Suara Milenial: Dinamika Gerakan Mahasiswa di 2 Tahun Kepemimpinan Gubernur Maluku, Murad Ismail

0
1787

“Walau terkesan ‘keras’ beliau selalu terbuka dalam menanggapi setiap kritikan mahasiswa, selama disampaikan dengan cara yang santun dan dalam koridor demokrasi, apalagi kritikan, saran dan pendapat itu untuk membenahi Maluku yang lebih baik.”

Oleh: Moh. Ali Hanafi Katmas

Siapakah sosok “Irjen. Pol. Purn. Drs. Murad Ismail, S.H” setidaknya di mata kalangan pergerakan mahasiswa? Sosok yang sebelumnya adalah merupakan Perwira Tinggi Polri yang memiliki jabatan sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang Brigade Mobil Korps Brimob.

Kini, lebih dari 2 tahun sudah Murad Ismail menjabat Gubernur Maluku yang ke-13, dengan masa periodesasi 2019 – 2024. Menarik untuk mengulas (dalam perspektif pribadi saya sebagai aktivis) sosok yang dikalangan gerakan mahasiswa lebih dikenal dengan sapaan “MI”. 

Adalah pribadi yang disiplin dan patuh terhadap setiap aturan yang diterapkan oleh pemerintah pusat. Walau terkesan ‘keras’ beliau selalu terbuka dalam menanggapi setiap kritikan mahasiswa, selama disampaikan dengan cara yang santun dan dalam koridor demokrasi, apalagi kritikan, saran dan pendapat itu untuk membenahi Maluku yang lebih baik. 

Murad Ismail juga merupakan sosok yang dikenal dekat dengan kalangan aktivis mahasiswa, selain dekat beliau juga ikut serta mendukung setiap agenda-agenda yang lakukan oleh organisasi kemahasiswaan. Sebagai contoh, beliau menghadiri acara penutupan Kongres Kemaritiman GMNI Yang Ke-XXI Di Kota Ambon, dalam kegiatan itu penulis juga turut terlibat sebagai panitia lokal. 

Sehingga penulis mendengar langsung beliau menyampaikan pidato dalam agenda penutupan Kongres tersebut. Dalam isi pidato, beliau juga turut menyampaikan pandangan-pandangan tentang pentingya peran organisasi kemahasiswaan dalam mengontrol kinerja pemerintah untuk membenahi Maluku. 

Selain memberikan pandangan beliau juga mencairkan suasana ruangan kegiatan dengan candaan-candaan humoris, yakni dengan berkata “Muka saya ini mungkin jahat tapi hati saya tidak sejahat muka saya”, sehingga seluruh peserta yang hadir dalam ruangan merasa gembira dan suasana ruangan kegiatan begitu meriah.

Lantas bagaimana dinamika aktivitas gerakan mahasiswa pada masa Kepemimpinan Gubernur Maluku Murad Ismail?. Secara umum, aktivitas gerakan mahasiswa terlihat berjalan normal, tidak ada yang membatasi ruang gerak kalangan aktivis mahasiswa. 

Bahkan ada berbagai audiensi untuk menyampaikan saran pendapat secara langsung atau tatap muka dari kalangan aktivis kepada beliau. Gubernur Maluku ini akan dengan senang hati mendengar penyampaian dan setiap aspirasi terkait persoalan yang tengah dialami Masyarakat. 

Dalam satu kesempatan Gubernur Murad Ismail mengatakan, mahasiswa harus terlihat proaktif di mata masyarakat dan juga pemerintah. Gerakan apapun boleh saja, selama gerakan itu, baik audiensi maupun demonstrasi yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa, adalah bertujuan untuk kepentingan masyarakat dan membenahi Maluku. 

Penulis juga perna terlibat dalam beberapa gerakan aksi demonstrasi yang dilakukan aktivis mahasiswa, salah satunya gerakan aksi demonstrasi “Omnibus Law” yang dilakukan di tengah bencana gempa bumi yang melanda Kota Ambon. Aksi demonstrasi yang dilakukan aktivis mahasiswa itu berjalan baik dan lancar, karena dikawal hingga selesai dengan aman. 

Begitu pula beberapa aksi demonstrasi yang digelar pada masa Pandemi Covid-19, tetap saja demonstrasi tersebut dikawal sampai dengan poin tuntutan tersampaikan. Sehingga menurut penulis bahwa gerakan mahasiswa di masa kepemimpinan Gubernur Murad Ismail tetap proaktif sebagai “Social of Control” di mata masyarakat.

Sekalipun ada satu ‘drama’, karena setelah gerakan demonstrasi di Kantor Gubernur Maluku beredar informasi ada mahasiswa yang telah diculik. Lantas isu ini dikembangkan dan dikaitkan dengan Gubernur, sehingga sempat muncul penilaian bahwa beliau merupakan pemimpin yang otoriter dan membatasi hak-hak aktivis mahasiswa dalam menyampaikan pendapat. 

Belakangan isu penculikan dibantah oleh aktivis yang dikira telah diculik itu. Penulis pun menilai isu ini berlebihan, karena faktanya, dapat disaksikan sendiri bahwa sejak masa kepemimpinan beliau, jalanan maupun depan gedung instansi pemerintahan, selalu diramaikan oleh gerakan-gerakan yang dipelopori para aktivis mahasiswa dalam menyampaikan kepentingan rakyat maluku dan sekitarnya, tak ada pembatasan ruang gerak aktivis Mahasiswa.

Penulis berpikir bahwa, isu tersebut dibangun hanya untuk menjatuhkan popularitas beliau, terutama di kalangan para aktivis mahasiswa, kenapa penulis berani berkata demikian?. Karena andai saja beliau merupakan pimpinan yang otoriter, beliau bisa saja menggunakan alasan Pandemi Covid-19 dan bencana alam yang terjadi, sehingga dapat mencegah setiap aksi demonstrasi para aktivis mahasiswa. 

Tetapi hal itu tidak dilakukan, seperti pimpinan yang otoriter yang kerap kita saksikan membatasi ruang-ruang demokrasi mahasiswa. Menunjukan ada kesadaran bahwa, kepemimpinan saat ini adalah di negara demokrasi dan semua memiliki hak untuk menyampaikan segala aspirasinya. 

Terlepas dari berbagai penilaian atas Gubernur Murad Ismail, sampai di-fase ini saya menilai beliau sebenarnya merupakan sosok pemimpin yang terbuka secara pikiran dan sikap. Itu terlihat betul dari beliau selalu menerima setiap silaturahmi secara personal maupun kelompok kalangan aktivis mahasiswa.

Dalam berbagai pertemuan dan diskusi yang kerap dilakukan, para aktivis mahasiswa turut memberikan pandangan juga saran pendapat. Dan beliau juga selalu menerima saran dan pendapat yang disampaikan oleh para aktivis mahasiswa untuk membenahi setiap kebijakan yang telah dibuat.

Lantas apa terobosan Gubernur Maluku Murad Ismail yang ada kaitannya dengan gerakan mahasiswa?. Saya kita yang paling relevan salah satunya adalah respon beliau terhadap wacana mengenai “Lumbung Ikan Nasional” (LIN). Gerak cepat yang dilakukan Gubernur sejalan dengan respon positif pada kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda dalam menanggapi wacana tersebut. 

Langkah-langkah terukur dari Pemerintah Provinsi Maluku, seiring dengan berbagai seminar atau workshop yang dimonitori oleh aktivis mahasiswa dan pemuda termasuk perguruan tinggi. Baik itu dalam bentuk virtual atau diskusi online, maupun secara tatap muka, membuktikan bahwa wacana mengenai LIN yang beliau bangun, telah turut membuka daya pikir dan tanggapan berbagai kalangan yang muaranya adalah untuk memajukan Maluku. 

Menurut penulis selain terobosan beliau dalam gerakan mahasiswa, tentu ada sisi yang kalau dilihat masih belum optimal. Salah satunya adalah, sejauh ini, selama aksi demonstrasi yang dilakukan aktivis mahasiswa di depan Kantor Gubernur Maluku, beliau tidak hadir di hadapan mahasiswa untuk berdialog secara terbuka tentang tuntutan yang disampaikan para aktivis.

Atas ketidakhadiran beliau itu, justru membuat sebagian aktivis merasa kecewa, dan itu barangkali satu hal yang menjadi penilaian minus kepada beliau dalam dunia gerakan mahasiswa. Sebagai aktivis saya berharap konteks ini dapat dibenahi. 

Penulis percaya bahwa kedepan aktivitas gerakan mahasiswa di era kepemimpinan Gubernur Murad Ismail, dapat terus berperan aktif sebagaimana mestinya. Juga berharap Gubernur Murad Ismail di sisa masa kepemimpinannya, dapat membawa Maluku meraih berbagai prestasi, tentunya dengan terus bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya aktivis mahasiswa.

Ambon, 28 Juni 2021

Baca Juga  Hentikan Rasisme dan Kekerasan

Penulis adalah Fungsionaris DPC GMNI Ambon, tulisan ini untuk menandai 2 tahun Kepemimpinan Gubernur Murad Ismail