Mendorong Masyarakat Gemar Membaca = Membangun Peradaban

0
404

“Para pecinta buku akan excited dan berdiskusi soal buku manakala bertemu. Itu pula saat saya dengan Jaswin, Putri Indonesia 2022 dari Maluku bertemu yang fotonya saya jadikan latar catatan ini.”

Oleh: M. Ikhsan Tualeka

Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa ini belum memiliki budaya membaca yang baik. Bila indikator ini dikaitkan dengan jumlah referensi yang dihasilkan setiap tahun, dimana jumlah referensi yang dihasilkan di negara ini hanya lima ribu buku per tahun.

Angka ini bila dibandingkan dengan Negeri Jiran Malaysia yang sudah mencapai sepuluh ribu buku pertahun. Apalagi dengan Negara Amerika yang mencapai seratus ribu buku pertahun, maka negara kita sangat tertinggal.

Wajar bila negara kita lebih dikenal sebagai negara yang lebih inrasional, dimana cara berpikir dan bertindak masyarakatnya lebih didasarkan pada sesuatu yang rasional, atau tahayul dibandingkan dengan cara berfikir rasional.

Dimana-mana, mulai masyarakat bawah sampai masyarakat kelas atas, aktivitas tahayul kerap ditemukan. Tidak saja di level masyarakat awam, pada pejabat pun demikian. Misalnya ada yang sampai percaya pada pawang hujan oleh sekian pejabat ketika akan meresmikan suatu proyek.

Sehingga tidak heran, bila bangsa ini sulit terangkat dari keterpurukan. Angka kemiskinan terus naik, walaupun telah berbagai program pengentasan kemiskinan dilakukan, karena masyarakat tidak bisa merasionalkan program pemerintah.

Sehingga tidak heran, bangsa ini tidak bisa bersaing dengan bangsa lain. Ketika negara-negara lain berlomba untuk menonjolkan aspek teknik sepak bola dan kenyataannya lebih maju dalam bidang tersebut, masih banyak di masyarakat kita yang percaya bahwa dengan menggunakan kekuatan-kekuatan magis maka akan mampu memberdayakan penjaga gawang.

Memang, kebiasaan bangsa kita dalam beberapa aspek kehidupan masih diwarnai dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, karena itu bagian dari proses sejarah bangsa ini. Namun, karena tidak adanya budaya membaca yang baik membuat sebagian besar masyarakat di negara ini masih tergantung pada kepercayaan-kepercayaan tersebut.

Selain kepercayaan akan takhayul yang mereduksi perilaku gemar membaca, budaya lisan atau ‘gosip’ juga menjadi persoalan utama pengembangan minat baca masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih menggunakan budaya lisan dalam berkomunikasi.

Penggunaan bahasa tulis sangatlah jarang. Tak aneh, jika banyak kesepakatan yang pernah dibuat akhirnya berakhir di pengadilan karena kesepakatan – kesepakatan yang dibuat tidak terdokumentasikan secara tertulis. Banyak informasi-informasi penting hilang begitu saja karena tidak terdokumentasi.

Banyak petisi-petisi dan momentum penting lainnya tidak terdokumentasikan sehingga masyarakat kurang referensi dalam mengungkapkan apresiasi kebangsaannya. Rendahnya budaya membaca masyarakat kita juga disebabkan kurangnya peran pemerintah dalam membudayakan gemar membaca.

Sangat jarang ada perpustakaan di desa-desa atau di tingkat RT maupun RW, apalagi perpustakaan keliling sangat jarang ditemukan. Rendahnya budaya membaca juga disebabkan masih mahal harga buku. Pemerintah juga belum memberikan perhatian utamanya soal subsidi pada pengadaan buku-buku sehingga harga buku masih sulit terjangkau oleh kocek masyarakat bawah, akibatnya masyarakat kurang memiliki akses pada buku bacaan.

Nilai Strategis Budaya Membaca

Dalam ajaran agama, membaca sangatlah penting. Dalam Islam, ayat pertama dari Al-Quran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah surat Al-Alaq. Dalam ayat pertama surat itu, Allah memerintahkan untuk membaca (Iqra) disebutkan tiga kali. Begitu pula dalam kitab-kitab suci lainnya, akan ada ayat yang menegaskan pentingnya ilmu atau membaca.

Membaca dalam arti luas dan sempit perlu direnungkan lewat ayat yang saya kutip di atas. Menjadi relevan, bila indikator negara maju dikaitkan dengan gemar membaca. Semakin maju suatu negara maka semakin banyak halaman buku yang dibaca.

Berbagai data menunjukan bahwa negara-negara maju masyarakatnya rata-rata membaca lebih dari seratus halaman buku setiap hari. Di Jepang, sangat jarang terlihat masyarakat berkerumun dan ngobrol tanpa arah. Mereka selalu disibukkan dengan keasyikan membaca. Situasi ini sering terlihat di tempat-tempat tunggu atau di dalam kereta api dan angkutan massal lainnya.

Di Malaysia, salah satu negara tetangga yang amat pesat kemajuannya di segala bidang, pemerintahnya sangat memberikan perhatian besar pada pembiasaan masyarakat gemar membaca. Di beberapa lokasi dapat ditemukan motto untuk membangkitkan semangat membaca.

Selain motto, masyarakat juga memberikan kemudahan masyarakatnya untuk akses pada buku ataupun informasi. Subsidi besar-besaran diberikan kepada masyarakat untuk memperoleh buku murah. Pemberian penghargaan serta subsidi pada pengarang juga menjadi prioritas utama pemerintah.

Pantas bila Malaysia secara perlahan-lahan mulai setapak lebih maju dari negara kita. Walaupun dalam tiga dekade sebelum ini masyarakat Malaysia masih belajar pada negara kita. Dengan demikian, untuk maju dan berperadaban, tidak ada kata lain kecuali harus diawali dengan kebiasaan masyarakat gemar membaca.

Kita juga harus memiliki motto sebagai alat motivasi untuk membangkitkan gairah membaca. Semua lapisan masyarakat di mana pun berada bisa saja memiliki motto yang sama untuk membangkitkan gairah membaca yaitu; Budaya Membaca = Membangun Peradaban.

Marilah menggelorakan slogan “Budaya Membaca = Membangun Peradaban” di tanah air. Semua lapisan masyarakat harus berpartisipasi di dalamnya. Ini diawali dengan perlu dibuatnya kebijakan untuk menggairahkan budaya membaca gemar masyarakat. Kebijakan itu perlu didukung oleh semua stakeholder yang ada, baik pemerintah, masyarakat sipil dan masyarakat ekonomi.

Pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif di Maluku harus mendukung dan ikut mengkampanyekan budaya membaca. Para pengusaha atau masyarakat ekonomi perlu memberikan sekian dananya dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) untuk mensuplai buku ataupun mendirikan infrastruktur seperti gedung ataupun gardu-gardu perpustakaan di kampung-kampung maupun pedesaan serta perpustakaan keliling.

Sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi harus memberikan porsi lebih dalam memotivasi para peserta didik untuk memiliki gairah membaca. Masyarakat terutama organisasi masyarakat sipil, khususnya organisasi pemuda sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan dan kepemudaan perlu memotivasi diri dan kelompoknya untuk selalu memiliki keinginan untuk membaca. Dengan budaya membaca, peradaban bangsa ini dapat kita bangun.

Penulis adalah CEO IndoEast Network