Kerikil Pariwisata: Catatan Pendek dari Pulau Ambon

0
477

Oleh: Katipana Leli Ngantuk

Hari Minggu lalu, kami piknik di beberapa tempat. Salah satunya di lokasi wisata di daerah jazirah (Leihutu Ambon.Red).

Di daerah jazirah, kami mencari-cari lokasi yang nyaman. Setelah lelah berputar-putar dalam kemacetan kendaraan yang diparkir menghalangi jalan, akhirnya kami sepakat untuk berhenti di salah satu “paparisa” di sana untuk melepas lelah dan mengisi perut.

Sebelumnya kami telah membayar untuk akses masuk ke lokasi tersebut per kepala.

Kami membeli beberapa pisang goreng, minuman dan mi rebus plus telur sambil menikmati pemandangan laut dan orang-orang yang berenang dan menyelam di sana.

Setelah kurang lebih satu jam, kamipun berniat pulang setelah membayar semua makanan dan minuman yang kami beli.

Ketika pamit hendak pulang, si penjual menghampiri kami dan mengatakan bahwa kami harus membayar “harga tampa” (tempat duduk. Red) sebesar Rp.50.000,- .

Saya hendak memprotes si penjual karena merasa “dibogok” tetapi salah satu teman mencegah saya. Ia dengan sigap kemudian mengajak kami semua untuk tanggung renteng bersama.

Di sepanjang perjalanan pulang, fokus pembicaraan kami hanya tentang kegusaran “harga tampa” tersebut. Saya terutama merasa ditipu karena penjual tidak mengatakan sebelumnya jika tempat yang kami duduki itu harus dibayar.

Lagi pula, kami membeli dagangannya, bagaimana kami harus makan dan minum kalau tidak duduk di meja dan tempat duduk yang disediakan?

Kira-kira kami harus berdiri di luar “paparisa” itu di mana hanya ada jalan sempit tempat orang lalu lalang atau di atas air laut sambil makan mie rebus panas-panas?

Kami tidak habis berpikir, bagaimana kami harus membayar tempat duduk dan meja tempat kami makan makanan yang dijual oleh si penjual tersebut? Sungguh kegusaran yang membuat kami jera untuk kembali ke sana.

Jauh beberapa tahun lalu, peristiwa yang mirip terjadi kepada sepasang turis mancanegara. Mereka hendak naik angkot biasa dengan harga regular dari Bandara Pattimura ke kota.

Sebelum naik, sudah ada kesepakatan dengan sopir angkot jika mereka akan membayar ongkos angkot seharga seperti para penumpang lainnya membayar.

Sesampainya mereka di Latta, sepasang turis tersebut turun dan membayar, namun sopir angkot tidak mau dibayar sesuai kesepakatan, ia bersikeras agar sepasang turis tersebut membayar sebesar Rp.200.000,-.

Dibantu penumpang lainnya –karena sepasang turis tersebut tidak dapat berbahasa Indonesia, terjadi adu mulut kurang lebih 3 menit, tidak ada titik temu.

Akhirnya sepasang turis tersebut mengalah dan memberikan uang Rp.150.000 kepada sopir angkot tersebut.

Kejadian berikutnya, juga terjadi beberapa tahun lalu, ada satu turis perempuan melintas di jalan Tulukabessy bersamaan dengan anak-anak pulang sekolah.

Segerombolan anak laki-laki berseragam putih abu-abu kemudian menggoda turis tersebut dengan meneriaki “Mister! Mister!”. Lalu mengejarnya sambil mengajak kenalan.

Tentu saja turis tersebut tersipu jengah. Ia lalu mempercepat jalannya sampai di terminal Mardika dan melompat ke salah satu angkot.   

Kejadian-kejadian kecil seperti ini sama seperti kerikil yang menghambat pengembangan pariwisata di daerah. Penikmat wisata biasanya tertarik berkunjung selain karena pemandangan alam juga keunikan masyarakatnya.

Kita sering berkata bahwa pemandangan alam terutama laut dan pantai di Maluku tidak kalah indah mempesona dengan laut pantai di Bali tetapi kita lupa satu hal bahwa pariwisata adalah tentang banyak hal terkait di sana, terutama adalah orang-orangnya.

Jika kita menilik kejadian-kejadian di atas, hanya satu kesimpulan yang dapat dipetik: kita belum siap mengembangkan pariwisata sebagai andalan untuk mengerek perekonomian.

Ambon, 15 April 2021

Penulis adalah jurnalis senior, catatan diambil dari laman Facebook-nya.

Baca Juga  Jangan Pesimis Atas Masa Depan Maluku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here