LIN dan ANP Belum Jelas Realisasinya, Perlu Ada Pengembangan Industri Lain Berbasis SDA Maluku

0
995

TABAOS.ID,- Implementasi atau realisasi Lumbung Ikan Nasional (LIN) dan Ambon New Port (ANP) karena berbagai alasan menghendaki Maluku perlu mengupayakan berbagai alternatif industri lainnya yang lebih siap.

Pemerhati pembangunan Maluku, Saleh Wattiheluw dalam diskusi di salah satu grup Whatsapp komunitas Maluku (16/02/2022) mengatakan bahwa melihat gejala yang mengemuka, LIN dan ANP gagal atau ditunda.

“Beta ikuti berbagai diskusi serta baca progres ANP dan LIN secara terbuka, termasuk live proses di DPR dan Pempus katong bisa pastikan LIN & ANP untuk Maluku pending alias gagal”, urai Saleh.

Menurut mantan anggota DPRD Provinsi Maluku ini, LIN atau ANP mau dibiayai dengan APBN, KPBU, bahkan APBD ataupun swasta nampaknya masih sumir, tidak jelas, padahal Maluku sangat berharap proyek strategis ini bisa berjalan. 

“Indikasi pending atau tertunda karena belum ada kejelasan dapat terbaca dari legal standing, berupa Kepres, Perpres atau Peraturan Pemerintah soal itu (LIN dan ANP.red) belum ada”, jelas Saleh

Saleh menambahkan, soal kondisi keuangan negara yang lagi seret dan pemerintah tengah pusing harus cari cara untuk bayar utang Negara, itu bukan urusan masyarakat Maluku, itu urusan pemerintah dalam hal ini presiden dan kabinetnya.

“Bagi katong Maluku adalah bagaimana Pemda dalam hal ini gubernur, bupati, walikota harus berpikir untuk mensejahterakan penduduk Maluku yang hanya berjumlah 1,8 juta jiwa dalam pengertian luas”, harap Saleh.

Menyikapi situasi ini, Saleh mengajak semua pihak untuk lebih jujur dan terbuka, jangan ada kesan menyembunyikan fakta yang sesungguhnya.

“Beta kira katong seng perlu diskusi soal LIN lai karena LIN bukan barang baru, mungkin selama ini katong kalah dalam strategi, atau katong gagal paham, katong harus jujur untuk bicara terutama Pemda bahwa LIN  pending”, jelas Saleh.

Dirinya justru menyarankan pemerintah daerah dan komponen masyarakat Maluku mengupayakan pengembangan sektor industri alternatif lainnya yang bersandar pada potensi daerah.

“Sebaiknya pressure atau bicara program lain misalnya bangun perkebunan pala atau cengkeh atau bangun industri pengolahan ikan atau industri pengolahan minyak kelapa dan lainnya”, pungkas Saleh.

(T-05)