Protes Lonjakan Harga Tiket, Warga Bikin ‘Paspor’ Maluku

    3
    12018

    TABAOS.ID,- Berbagai cara ditunjukan warga untuk merespon lonjakan harga tiket penerbangan akhir-akhir ini. Begitu pula dengan warga Maluku, yang melihat fenomena ini sebagai bentuk ketidakadilan.

    “Ini tidak adil, lihat saja, ongkos perjalanan dari Ambon – Jakarta saat ini hampir sama dengan dari Jakarta – Amsterdam, sehingga orang Maluku yang mau ada keperluan ke Jawa sudah sama seperti pergi ke luar negeri. Kasihan mereka yang butuh transportasi cepat”, jelas Direktur Beta Kreatif, Ikhsan Tualeka

    Menurutnya, kenyataan yang tidak menguntungkan ini sudah berlangsung dua bulan, kenaikan harga tiket hingga 4x lipat dari harga normal. Bahkan warga dari Aceh ramai-ramai bikin Paspor untuk lebih dulu ke Kuala Lumpur, Malaysia baru kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di Indonesia. Meraka cari cara dan alternatif yang kreatif.

    Sementara dari Maluku tidak bisa bikin cara yang sama dengan Aceh, karena tak ada akses penerbangan langsung ke negara lain untuk sekedar transit. “Untuk itu sebagai bentuk kritik, Beta Kreatif meluncurkan ‘Paspor’ Maluku. Paspor ini sebagai bentuk pertanyaan kritis, apakah Maluku masih di NKRI? Kalau iya, mengapa masih banyak ketidakadilan. Ini bentuk satire simbolik dan kritik kreatif”, tegas Ikhsan.

    Saat ditemui tabaos.id di Pelabuhan Yos Sudraso Ambon, Ikhsan menyatakan kegusaran, dan menilai ini akibat Negara dikelola dengan perspektif orang-orang yang tinggal di Jawa, di daerah daratan luas, yang kerap tidak mengerti dan tidak merasakan kesulitan orang-orang yang tinggal di wilayah kepulauan seperti kita di Maluku ini.

    “Harga tiket ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal keadilan, disitulah butuh campur tangan pemerintah atau negara, butuh tindakan afirmatif. Coba lihat, orang mau berobat, mau melayat, mau urus surat-surat atau dokumen lainnya, jadi terkendala soal ini,” tegas Ikhsan.

    Baca Juga  Buaya Raksasa Hampir 5 Meter Ditangkap Warga Seram Timur

    Sementara di Jawa menurut Ikhsan, ada alternatif transportasi lain untuk bepergian. Ada mobil lewat tol, ada kereta yang nyaman, karena semua akses terhubung lewat daratan.

    Ia membandingkan dengan di Kepulauan Maluku misalanya, masyarakat yang dari Kei, Saumlaki, Wetar, Aru, Leti, Moa, Lakor, Geser, Ambalau, Namrole, Namlea dan lainnya, untuk ke Ambon, ibu kota provinsi saja sulit, lama dan sengsara, apalagi kalau musim ombak.

    “Kasus tiket pesawat yang tak adil ini hanya ujung dari setumpuk ketidakadilan yang dirasakan Maluku selama ini. Padahal adil itu sudah harus dimulai sejak dari pikiran. Semoga satire simbolik dan kritik-kreatif yang kami muat bisa menyadarkan semua pemangku kewajiban untuk lebih perhatian dan peduli terhadap Maluku”, harap Ikhsan.(T05)

    3 COMMENTS

    1. Saya sudah mengkritik berulang kali kenyataan yg dihadapi oleh Maluku, issue besar disparitas, kesenjangan dan ketidakadilan itu sudah sangat lama dialami oleh Maluku. Salah satu solusinya ialah semua stakeholder, akademisi, wakil rakyat, civil society Maluku perlu membangun bargaining power, kekuatan tawar. Ada pernyataan menarik dari Menkeu, bu SMI Maluku harus mendapatkan perlakuan khusus. Ini perlu ditindaklanjuti secara konsekuen dan konsisten.

      • Sangat setuju, dan itu bisa terjadi kalau orang Maluku mau bersatu, dan para representasi politik di pusat (DPR/DPD RI) punya kapasitas dan visi yang sama…salut Bro..

      • Andai semua orang Maluku mau berfikir begitu, posisi tawar kita akan tinggi, dan akselerasi pembangunan di Maluku dapat dilakukan.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here