing.

Permasalahan pembangunan sumber daya manusia inilah yang harusnya bisa diselesaikan dari sekarang, jauh sebelum bonus demografi datang. Jangan sampai justru jadi bencana dan membebani negara karena masalah yang mendasar: kualitas sumber daya manusia.

Selain lewat jalur pendidikan formal, mengadakan pelatihan dan kursus, utamanya kepada pemuda agar dapat meningkatkan kapasitas diri dan mampu mengelola potensi daerah adalah upaya yang perlu dilakukan dengan lebih serius. Kapasitas yang meningkat dan adanya produk yang dihasilkan akan menjawab kekhawatiran dampak buruk dari bonus demografi dan persaingan bebas.

Apalagi bila dapat mengarahkan satu pemuda untuk memiliki minimal satu produk unggulan, atau ‘one youth one product’. Langkah ini bisa menjadi cara yang efektif dalam mendorong anak-anak muda agar mau mencari dan menemukan produk unggulan yang dapat dikelola dan dikembangkan.

Baca Juga  Apa Setelah Pilgub?

Adapun produk yang dibuat dan dikembangkan itu diambil dari bahan baku yang ada di lingkungan sekitar para pemuda. Seperti di sejumlah tempat di kawasan timur Indonesia, berbagai bahan baku, seperti batang, tempurung dan sabut kelapa dianggap ‘sampah’, padahal bila ada pendekatan kreatif, bisa diolah menjadi produk merchandise atau kerajinan yang bermutu, bahkan bisa diekspor.

Dengan menjadikan satu pemuda paling tidak memiliki satu produk, selain memungkinkan makin banyak wirausaha muda dihasilkan, tentu akan pula mengurangi angka pengangguran usia produktif. Potensi sumber daya alam pun dapat dikelola lebih optimal.

Satu pemuda satu produk juga memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang dengan pesat seiring makin majunya teknologi informasi, yang membuat semua orang terhubung dengan mudah dan cepat. Karena produk yang dihasilkan dapat dipasarkan secara virtual lewat e-commerce dan bisnis online lainnya.

Itu artinya peluang usaha yang terbuka makin lebar, karena tiap orang dengan mudah dapat menjajakan produknya tanpa mesti membuka toko atau lapak. Lewat bisnis online daya jangkau pun tak terbatas, bahkan hingga manca negara. Ini peluang yang harus dimanfaatkan dengan optimal oleh generasi muda tanah air. Ayo berwirausaha, satu pemuda satu produk!

M. Ikhsan Tualeka adalah Direktur Beta Kreatif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here