Refleksi 23 Tahun Konflik, Beta Sport Gelar ‘Football for Peace’ Didukung Pemprov Maluku

0
2571

TABAOS.ID,- Perhelatan “Football for Peace” sukses diadakan di Jakarta International Stadium (JIS) Jakarta (19/01). Event ini antara lain untuk merefleksikan 23 Tahun Konflik Maluku.

Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk bangsa Indonesia dapat terus belajar dari peristiwa kelam yang pernah terjadi di kepulauan Maluku, sehingga kedepan tak lagi terulang.

Dalam kegiatan yang dipusatkan di JIS tersebut, dilangsungkan pertandingan antara Maluku FC melawan Batavia FC. Kemudian dilanjutkan dengan pertandingan eksebisi antara tokoh atau public figure dari Maluku Vs tokoh publik dari Jakarta.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Beta Sport mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan Pemprov DKI Jakarta. Sebagai daerah yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut Pemerintah Provinsi Maluku turut memberikan dukungan penuh.

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadli Ie menyambut baik kegiatan tersebut, karena dapat berkontribusi pada upaya membangun citra Maluku yang lebih positif dan menjadikan Maluku sebagai objek belajar damai secara Nasional. 

“Kami dukung event Football for Peace karena tidak saja menjadi event olahraga, tapi momentum peringatan satu peristiwa penting di mana masyarakat bisa belajar dari Maluku. Belajar dari konflik dan juga resolusi dan perdamaian yang sejauh ini telah dibangun di Maluku”, jelas Sadli.

Lebih lanjut Sadli mengatakan, ini tentu perkembangan yang positif, karena dengan event ini, konflik yang pernah terjadi 23 tahun lalu diperingati dengan cara berbeda dan positif dengan pesan moral penting yang menjadi spirit kegiatan, sepak bola untuk perdamaian.

“Event semacam ini perlu dilakukan, bahkan bila perlu menjadi agenda tahunan, karena selain bisa belajar damai dari Maluku, juga sebagai ajang peningkatan prestasi”, harap Sadli

Tim Public Figure Maluku, yang terdiri dari tokoh Maluku dari berbagai kalangan (Foto: Istimewa).

Semetara Wakil Menteri Hukum dan HAM, Prof. Edward Omar Sharif Hiariej tokoh Maluku tokoh Maluku yang hadir dan membuka kegiatan tersebut menyampaikan terima kasih kepada kepada Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Maluku yang telah mendukung kegiatan tersebut.

“Kegiatan yang mengangkat tema Football for Peace ini tentu penting dan strategis karena sepakbola juga membawa nilai-nilai persamaan, solidaritas, persatuan dan persaudaraan atau persahabatan”, jelas Wamen.

Dirinya berharap kedepan kegiatan semacam ini bisa menjadi menjadi agenda tahunan, sehingga bangsa ini dapat terus belajar dari apa yang pernah terjadi di Maluku 23 tahun silam (19 Januari 1999), dan bagaimana orang Maluku bisa membangun resolusi konflik dan berdamai.

Menurut Wamen, data dari berbagai sumber menyebutkan, akibat konflik Maluku 8000-10.000 orang meninggal, tentu adalah jumlah yang besar. dan melalui kesempatan ini kita doakan mendoakan agar arwah para korban diterima di sisi Tuhan.

“Berbagai peristiwa kelam di masa lalu kerap kali diperingati bukan untuk diingat atau membuka luka lama, tapi sebagai bahan pembelajaran, bahwa konflik tidak membawa keuntungan bagi siapa pun. Hal yang penting agar bangsa ini tak lagi jatuh pada lubang yang sama”, urai Wamen.

Wakil Menteri Hukum dan HAM RI didampingi Direktur Beta Sport Ikhsan Tualeka (Foto: Istimewa).

Sementara Direktur Beta Sport, Ikhsan Tualeka menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung kegiatan. Semua dukungan menjadi penting, apalagi sepak bola dapat menyatukan perbedaan dan meretas nilai-nilai persaudaraan dan solidaritas.

Itu pula yang menjadi salah satu alasan mendasar dipilihnya ‘Football for Peace’ sebagai tema kegiatan dalam rangka refleksi 23 tahun konflik Maluku.

“Kita bisa lihat bahwa sepak bola menyatukan perbedaan. Seseorang dengan perbedaan bisa menyatu dalam harmoni saat berlaga di sepak bola,” tuturnya.

Di konteks lokal, lanjut dia, misalnya Maluku, disebutnya banyak etnis dan banyak pulau. Tapi dengan sepak bola, perbedaan itu bisa disatukan.

Demikian pula dalam konteks nasional, bahwa Indonesia juga multicultural, banyak suku, banyak etnik, banyak pulau, dan kita bisa lihat bagaimana tim nasional kita bermain.

“Artinya sepak bola bisa memberikan kontribusi positif terhadap persatuan, perdamaian, dan tentu ini baik bagi Indonesia yang multikultural,” tegasnya.

Menurut Ikhsan, konflik 23 tahun yang lalu, perlu kita refleksikan sebagai penanda bahwa kita tidak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama atau terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan itu.

“Oleh sebab itu, kegiatan apa pun yang bisa menjadi bahan refleksi itu penting untuk diapresiasi atau diadakan”, tegas Ikhsan.

Tokoh muda Maluku ini menegaskan, selain turut meningkatkan prestasi olahraga dalam hal ini sepakbola. Juga menjadi instrumen penting dalam mempererat kohesi sosial dan menggelorakan semangat hidup damai di tanah air.

Reporter: M. Hamdani
Editor: Christina