Para Politisi, Belajarlah Santun, Toleran, Empati dan Sederhana dari Para Pendiri Bangsa

0
209

“Soal kesantunan, menerima perbedaan pendapat, toleran dan penuh empati juga hidup sederhana, barangkali generasi hari ini mesti belajar banyak dari para founding fathers.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Baru-baru ini ada video viral anggota legislatif berkelahi dalam rapat di gedung dewan. Menambah daftar panjang kejadian perkelahian para politisi secara fisik, sebelumnya publik juga kerap dipertontonkan dengan drama yang tak lucu semacam ini, seperti makian salah satu bupati di Maluku kepada anggota dewan hingga berurusan di kepolisian.

Pun di dunia maya, beberapa room chatting virtual semacam WhatsApp Grup atau Facebook kerap kita baca ada perdebatan panas, diantaranya hingga menyerang pribadi, ada yang memaki, mengumpat, hingga ada yang keluar dari grup atau saling memblokir nomor kontak, bahkan ada pula yang berujung pada proses hukum.

Padahal dalam komunikasi virtual kerap ada keterbatasan dalam menangkap satu pesan dengan utuh. Karena tak ada mimik dan intonasi, sehingga bisa saja ekspresi yang sebetulnya penuh canda, ditanggapi serius, atau sebaliknya.

Apalagi bila yang berkomunikasi belum saling mengenal kenal karakter masing-masing, bisa lebih fatal lagi dalam mengambil satu kesimpulan. Dalam sejumlah debat politik, perbedaan pendapat tak jarang yang berakhir dengan permusuhan. Pembelahan sosial pun kian mengental dan mengemuka.

Ya, memang kalau sudah di room virtual atau media sosial warganet harus lebih open minded. Sebagai kaum intelektual pun harus dapat memanfaatkan kanal ini dengan positif, hadirkan persatuan, bukan malah perpecahan.

Soal menerima perbedaan pendapat, santun, toleran dan penuh empati, barangkali generasi hari ini mesti belajar banyak dari para founding fathers. Ada banyak cerita inspiratif, bagaimana para para tokoh bangsa ini memberikan contoh yang baik pada generasi saat ini.

Bila melihat perilaku politisi dan pejabat negara di masa lalu, di sana tercermin betapa mereka punya hati dan pikiran yang lapang. Mereka berdebat keras sampai berjam-jam untuk mempersoalkan hal mendasar. Bukan hanya itu, ketika beradu argumentasi, wajah mereka kerap berkeringat dan merah padam. Tapi, tak pernah satu pun dari mulut mereka meluncur perkataan makian dan kasar.

Mereka tetap santun dan bisa tetap menjaga sikap, generasi masa pemimpin nasional kita di masa awal kemerdekaan terlatih dengan logika. Mantan Perdana Menteri M. Natsir misalnya, tak pernah berkata keras dan mendebat secara personal. Bahkan, secara gentleman Natsir dan juga para pendiri bangsa lainnya, mengakui kelebihan lawan debatnya satu sama lain.

Seperti diceritakan oleh Lukman Hakiem yang pernah menjadi staf M. Natsir, dikutip dari Republika.co.id. Pada dekade 1950-an itu M. Natsir sebagai pemimpin Partai Masyumi yang berdebat keras dengan DN Aidit (Ketua Umum PKI) dalam sidang di Badan Konstituante.

Natsir dalam satu sidang, sebenarnya sudah merasa sangat kesal pada Aidit yang terus ‘ngeyel’ dengan pendapatnya. Apalagi, keduanya pun sudah debat selama berjam-jam mengenai bentuk dasar konstitusi negara.

“Pak Natsir mengaku saat itu sangat kesal. Beliau merasa sudah ingin melempar Aidit dengan kursi yang ada di dekatnya. Tapi, dia terus berusaha menjaga perkataan. Dan, Aidit pun begitu. Wajah dia sudah memerah. Meski begitu, keduanya ‘tetap bisa’ menjaga hati dengan terus mengunci rasa amarah yang begitu bergejolak di dada. Perdebatan sengit baru usai ketika sidang di-break untuk istirahat,” cerita Lukman.

Begitu sidang dihentikan sementara untuk rehat, Natsir pun segera mencari tempat duduk di kantin. Dan, baru saja Natsir duduk, tiba-tiba Aidit datang dengan membawa dua gelas kopi. Satu gelas diberikan untuk Nastir dan satu gelas akan diminumnya.

Setelah itu, Aidit mengambil tempat duduk di samping Natsir. Natsir pun mengucapkan terima kasih. Mereka kemudian berbincang dengan akrab. Perdebatan di ruang sidang badan konstituante tak dibawa ke luar atau menjadi persoalan personal.

Tak cuma dengan Aidit, begitu pula hubungan Natsir dengan Ignatius Joseph Kasimo, Ketua Partai Katolik Indonesia. Jika Natsir selalu berbicara mengutip Alquran, maka IJ Kasimo selalu menggunakan Alkitab. Keduanya selalu berdebat di Konstituante. Di luar itu, mereka sahabat.

IJ Kasimo berpendapat kepentingan rakyat adalah hal utama dalam politik. Sementara Natsir mencontohkan bagaimana teladan memimpin dengan sederhana dan antikorupsi.

Tokoh Mr Moh Roem, juga punya kisah yang sama. Roem yang juga adalah tokoh Masyumi ini punya cerita dengan Aidit yang dari PKI. Selepas siang, ketika sidang Badan Konstituante usai, keduanya pulang berboncengan dengan naik sepeda.

Aidit membonceng Roem yang kebetulan rumahnya tidak berjauhan. Rumah Pak Roem ada di Jl Cik Ditiro, Menteng. Sedangkan, Aidit rumahnya di dekat Stasiun Cikini. Jadi, mereka pulang searah karena tempat sidang Badan Konstituante saat itu berada di gedung yang kini dipakai Departemen Keuangan di kawasan Lapangan Banteng.

Para bapak bangsa ini ketika berdebat kerap tak hanya dengan cara oral, tapi melalui tulisan yang dimuat dalam media massa maupun surat pribadi yang kemudian dikumpulkan menjadi buku. Ini terlihat jelas dalam perdebatan yang berlangsung antara Soekarno dan A Hassan pada 1930-an, atau kemudian terjadi pada dekade berikutnya ketika Soekarno dan Natsir saling berdebat soal dasar negara.

Soekarno ingin memakai dasar negara nasionalis, sedangkan Natsir ingin memakai Islam. Dalam perdebatan itu ada satu hal yang menarik. Soekarno waktu itu meminta pendapat Natsir soal buku Ali Abdul Raziq yang menyetujui pemisahan negara dengan agama. Di situ, Natsir dengan cerdas menjawab sembari memohon maaf belum bisa menjawab karena belum membaca buku tersebut

Nah, di sini jelas tecermin kelapangan hati dari keduanya. Soekarno sabar menunggu Natsir membaca buku itu, dan Natsir kemudian berusaha mencari serta membaca buku Ali Raziq. Jadi, debat mereka sangat intelektual dan tidak ada makian, apalagi saling menjatuhkan secara personal. Inilah kehebatan para pendiri bangsa ini.

Mereka menjadi negarawan dengan menyemaikan pikiran, bukan mengumbar makian ke publik. Apalagi para tokoh bangsa tersebut ketika berdebat juga bukan karena didorong niatan yang bermaterikan kepentingan pribadi atau uang. Alhasil, mereka berdebat dengan ketulusan pemikiran yang tujuannya murni, yakni untuk memperbaiki nasib bangsa ini.

Seperti halnya Syafrudin Prawiranegara dan Hatta pernah berbeda pendapat dengan Soekarno. Tapi, hubungan pribadi di antara mereka tetap baik. Tak ada makian di sana meski perbedaan pendapat di antara mereka kerap sangat prinsip dan keras.

Selain kesantunan dalam pembicaraan, para ‘bapak bangsa’ juga telah menorehkan kebesaran hati untuk saling memaafkan. Bahkan, mereka siap meminta dan memberi maaf secara seketika bila merasa ada pihak yang tersinggung dalam pembicaraannya. Istilah gampangnya, tak ada sakit hati dan dendam yang sampai dibawa mati.

Sikap terpuji ini, misalnya, ditujukan pula oleh mendiang Buya Hamka. Meski dia sempat dimasukkan dalam penjara selama bertahun-tahun tanpa pengadilan oleh Presiden Soekarno, ketika sang proklamator meninggal, Hamka adalah orang pertama yang menshalatkannya.

Begitu juga Syafrudin Prawiranegara. Meski sempat diberlakukan tidak adil dan sempat menganggap Soekarno memimpin negara dengan salah jalan, di ujung hidupnya ia secara jelas menyatakan: ”Jasa Bung Karno kepada bangsa ini tetap jauh lebih besar dari kesalahannya. Dan, Allah SWT pasti telah mengampuninya!”

Bangsa ini tegak berdiri karena para founding fathers yang toleran dan juga penuh empati. Seperti juga cerita Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah M. Natsir. Adalah sosok yang dikenal hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Melihat kondisi itu, Ketua Umum Partai Katolik Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah untuk Prawoto.

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung fairness. Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebuk dengan Hatta! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proklamasi, itu perbuatan pengecut!”.

Bangsa ini besar juga karena kesederhanaan para pemimpinnya. Seperti bisa dilihat pada Bung Hatta yang pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya untuk kelak jika punya uang, bisa membelinya.

Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally.

Uang tabungannya diambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

Satu lagi kisah yang melegenda datang dari seorang Hoegeng, Kepala Kepolisian RI ke-5, saat dirinya masih bertugas di Medan dengan pangkat kompol. Di sana, dia membongkar praktik suap menyuap pada para polisi dan jaksa di Medan yang menjadi antek bandar judi.

Berbeda dengan polisi lainnya, Hoegeng tidak mempan disuap. Barang-barang mewah pemberian bandar judi dilemparnya keluar jendela. Baginya, lebih baik hidup melarat dari pada menerima suap atau korupsi. Prinsip hidup itu ia rupanya ditiru dari mantan Wakil Presiden M. Hatta.

Hari-hari ini kita menyaksikan situasi yang sangat berbeda. Hilangnya kehangatan sosial, meski dunia makin terkoneksi dengan adanya media sosial. Belum lagi secara telanjang para elite menumpuk harta, tak peduli bagaimana caranya. Membaca cerita para tokoh di atas mestinya menjadi pelecut generasi hari ini.

Apakah bangsa ini akan jadi pemenang atau pecundang. Jadi ksatria atau pengecut. Jadi besar atau kerdil. Jadi pemaaf atau pendendam. Jadi penuh empati atau suka menghakimi. Jadi penyebar damai atau penyebar fitnah. Semua ada pada kita sendiri, generasi hari ini. Bisakah membuat sejarah sendiri, atau sekadar membaca sejarah.

Penulis adalah pegiat sosial, tulisan diolah dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here