Respon, Kultur dan Politik: Telaah Ekspresi Gubernur Murad Ismail

0
1308

“Satu sikap atau ekspresi spontan harus dapat pula diterjemahkan dalam ruang, waktu dan kultur orang-orang yang mengekspresikan itu.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Satu lagi polemik terkait video viral ekspresi atau respon Gubernur Murad mengemuka, terutama di media sosial. Berbagai perspektif dan argumen berseliweran. Tulisan pendek ini tidak untuk memberikan justifikasi, namun untuk kita melihatnya dengan lebih open minded.

Satu sikap seseorang tentu saja ada dalam penilaian yang berbeda pada setiap orang. Tergantung cara pandang, kultur dan juga kepentingan politiknya, atau standar apa yang mau digunakan dalam penyikapan.

Yang pasti mengenali motif, mens rea atau sikap batin seseorang bisa jadi salah satu alat ukur apakah satu sikap itu bisa dimaklumi atau dipersalahkan. Motif memang sulit ditebak, tapi bisa dilihat atau dikenali oleh orang yang kenal dengan kebiasaan atau keseharian subjek pemberi pesan itu.

Perspektif di atas bila dikaitkan dengan video viral Gubernur Murad menantang pendemo di Buru baru-baru ini (tanpa bermaksud membenarkan) sebagai orang yang cukup kenal dengan Gubernur Murad, saya mau pastikan kalau itu bukan ekspresi serius dari orang nomor satu di Maluku itu. Oleh sosok yang diketahui punya perasaan penuh kasih sayang pada orang lain, apalagi pada warganya sendiri.

Artinya, ekspresi itu hanyalah respon natural dalam konteks kultur pemberi dan penerima pesan atau sikap. Ibarat respon dari seorang ayah kepada anak-anaknya yang dinilai bersikap kurang pantas saat ada acara formal dan monumental, dalam hal ini, peresmian pelabuhan laut ‘Merah Putih’ di Kabupaten Buru.

Satu ekspresi yang dapat dimaklumi. Betapa tidak, acara hendak dimulai, tapi ada sekelompok orang yang tiba-tiba datang dan seperti mau mengganggu jalannya acara. ‘Orang tua’ mana, dalam hal ini Gubernur tidak tersinggung atau kecewa menyaksikan ada masyarakatnya yang begitu.

Respon spontan dan terbatas yang dalam kadar tertentu di Maluku sejatinya biasa-biasa saja itu, menjadi masalah kemudian justru karena ada yang sengaja menyebarluaskannya konten tersebut di media sosial, yang kemudian memunculkan beragam reaksi publik. Tanggapan yang beberapa diantaranya terkesan liar dan tendensius karena disulut oleh kepentingan atau tendensi politik.

Sesuatu yang wajar saja dalam ruang dan diskursus politik. Namun menjadi kontraproduktif dan tidak adil, ketika khalayak akhirnya jadi tersita waktu dan energinya untuk hal yang sepele itu, dan tak melihat ada banyak agenda substantif yang berjalan, seiring kedatangan atau kunjungan Gubernur Murad dan rombongan di Kabupaten Buru.

Ada opini yang terkesan dibangun secara sistematis untuk khalayak lebih fokus pada insiden kecil, dan abai pada upaya-upaya signifikan yang telah dan akan dibuat. Orang jadi seperti terjebak hanya melihat pada yang kurang, bukan pada pencapaian yang positif.

Padahal, pada insiden kecil itu (sekali lagi tidak untuk membenarkan) jika mau menggunakan kacamata atau perspektif ekspresi seseorang yang terbangun dari satu kultur tertentu, khalayak akan dapat melihat dengan lebih jernih dan cenderung memaklumi.

Seperti dalam berbagai pertemuan, bahkan di acara resmi, kata ‘Jiancok’ kerap kita dengar dalam sambutan, penyampaian atau candaan sejumlah tokoh di Jawa Timur. Kata yang bisa jadi akan dimaknai beda di ruang dan konteks yang berbeda, apalagi oleh orang dari kultur yang tak sama.

Begitu pula kita di timur yang dikenal keras. Gubernur NTT Viktor Laiskodat bahkan pernah adu mulut hingga terkesan mau adu jotos dengan salah satu tokoh adat Sumba Timur. Insiden yang bagi orang dari kultur yang lebih halus seperti di Jawa, akan terlihat kurang pantas, tapi bagi kita yang di timur dalam kadar tertentu bisa dimaklumi.

Dalam contoh lain, bisa kita saksikan, bila ada dua atau lebih orang timur yang sedang duduk bercerita di satu kedai kopi atau cafe di Jakarta, akan terdengar suara tinggi yang terkesan atau terlihat oleh warga setempat kalau ada konflik atau pertikaian, padahal itu hal biasa bagi orang-orang timur, khususnya Maluku.

Artinya pula, satu sikap atau ekspresi spontan harus dapat pula diterjemahkan dalam ruang, waktu dan kultur orang-orang yang mengekspresikan itu. Karena bisa jadi adalah ekspresi kepedulian, tapi dengan memakai standar dan kultur tempat atau daerah lain, ditambah muatan dan kepentingan politik, akhirnya menjadi amunisi untuk menyerang dan menyudutkan orang lain.

Satu situasi yang membuat Maluku sulit maju, karena polemik dan perdebatan justru bukan pada hal-hal substantif, tapi pada hal-hal remeh-temeh, yang sejatinya adalah hal yang dapat saja dimaklumi dalam interaksi sosial orang Maluku sebagai satu rumpun atau keluarga besar: Anak-bapak, kakak-adik, dan sebagainya.

Penulis adalah Founder IndoEast Network