Kepemimpinan Kapitan Pembangunan Infrastruktur Maluku ‘Bukan Kelang-Kaleng’

0
481

“Kepemimpinan Gubernur Murad dalam istilah Milenial sekarang, ‘bukan kaleng-kaleng’.”

Oleh: Franklin Stevan Dahoklory, S.Pd., M.Pd

Catatan pendek ini saya tuliskan untuk turut menandai 2 tahun kepemimpinan Irjen Pol. (Purn.) Drs. Murad Ismail sebagai Gubernur Maluku, yang didampingi Drs. Barnabas N. Orno sebagai Gubernur sebagai Wakil Gubernur. Usia Kepemimpinan yang relatif singkat untuk dinilai.

Tapi tak mengapa, bukankah 100 hari kerja pun kerap menjadi ajang penilaian masyarakat. Apalagi bila penilaian itu dapat ditulis dan menjadi semacam goresan penanda, sekadar untuk bahan evaluasi, atau bahkan sebagai pembangkit semangat dan optimisme.

Harus diakui, tak bermaksud untuk berlebihan, dalam rentang waktu yang pendek ini tercatat sudah cukup banyak gebrakan pembangunan diberbagai sektor yang dilakukan di bawah Kepemimpinan Gubernur Murad Ismail untuk mengatasi sejumlah problem. Utamanya berkaitan dengan upaya pengembangan infrastruktur dasar guna mendorong tumbuhkembangnya perekonomian daerah, mengatasi masalah kemiskinan.

Mengandalkan jejaring sebagai tokoh nasional, Gubernur Murad berhasil meyakinkan para pengambil keputusan di level nasional terhadap beberapa isu lokal yang sebelumnya terkesan “berat” dieksekusi. Misalnya terkait penetapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN) yang salah satu implementasi nya dengan dibangunnya Ambon New Port.

Demikian halnya saat Indonesia mengalami resesi ekonomi akibat Pandemi Covid-19 yang menyebabkan kondisi ekonomi rakyat lemah, Gubernur Murad mampu meyakinkan Pemerintah Pusat untuk memberikan pinjaman dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan berbagai infrastruktur dasar sebagai cara untuk memperkuat ketahanan ekonomi rakyat.

Pada aras lokal, ‘tangan dingin’ kompatriot Pak Murad, yakni Wakil Gubernur Barnabas Orno, mampu mengimbangi kepiawaian Sang Gubernur dengan menata birokrasi, menyelesaikan sejumlah problem sosial, menjembatani berbagai kepentingan di masyarakat, dan tentu saja mem-back up semua kebijakan Murad Ismail sebagai Gubernur.

Hal itu dibuktikan oleh Wagub Orno antara lain dengan aktif turun langsung menjumpai masyarakat dalam berbagai event-event mulai dari skala RT/RW, dusun/desa, kecamatan, hingga kabupaten. Bahkan, untuk urusan demonstrasi sekalipun, Wagub Orno tak ragu menjumpai dan mengajak berdiskusi.

Terlepas dari keunggulan-keunggulan tersebut diatas. Sebagai manusia biasa, terdapat sisi lain yang mungkin bisa dimaknai sebagai kekurangan dari mereka masing-masing. Gubernur Murad yang dibesarkan di lingkungan satuan Brimob (Kepolisian RI) ada karakter tegas, keras dan spontan, apalagi berkelindan dengan gaya orang Maluku yang memang kerap apa adanya.

Dalam sejumlah kesempatan ekspresi spontan itu dapat terlihat, bukan hanya soal sikap dan kepribadian, tetapi sampai dengan tutur bahasa pun terkadang menggunakan kosa kata keseharian ‘orang Maluku’, walau memang ada yang ‘tabu’ diungkapkan dalam forum-forum terbuka. Namun itulah manusia, masing-masing punya gaya atau style.

Itulah sosok Murad Ismail, suatu sikap yang menunjukkan keterbukaan, tidak perlu pencitraan, dan apa adanya. Sebaliknya, Barnabas Orno yang berlatar belakang birokrat terkesan sebagai figur yang tidak terlalu mau diekspos, tetapi dalam kesenyapan itu justru Wagub Orno juga mampu memainkan peran sehingga terlihat saling mengisi.

Meski begitu, tak ada gading yang tak retak, tak ada pribadi yang tak memiliki kekurangan. Namun dalam pandangan saya, jika harus ditimbang kelebihan dan kekurangan dari kepemimpinan di Maluku periode ini, sudah pasti lebih berat kelebihan-kelebihannya daripada kekurangan-kekurangannya.

Terlepas dari semua kontroversi tentang kepemimpinan mereka, tetapi bisa dilihat, mulai dari teras Maluku di Bandara Pattimura hingga jalan di lorong-lorong mulai diperbaiki. Dari trotoar di sepanjang jalan Kota Ambon sampai Kapal Ferry rute Maluku Tenggara sudah tersedia. Dalam istilah Milenial sekarang, ‘bukan kaleng-kaleng’.

Mulai dari urusan jaringan telepon seluler hingga urusan air bersih terus diupayakan agar tersedia atau terjangkau hingga di desa-desa. Setidaknya apa yang dilakukan on the track. Itulah mengapa saya memberi mereka gelar sebagaimana dalam judul catatan ini, ‘Kapitan Pembangunan Infrastruktur Maluku’.

Suatu gelar yang bisa jadi ada yang menganggap itu berlebihan, tapi saya mau mengajak kita untuk melihatnya dari sudut yang optimis. Satu gelar yang dapat membangkitkan atau terus menyalakan semangat dalam Kepemimpinan Gubernur Murad, sehingga kedepannya mau terus tampil berani yang berani mengambil resiko untuk kepentingan rakyat banyak.

Pada titik ini jualah, sebagai rakyat saya mengharapkan agar kelebihan-kelebihan mereka seperti ini yang patut kita eksplor dan terus dorong agar supaya bermanfaat bagi pembangunan Maluku kedepan. Mencari–cari kesalahan hanyalah membuat luka baru dan justru memancing kita untuk “bergulat” di tempat yang sama, sementara daerah lain terus berpacu maju kedepan.

Oleh sebab itu, sebagai generasi muda Maluku, saya memberikan apresiasi kepada Kepemimpinan Gubernur Murad dan mengajak semua anak Maluku untuk “baku tongka” dukung Kepemimpinan ini, dengan berbagai kontribusi yang bisa dilakukan. Yakinlah, bahwa dengan tetap melakukan yang terbaik dan tetap setia untuk rakyat kepentingan rakyat dan daerah Maluku, maka Tuhan Yang Maha Kuasa pasti menolong dan menyertai langkah setiap kita. Kokreto!

Ambon, 1 September 2021

Penulis adalah Staf Pengajar di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD PA- GMNI) Provinsi Maluku dan saat ini turut aktif di Ikatan Cendekiawan Muda Maluku (ICMMA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here