Fourth of July, Terbang ke Amerika

0
353

Tulisan ini dibuat 10 tahun lalu, 4 Juli 2009, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS, Independence Day atau Fourth of July, tabaos.id mengetengahkannya kembali.

Oleh: M. Ikhsan Tualeka

Siang itu, 9 November 2008, Sekretariat Moluccas Democratization Watch (MDW) di kawasan Jalan Baru Ambon kedatangan tamu tak biasa, yang datang adalah Mr. Scott Kofmehl, seorang diplomat Amerika Serikat (AS). Saya sudah dihubungi sebelumnya oleh pihak Konsulat Jenderal AS di Surabaya kalau ada diplomat mereka yang ke Ambon, antara lain untuk menemui saya.

Di Kantor MDW yang sederhana, saya dan Mr. Scott berdiskusi, di antaranya soal kondisi pemajuan HAM dan proses demokrasi di Maluku. Diplomat muda itu juga melihat-lihat berbagai dokumentasi dan kliping kegiatan MDW. Pertemuan itu rupanya adalah pintu masuk keikutsertaan saya dalam International Visitor Leadership Program (IVLP) ke AS.

Iya, dua bulan setelah kunjungan Mr. Scott, saya mendapat kiriman undangan dalam amplop kuning. Isinya menjelaskan detil program yang akan saya ikuti selama di AS. Itu artinya saya harus segera mengurus paspor. Ini menarik, sebab untuk pertama kali punya paspor dan langsung ke AS, gumam saya.

Setelah pengurusan paspor beres, begitu pula pengisian aplikasi online sebagai prosedur pengajuan visa, saya kemudian dijadwalkan ke Konsulat Jenderal AS untuk wawancara sebelum visa dikeluarkan. Semua perjalanan dan pengurusan visa ke Surabaya juga menjadi tanggungan Departemen Luar Negeri (Deplu) AS.

Saat mengurus visa itulah, saya baru tahu, ternyata saya tidak sendiri, ada tiga rekan lain dalam IVLP kali ini, yaitu Husen Alting, aktivis muda dan akademisi (belakangan ia menjadi Rektor Universitas Khairun Ternate), Miswar Fuady aktivis Solidaritas Gerakan Anti Korupsi Aceh, dan Ani Sumarni aktivis perempuan dari Bogor. Kita semua pertama kali ketemu dan berkenalan di Kedutaan Besar AS di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.

Baca Juga  Untuk Apa Paspor Kedutaan Besar Maluku?

Waktu berangkat pun tiba. Tanggal 3 Juli 2009, dari salah satu hotel di Jakarta Pusat, kami menuju Soekarno-Hatta International Airport. Sore itu, dari Jakarta dengan Garuda Indonesia Airlines, kami transit di Changi International Airport – Singapore untuk kemudian ganti pesawat American Airlines. Maskapai inilah yang selanjutnya menerbangkan kami menuju AS.

Menempuh kurang lebih 24 jam perjalanan dari Singapura, termasuk transit 1 jam di Narita International Airport – Tokyo, Jepang, kami pun tiba. Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Washington Dulles International Airport, Virginia. Ada perasaan lega dan senang, karena ini pengalaman pertama saya bepergian jauh menggunakan pesawat. Saya tak tahu sebentar lagi ada sedikit masalah yang menghadang.

Setelah ada dalam antrean panjang di pintu masuk imigrasi, tiba giliran saya berhadapan dengan petugas. Ternyata tidak seperti rekan lainnya yang bisa langsung keluar dari pemeriksaan imigrasi dan ambil bagasi. Saya ternyata diminta masuk ke salah satu ruangan lagi dan disuruh menunggu, paspor saya juga dibawa petugas. Rupanya apa yang kami takutkan terjadi juga, saya kena Secondary Check.

Memang saat briefing di Kedutaan AS kami sudah diingatkan bahwa di antara kami bisa saja ada yang kena Secondary Check, dimana prosesnya bisa makan waktu yang cukup lama. Belum lagi saat ke luar dari AS pun yang kena harus lapor terlebih dahulu di imigrasi.

Awal tahun 2009 ini, Bintang Bollywood Shah Rukh Khan juga kena Secondary Check sewaktu tiba di Newark Liberty International Airport, New Jersey. Memang pasca peristiwa 11 September 2001, penjagaan di bandara dan imigrasi AS lebih diperketat, seiring menguatnya Islamophobia, kebencian dan ketakutan akan semua hal yang berbau Islam. Sebagian besar orang Barat, menganggap bahwa Islam itu radikal, orang-orang yang punya nama seperti saya menjadi ‘korban’ phobia itu.

Baca Juga  Pentingnya Literasi Media di Era 4.0

Meski tamu Deplu AS dan mengantongi undangan resmi, dan telah pula saya tunjukan kepada pihak imigrasi, tak menjamin bisa lolos dengan mudah. Lebih dari 1 jam menunggu, dikumpulkan dengan sejumlah orang yang saya lihat rata-rata bertampang timur tengah, akhirnya ada petugas yang menghampiri. “Mr. Ikhsan, you can enter America, sorry for misunderstanding,” ucap petugas itu, sambil menyerahkan paspor saya.

Saya kemudian bergegas berjalan menghampiri rekan-rekan yang sudah lama menunggu di tempat pengambilan bagasi. Kita rupanya dijemput oleh Irawan Nugroho dan Shawn Calanan. Irawan adalah jurnalis senior yang telah lama bermukim di AS bahkan telah berstatus permanent resident. Sedangkan Shawn yang fasih berbahasa Indonesia adalah profesional warga AS yang direkrut Deplu AS untuk mendampingi kami.

Saat keluar dari bandara, hari telah menjelang sore, udara dingin, sekira 14 derajat celcius. Ternyata kedatangan kami tanggal 4 Juli, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS, Independence Day atau Fourth of July. Hari peringatan atas disahkannya Deklarasi Kemerdekaan oleh Kongres Kontinental Kedua pada 4 Juli 1776. Deklarasi tersebut merupakan proklamasi kemerdekaan Tiga Belas Koloni dari Kerajaan Britania Raya. Sama seperti di Indonesia, hari kemerdekaan juga menjadi hari libur federal.

Kami kemudian menuju Hotel Madera yang ada di pusat kota Washington DC, Ibu Kota Negara AS itu memang jaraknya tak begitu jauh, sekira 3 jam dari Dulles International Airport, yang ada di Negara Bagian Virginia itu. Tiba di hotel, sebelum naik ke kamar, Shawn mengingatkan jam 9 malam kita akan ketemu lagi di lobby, untuk keluar jalan-jalan melihat malam perayaan Independence Day.

Katanya di Hari Kemerdekaan biasanya ada pesta barbekyu, karnaval, piknik, konser, pertandingan bisbol, pidato politik, serta berbagai kegiatan dan upacara resmi yang berkaitan dengan sejarah, pemerintahan, dan tradisi AS. Dan yang selalu tak ketinggalan adalah parade dan pesta kembang api.

Baca Juga  Keterampilan Multikultural, Catatan 20 Tahun Konflik Maluku

Setelah beristirahat sejenak, mandi dan ganti baju, kami pun kembali berkumpul di lobby hotel, untuk sama-sama jalan kaki menikmati malam di Washington DC yang setiap rumah dan gedung dipasang bendera AS. Benar seperti cerita Shawn tadi, malam itu pesta kembang api benar-benar menghiasi langit, menambah kemeriahan orang-orang yang berkumpul di depan White House tempat Presiden Barack Obama tinggal dan berkantor.

Waktu mendekati jam satu dini hari, dalam perjalanan pulang ke hotel, menyusuri malam yang makin dingin, ada perasaan haru bercampur senang yang hinggap di dada, tak menyangka, lewat upaya kecil bersama MDW, berkutat pada sejumlah persoalan sosial, demokratisasi, penegakan hukum dan HAM di Maluku, telah ikut mengantarkan saya terbang ke sini, di Negeri Paman Sam.

Malam pertama di Washington DC memang berkesan, masih ada negara bagian lainnya yang akan kami singgahi seperti Rhode Island, Illinois, New Mexico dan California untuk belajar ‘Transparancy, and Good Local Government Practices’. Melihat langsung kemajuan tata kelola birokrasi pemerintahan yang telah dicapai AS. (*)

Washington DC, 4 Juli 2009

C

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here