Suara Milenial: Untuk Maluku Rela Melepaskan Bintang – Lalui 2 Tahun yang Tidak Mudah

0
1774

“Menjadi sosok yang memiliki kemampuan kelas nasional namun merendah dan merayap di daerah.”

Oleh: Edison Waas

Tidak semua orang bisa seperti Irjen Pol (Purn) Murad Ismail yang dalam karir di tubuh Kepolisian Negara RI dengan jerih juang dapat meraih jabatan tertinggi sebagai Komandan Korps Brimob Indonesia. Rela ‘turun karir’ untuk memimpin Maluku, satu Provinsi ‘kecil’ dari 34 Provinsi di Indonesia.

Padahal masih punya waktu untuk berkarir dan memimpin Korps Brimob Murad atau bahkan naik pangkat. Namun justru melepaskan jabatan dan memilih menjadi gubernur yang notabene levelnya di bawah jabatan Kakor Brimob yang disandangnya kala itu.

Pernah diucapkan, untuk memajukan Maluku butuh pemimpin yang memiliki daya dobrak kuat di Jakarta. Dan hal ini telah dibuktikan, bahkan dengan pejabat setingkat menteri dirinya tetap ‘garang’ hanya untuk menyuarakan atau memperjuangkan kepentingan masyarakat Maluku.

Tidak bermaksud untuk mengungkit sepak terjang saat menghadapi salah satu menteri, namun watak kemalukuan itu benar benar ditunjukan. Bahwa Maluku yang selama ini tertinggal atau ditinggal, bukan pengemis namun adalah salah satu daerah yang melahirkan Indonesia, dan butuh perlakuan khusus.

Sistem birokrasi tetap ditaati dalam hubungan antara atasan dan bawahan namun kerap saja orang nomor satu di Maluku ini tidak segan untuk bersuara keras jika kebijakan itu tidak memberi dampak yang luas untuk masyarakat Maluku.

Dua tahun kepemimpinan Murad, sejumlah prestasi telah diraihnya. Upaya membuka investasi terus dilakukan dengan mendatangkan sejumlah kebijakan untuk membangun daerah termasuk membuka peluang ekspor komoditas dari Maluku ke sejumlah Negara.

Kendati ada saja kritik dan suara-suara minor tentang sosok yang pernah tinggal dan dibesarkan di Lorong Waihaong Kota Ambon ini, ia tetap memimpin dengan gaya yang berbeda, dan kerap tampil sebagai ‘orang tua’ untuk rakyat Maluku.

Pernah ada satu kejadian, saat baru menjabat sebagai gubernur, ada seorang anak muda yang mengunggah komentar yang bernada melecehkan Gubernur Murad, alih-alih marah dan melakukan proses hukum, ia justru mengajak anak itu beserta orang tuanya untuk makan malam bersama.

Murad Ismail, bisa melepaskan bintang di pundak untuk Maluku, adalah kesan kuat bagi saya sebagai salah satu milenial Maluku. Tulisan ini sengaja diukir sebagai salah satu bentuk apresiasi, karena seolah dia adalah ‘tuan’ yang memilih menjadi ‘hamba’.

Menjadi sosok yang memiliki kemampuan kelas nasional namun merendah dan merayap di daerah. Dan untuk menjadi pelayan di daerah seperti Maluku ini tidaklah mudah, karena karakteristik budaya dan perbedaan cara pandang yang sangat beragam. 

Gempita perhelatan politik saat pemilihan kepala daerah tahun 2019 silam, pendatang baru di dunia politik karena merupakan anggota Polri, namun dapat menumbangkan petahana dalam secara telak. Bahkan saingan lainnya adalah dua pasangan yang mewakili akar rumput dan memiliki basis massa yang jelas.

Sejarah kemudian mencatat, Murad Ismail bersama Barnabas Orno dengan slogan Baileo mampu tampil sebagai pemenang. Momentum dimana Murad harus melepaskan bintang di pundak untuk memanggul beban masyarakat Maluku yang lama termarjinalkan.

Politik hanya jalan, namun niatnya adalah mengembalikan kejayaan Maluku yang harus diakui secara terstruktur dimiskinkan. Dengan kondisi laut lebih luas dari daratan tentunya tidaklah mudah untuk mengatasi persoalan Maluku dengan segala persoalan yang ada. 

Masalah kesehatan, pendidikan, ekonomi dan hal-hal lain yang cukup urgen tentunya butuh sentuhan khusus dan mesti didesain oleh pemimpin yang memiliki karakter. Sebagai bukti, sejumlah pembangunan sudah dilakukan, seperti jalan lingkar Pulau Seram, jalan lingkar Pulau Haruku merupakan tahapan untuk memberikan akses kepada masyarakat untuk lebih produktif. 

Membuka akses tentunya memiliki manfaat terhadap terbentuknya strata ekonomi yang lebih baik sehingga karakteristik kepulauan justru dapat memberikan dampak menguntungkan. Bukan sebaliknya, terisolir dalam pulau, juga antar pulau.

Dua tahun Murad memanggul kegelisahan orang Maluku, dan kini kegelisahan itu mulai menemukan momentum untuk dapat senyum. Sejumlah proyek besar yang dalam proses implementasi seperti Lumbung Ikan Nasional di Maluku diharapkan dapat berjalan baik.

Itu semua tentu masih jauh dari ekspektasi publik, namun yang sudah diagendakan bukanlah akhir, karena tiga tahun masih ada. Banyak tantangan akan dihadapi sesuai dengan era dan masanya. 

Masih teringat segar pasca diangkat dan dilantik sebagai Gubernur Maluku Gempa Bumi mengguncang Maluku, begitu banyak korban harta benda hingga ada saja masyarakat yang harus tinggal di tenda pengungsian, karena rumah mereka rata dengan tanah termasuk aspek lainnya.

Melewati garis tahun kedua ini, lagi-lagi gempa melanda Tehoru, Pulau Seram, masyarakat setempat dan sekitarnya cukup terpukul dan harap-harap cemas agar gempa tidak berdampak buruk. Menjadi persoalan baru, dan Pimpinan Maluku harus putar otak untuk mengatasi persoalan yang ada.

Belum lagi Pandemi Covid -19 yang terus mengepung dan tentunya berdampak pada kinerja berbagai sektor, pemerintah dan juga swasta. Adalah realitas tak menguntungkan, tapi tak bisa di hindari.

Namun saya yakin, kita semua akan melewati masa-masa yang sulit ini, badai pasti berlalu. Di bawah Kepemimpinan Gubernur ‘Jenderal’ Murad Ismail, saatnya kita baku kele, atau bahasa milenialnya berkolaborasi, menuju Maluku yang lebih maju dan bermartabat.

Penulis adalah jurnalis di tabaos.id, tulisan ini adalah pendapat pribadi, turut menandai 2 Tahun Kepemimpinan Gubernur Murad Ismail