Suara Milenial: Setelah Dua Tahun Dalam Kendali Tangan Dingin Upu Latu Maluku

0
242

“Beruntung mulai ada secercah harapan. Setelah lebih dari dua tahun kepemimpinan Maluku ada di bawah komando Gubernur yang mau dan mampu melihat Maluku dari Jakarta.”

Oleh: Jandri Tuhumury, S.H

​Sejarah perjalanan panjang 76 tahun Maluku menjadi bagian dari Indonesia, turut ditandai dengan ditunjuknya Mr. J. Latuharhary sebagai orang Maluku pertama yang menjadi Gubernur Maluku. Kemudian sejarah kepemimpinan Gubernur Maluku terus bergulir, hingga saat ini. 

Irjen Pol (Purn) Drs. Murad Ismail terhitung adalah Gubernur yang ke-13. Namun perjalan provinsi ini tidak begitu mulus. Memang memimpin Maluku dengan segala kompleksitas permasalahannya yang ada tentu bukan hal yang mudah, apalagi dengan kondisi geografi yang menantang. Wajib mendapat dukungan penuh dan sinergi yang berkelanjutan dari seluruh masyarakat Maluku.

Maluku yang merupakan Provinsi Kepulauan dengan luas wilayah 712.480 Km2 yang terdiri dari 92,4 persen adalah lautan dan 7,6 persen adalah daratan dengan jumlah pulau mencapai 1.412 buah pulau dan 10.662 panjang garis pantai (data DPMPTSP Provinsi Maluku) membutuhkan perhatian yang lebih dari pemangku kewajiban Nasional.

Diperlukan adanya konektivitas antar pulau dengan infrastruktur yang memadai guna menunjang proses pertumbuhan ekonomi. Tanpa semua itu, Maluku tak akan banyak berubah dari pemerintah yang satu pada pemerintah berikutnya. Keadaan akan tetap sama.

Ya, kenyataan yang ada, Maluku ada dalam daftar predikat “provinsi miskin” dan masih konsisten menempati posisi ke-4. Dari data BPS per September 2020, menunjukan bahwa dari total  jumlah penduduk Maluku 1.848.92 ribu jiwa, 17,99  persen masih hidup dalam kemiskinan.

Hal ini tentu meresahkan kita dan menyisakan tanda tanya besar. Dengan segala kekayaan alam dan potensi sumber daya manusia orang Maluku yang begitu hebat dalam berbagai bidang, mengapa kita masih sulit menemukan solusi. Apakah pemimpin yang sebelumnya tak mumpuni, atau rakyatnya yang kurang bersatu?

Tidak hanya soal kemiskinan, Banyak tempat di Maluku yang belum teraliri listrik, begitu pula dengan akses pendidikan dan kesehatan yang masih sulit atau belum memadai. Atas semua kondisi yang ada, entah kepada siapa rakyat Maluku harus mengeluh, mengadu atau bahkan berteriak. 

Beruntung mulai ada secercah harapan. Setelah lebih dari dua tahun kepemimpinan Maluku ada di bawah komando Gubernur yang mau dan mampu melihat Maluku dari Jakarta. Sesuatu yang penting, mengingat  selama ini semacam ada kebuntuan “Mengakses Jakarta dari Maluku”.

Keberadaan dan kapasitas yang dimiliki Gubernur Murad Ismail diharapkan dapat menjembatani berbagai perencanaan pembangunan Maluku, sehingga mampu digoalkan tanpa hambatan yang berarti. Belakangan harapan-harapan yang ada mulai menemukan momentumnya dibawah kendali Sang Gubernur.

Menggerakan Potensi Kaum Muda

​Data Sensus Penduduk 2020 oleh BPS Provinsi Maluku, memperlihatkan mayoritas penduduk Maluku didominasi oleh generasi Z dan Milenial. Proporsi generasi Z sebanyak 35 persen dan Milenial sebanyak 26 persen dari total populasi di Maluku. 

Hal ini seharusnya mampu menjadi kekuatan besar Maluku untuk terus berbenah. Peningkatan jumlah usia produktif (15– 64 Tahun) harus seimbang dengan produktivitas dan inovasi di berbagai bidang. Hal itu memerlukan adanya sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan masyarakat, harus selalu saling merangkul bukan memukul.

Jangan kemudian yang terjadi adalah benturan kepentingan publik dengan kepentingan individu atau golongan. Meski kita percaya bahwa kekuatan Pela-Gandong dan Budaya hidop orang basudara yang diwariskan leluhur adalah perekat untuk kita selalu mengutamakan kepentingan Maluku tanpa memandang agama ataupun suku.

Kedepan potensi dan prestasi anak muda di Maluku juga terus diupayakan agar mengalami peningkatan. Dan untuk itu, sejatinya Pemerintah Daerah harus selalu memberi ruang dan kesempatan untuk melihat serta memanfaatkan karya dan setiap potensi terbaik dari generasi muda, bagi kemajuan daerah ini. 

​Dalam dua tahun kepemimpinan Gubernur Murad Ismail, perlu kita akui ada banyak proyek strategis yang telah berhasil diupayakan masuk ke Maluku, akibat tangan dingin Upu Latu Maluku itu. Apalagi secara perlahan teropong Jakarta juga mulai mengarah ke Maluku.

Ditandai dengan, sebut saja terkait LIN dan Ambon New Port yang akan dimulai prosesnya dalam waktu dekat. Hal ini juga sekaligus menjawab keraguan masyarakat Maluku terhadap Komitmen MI (sapaan akrab Gubernur Murad Ismail) dalam memimpin dan menata arah pembangunan Maluku yang lebih baik .

​Kita pun turut menyaksikan sejumlah keberhasilan dibawah kepemimpinan MI, di mana selama dua tahun berturut-turut Maluku berhasil meraih WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan, begitu pula hasil baik juga diperlihatkan dari sisi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2021, Maluku dan juga Papua mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 8,75 persen melebihi pertumbuhan ekonomi di daerah pulau jawa maupun sumatera (sumber data: BPS/ bisnis.com)

Walaupun sudah setahun lebih kita masih dilanda Pandemi Covid-19 yang tentu sangat berdampak signifikan pada sektor ekonomi, namun ada progres positif yang dicapai dalam kepemimpinan Gubernur MI. Seperti tercatat lewat angka pengangguran di Maluku yang mengalami penurunan per Februari 2021. Berdasarkan data terakhir BPS pada Mei 2021.

Meski tingkat pengangguran terbuka (TPT) Provinsi Maluku masih tinggi, mencapai 56.301 orang atau sebesar 6,73 persen. Tap kedepan dengan adanya realisasi sejumlah program dan proyek Pemerintah, angka pengangguran diharapkan dapat lebih ditekan secara signifikan.

​Memang tak semua hal semudah membalik telapak tangan, dan semua kepemimpinan pasti menyisakan kekurangan, atau tak dapat memuaskan semua orang, Namun apa yang tersaji hari ini, dalam kurun dua tahun waktu kepemimpinan Gubernur MI, harus diakui progresnya meyakinkan.

Masih tersisa tiga tahun lagi untuk periode yang pertama ini, dan untuk itu kolaborasi harus semakin diperkuat elemen oleh berbagai elemen Maluku. Kontestasi politik memang tak bisa dihindari dalam Negara demokrasi, namun ada batasnya. 

Yang terpenting adalah partisipasi dan sinergi membangun Maluku harus tetap menyala dalam dada setiap orang Maluku. Agar generasi hari ini mampu berbenah, menghasilkan karya untuk mewariskan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.

Mau sampai kapan kita fokus pada kelemahan bukan kekuatan. Mengapa harus menghakimi padahal ada pilihan atau ruang untuk saling mengapresiasi. Mari kita bergandeng tangan bersama-sama, terutama antara pemuda (masyarakat) dengan para pemimpin dalam hal ini Sang Gubernur, Upu Latu Maluku berjuang untuk masa depan Maluku yang lebih baik. Maluku Bangkit, Bangkit untuk Maluku. Kokreto!

Ambon, 6 September 2021

Penulis kelahiran Kota Ambon ini adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Pattimura. Juara III Lomba Pidato Anti Narkoba BNNP Maluku (2014) ini memang senang berorganisasi, Jandri tercatat sebagai Ketua DPD Pergerakan Pelajar Indonesia Raya (Parindra) Maluku (2018 Sekarang), Sekretaris AMGPM Cabang Zaitun Daerah Pulau Ambon (2018 2021), Wakil Ketua DPD ll KNPI Kota Ambon (2018 2020). Ia saat ini juga tergabung di Ikatan Cendekiawan Muda Maluku (ICMMA). Instagram: @tuhumury.jandri 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here