Viral, Permintaan ‘Paspor Kedutaan Besar Maluku’ dari Netizen Tinggi

    0
    3113

    TABAOS.ID,- Kritik publik Maluku lewat pembuatan ‘Paspor Kedutaan Besar Maluku’ yang diinisiasi oleh Beta Kreatif ternyata menjadi viral, dan di-share di berbagai media sosial. Upaya kritik dengan cara kreatif ini ternyata mendapat antusias warga Maluku.

    Hal ini ditandai dengan banyaknya permintaan warga untuk dibuatkan paspor. Permintaan ini rata-rata disampaikan di media sosial, kata Direktur Beta Kreatif, Ikhsan Tualeka kepada tabaos.id.

    “Banyak yang menghubungi kami untuk dibuatkan Paspor Kedutaan Besar Maluku, padahal ini salah satu gimmick atau satire untuk mendesak dan mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap masyarakat Maluku, khususnya dalam hal transportasi”, jelas Ikhsan.

    Menurut Ikhsan, Paspor Maluku itu untuk menyentil pemerintah, karena masalah tansportasi di Maluku itu tidak saja soal lonjakan harga tiket pesawat perjalanan dari Ambon ke Jawa, tapi lebih dari itu adalah terkait persoalan hubungan transportasi antar pulau di Maluku.

    M. Ikhsan Tualeka Direktur Beta Kreatif

    “Mungkin karena mau ikutan protes, atau mau menjadi bagian dari perlawanan atas ketidakadilan bagi Maluku selama ini, sehingga permintaan warga sangat tinggi, kami sampai kehabisan buku atau blangko Paspor. Ini mau dicetak lagi”, jelas Ikhsan.

    Dirinya menjelaskan, ini memang jadi simbol protes, namun ide kreatif ini bisa jadi peluang ekonomi kreatif, sebab dapat menjadi semacam tanda orang yang sudah ke Maluku, khususnya travelers. Paspor Kedutaan Besar Maluku bisa dibawa pulang sebagai cinderamata. Jadi semacam gimmick, sama seperti yang dibikin insan kreatif di Bakesi belum lama ini.

    Sebelumnya, seperti ramai diberitakan, ongkos perjalanan dari Ambon – Jakarta beberapa waktu terakhir ini sangat mahal, bahkan hampir sama dengan dari Jakarta – Amsterdam, sehingga orang Maluku yang mau ada keperluan ke Jawa sudah sama seperti pergi ke luar negeri. Kasihan mereka yang butuh transportasi cepat.

    Baca Juga  Tak Digaji Empat Bulan, Ellyas Pical dkk Mengadu ke Kemenpora

    Melonjaknya harga tiket Ini sudah berlangsung lama, hingga 4x lipat dari harga normal. Bahkan warga dari Aceh ramai-ramai bikin Paspor untuk lebih dulu ke Kuala Lumpur, Malaysia baru kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di Indonesia. Mereka cari alternatif yang kreatif.

    Sementara warga dari Maluku tidak bisa bikin cara yang sama dengan di Aceh, karena tak ada akses penerbangan langsung ke negara lain untuk sekadar transit. Menanggapi itu sebagai bentuk kritik, Beta Kreatif meluncurkan ‘Paspor’ Maluku. Paspor ini sebagai bentuk pertanyaan kritis, apakah Maluku masih di NKRI? Kalau iya, mengapa masih banyak ketidakadilan. “Ini bentuk satire simbolik dan kritik-kreatif”, jelas Ikhsan.

    Menurutnya Negara ini sudah terlalu lama dikelola dengan perspektif orang-orang yang tinggal di Jawa, di daerah daratan luas, yang kerap tidak mengerti dan tidak merasakan kesulitan orang-orang yang tinggal di wilayah kepulauan seperti kita di Maluku ini.

    “Harga tiket ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal keadilan, disitulah butuh campur tangan pemerintah atau negara, butuh tindakan afirmatif, atau keberpihakan. Coba lihat, orang mau berobat, mau melayat, mau urus surat-surat atau dokument lainnya, jadi terkendala soal ini”, tegas Ikhsan.

    Sementara menurutnya, di Jawa ada alternatif transportasi lain untuk bepergian, ada mobil lewat tol, ada kereta yang nyaman, karena semua akses terhubung lewat daratan.

    Bandingkan dengan di Kepulauan Maluku misalanya, mereka yang dari Kei, Saumlaki, Wetar, Aru, Leti, Moa, Lakor, Geser, Ambalau, Namrole, Namlea, Banda dan lainnya, untuk ke Ambon, ibu kota provinsi saja sulit, lama dan sengsara, apalagi kalau musim ombak.

    “Kasus tiket pesawat yang tak adil ini hanya ujung dari setumpuk ketidakadilan yang dirasakan Maluku selama ini. Padahal adil itu sudah harus dimulai sejak dari pikiran”, pungkas Ikhsan.(T08)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here