Pengalaman Saya dengan Ayah, Seorang Mantan Tentara KNIL

0
741

”Cerita ini saya persembahkan kepada orang-orang tua mantan KNIL dalam rangka memperingati kedatangan  mereka 70 Tahun lalu ke Belanda, Maret 1951 – Maret 2021”.

Catatan: Ulis Patty

Ayah saya, lahir dan besar di Desa Nolloth di Pulau Saparua di Maluku. Ayah saya adalah anak tertua dari tujuh bersaudara. Keluarga saya di desa mengatakan bahwa ketika dia masih muda, dia biasa membantu ayahnya mengolah tanah, memetik pohon cengkeh, dan memanen buah.

Selain itu, dia pergi menjaring ikan di malam hari dan kembali pada pagi hari untuk membawa semua buah dan ikan ke pasar besar untuk dijual. Bersama adiknya mereka harus berjalan kaki sekitar 10 km untuk berjualan di Kota Saparua.

Tak lama setelah Perang Dunia II dan Belanda kembali mengambil alih Indonesia dan mulai merekrut tentara, pada usia 24 tahun ayah saya menandatangani kontrak dengan KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger). Dia meninggalkan kampung, menikahi ibu saya, “kawin lari” dan berangkat ke Jawa bersama.

Ketika Belanda harus merelakan Hindia dan orang tua saya tidak bisa kembali ke Maluku, mereka, para prajurit KNIL dan keluarganya, diperintahkan oleh pemerintah Belanda untuk sementara waktu dibawa ke Belanda. Pada tanggal 22 Februari 195, orang tua saya dan dua anak tertua serta keluarga lainnya meninggalkan Indonesia menuju Belanda dengan kapal Atlantis.

Pada tanggal 23 Maret 1951, orang tua saya dan anak-anak dan keluarga lainnya tiba di pelabuhan Rotterdam dan ditempatkan sementara di Westerbork melalui Amersfoort dan kemudian dipindahkan pada tahun 1958 ke kamp barak, Woonoord Vaassen, tempat kami tinggal dengan 9 anak.

Peti tentara dan koper lainnya ditumpuk di kamar tidur orang tua saya. Ditutupi kain batik dari ibuku dan diatasnya ada “piring nazar” dan uang untuk kolekta  hari Minggu di gereja. Itu juga tempat berdoa. Pakaian hitam orang tua saya tergantung di dinding.

Sebagai anak kecil saya selalu ingin tahu tentang apa yang ada di peti tentara hijau dan koper. Suatu pagi ketika semua orang pergi. Saya menyelinap ke kamar orang tua saya. Dan saya membuka peti KNIL tentara kayu yang berwarna hijau, yang ada di bagian paling bawah, pada saat terbuka saya melihat jaring ikan tergeletak di samping seragam tentara dan pakaian musim panas ibu saya. Dan baunya seperti rempah-rempah.

Ketika saya tidak memperhatikan, hampir semua barang yang ada di atas koper hampir terjatuh. Dan saya membiarkan tutupnya menutup lagi karena terkejut. Dan dengan cepat keluar dari kamar tidur. Saya tidak pernah mengerti mengapa dia membawa jaring ikan dari Indonesia dan tidak pernah berani bertanya mengapa dia menyimpan jaring ikan begitu lama.

Ayah saya kemudian bekerja secara bergiliran di sebuah pabrik yang memproduksi produk aluminium untuk konstruksi pesawat terbang. Salah satu rekannya dari Belanda terkadang mengundang kami untuk mengunjungi mereka pada hari Minggu dan sebaliknya.

Dia juga seorang sukarelawan, dilatih bersama orang lain sebagai perawat yang bekerja di rumah sakit kamp setempat. Kami memiliki tanda pertolongan pertama di pintu depan rumah. Dan orang-orang secara teratur datang dari kamp dengan luka terbuka dan memar yang harus dibalutnya.

Dan saat mereka demam, mereka mendapat obat “Chevarine 4″. Dan terkadang dia juga mengirim orang ke rumah sakit dengan berkonsultasi dengan dokter Tan (dokter kamp).

Sebagai anak kecil berusia 7 tahun, saya kadang-kadang diizinkan pergi bersamanya ke rumah sakit untuk mendapatkan obat dan kadang-kadang dia masih mengunjungi orang-orang yang sakit pada malam hari. Sesampainya di rumah, dia membersihkan jarum suntik dan meletakan kembali pada tempat-nya.

Ibu saya meninggal pada awal tahun 1970-an, lalu sebelum kamp dibongkar, kami pindah ke sebuah rumah batu di pinggiran kamp. Bapak saya tidak bertemu keluarganya di Saparua sejak 1946. Kedua orang tuanya sudah meninggal.

Saat ibu masih hidup, dia mengirimkan bingkisan dari Belanda  untuk keluarga di desa di Saparua. Setelah ibu saya meninggal, ayah saya beberapa kali kembali ke desanya di Maluku pada akhir tahun 1970-an. Saat dia kembali ke Belanda lagi.

Dia berdiskusi dengan saya untuk, apakah dia bisa kembali ke desa asalnya di Pulau Saparua untuk selamanya? Dan saya berkata kepadanya, “bapak memiliki segalanya disini, anak dan cucu bapak”.

Dan dia tidak punya apa-apa di sana. Kemudian  dia bangkit, berjalan ke jendela dan saya pikir dia melihat mobilnya yang ada di depan pintu, yang dengannya dia sangat hemat. Dan menatap keluar. Kisah jaring ikan benar-benar luput dari perhatian saya.

Dia meninggal pada tahun 1985 setelah sakit sebentar. Bertahun-tahun kemudian saya menemukan peti tentara KNIL yang sudah lamanya di rumah adik  laki-laki saya. Di dalamnya masih ditutupi dengan koran bekas, dari 70 tahun yang lalu, 22 Februari 1951, ketika mereka meninggalkan Indonesia dengan kapal Atlantis ke Belanda.

Jaring ikan dan perlengkapan ibu saya sudah tidak ada lagi. Sekarang ada mainan milik cicitnya di dalam peti yang sekarang terletak di ruang tamu rumah adik saya.

Ketika saya pertama kali pergi ke desa kami di Pulau Saparua pada tahun 1997, saya melihat jaring yang sama tergantung di dinding luar rumah keluarga tempat saya tinggal. Ternyata pada saat ayah saya datang ke desa asalnya  dia membawa jaring tersebut, dan pada malam hari ia mengambil jaring dan pergi menjaring ke laut bersama beberapa  penduduk desa.

Dan sekarang saya mengerti bahwa dia benar-benar membeli jaring ikan di Jawa karena berpikir akan kembali lagi  setelah 6 bulan tinggal di belanda. Ayah saya selalu menghargai keinginannya.

Ayah saya tidak pernah pahit tentang apa yang telah dilakukan padanya sebagai mantan tentara KNIL. Karena keimanannya dia mampu memberikan tempat untuk semua ini.

Setelah kerusuhan di Maluku, tahun 1999 saya beberapa kali kembali ke Maluku. Ketika saya pergi ke gereja di desa kami pada hari Minggu pagi, saya melihat keluar melalui jendela yang terbuka, ke arah  langit biru yang indah, cuaca yang sangat indah dan di belakang saya mendengar suara air laut yang menghantam pantai berulang kali, saya rasakan angin laut yang sejuk dan aroma rempah-rempah yang bertiup ke dalam gedung gereja “Bait Allah”.

“Dan saya melihat ayah saya Arnoldus Patty (patmayasang) berdiri lagi di depan jendela dan sekarang menatap lurus ke depan dengan jaring ikan di tangannya”.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here