Menuju Pesta Demokrasi Malteng 2022: MPCKM Fenomena Politik yang Menggelegar

0
527

Oleh: Husein Latuconsina

Saya pernah menulis di laman Facebook pada 25 Juli 2020 tentang Bung Sam Latuconsina, mantan wawali kota Ambon yang dekat dengan Gubernur Maluku, juga soal Bung Herry Haurissa, Wakil Ketua DPRD sekaligus ketua Partai papan atas, Gerindra Maluku Tengah (Malteng)

Pada 16 Oktober 2020 saya juga menulis tentang DR. HA. Wattihelu M.Si MH, Direktur dua sekolah tinggi, yang mungkin saja akan muncul dari jalur independen. Birokrat ini terlihat makin intensif mensosialisasikan diri.

Dua tokoh ini, Bung Sam dan Bung Jar, tidak mustahil akan berjibaku dengan kandidat yang akan diusung  penguasa, kandidat yang pasti “sakti mandraguna”. Kandidat yang terlihat akan berjalan dengan mulus karena di atas infrastruktur yang didesain penguasa.

Bagi saya, makin banyak tokoh yang muncul semakin baik bagi kualitas demokrasi. Yang penting semua pihak mau menjunjung tinggi prinsip “Setuju dalam Perselisihan”, sepakat untuk berbeda.

Kecuali tokoh-tokoh di atas, kini muncul fenomena baru yang menggelegar, yaitu MPCKM.  Saya menggunakan istilah menggelegar karena MPCKM ini setiap hari menghiasi media sosial, terus bergerak menghimpun masa dari satu kecamatan ke kecamatan yang lain.

Fenomena dan bahkan realitas yang dalam banyak konteks belum tentu berjalan mulus, kadang pula diremehkan. MPCKM itu adalah akronim atau singkatan dari “MERAJUT PERSAUDARAAN, CIPTAKAN KESEJAHTERAAN – Menuju disini senang disana senang, dimana-mana kita semua senang”.

MPCKM ini mengusung dan mendengungkan tokoh muda, Ahmad Latuconsina, SH atau yang lebih dikenal dengan nama “Mat Putih”. Sosok yang enerjik dan berangkat dari keresahan akar rumput.

Fenomena MPCKM membuat saya terkejut dan penasaran. Lalu satu ketika saya bertanya langsung pada yang bersangkutan: “Apa tujuanmu Mat”?. Dijawab olehnya “Tujuan saya adalah secara demokratis memperebutkan jabatan bupati, saya melihat monopoli ekonomi yang mengakibatkan ketidakadilan, bang. Dan karena itu MPCKM adalah visi misi saya”.

Apakah anda serius?  “Saya bukan bocah ingusan, bang. Saya dan tim MPCKM sudah mengunjungi sekian kecamatan dan mengadakan pertemuan dengan masyarakat di 60 titik. Mungkinkah kunjungan di 60 titik itu tidak menggunakan dana”?

Apakah anda mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat?  “Abang, sebagai Kepala Samsat, setiap tahun saya mampu menyetor atau mengupayakan pendapatan puluhan miliar Kabupaten Maluku Tengah. Coba abang kalikan selama 5 tahun saya duduk pada jabatan ini”.

Lebih lanjut Mat menjelaskan, “Tolong tanyakan pada pejabat-pejabat lainnya, apa kontribusi mereka untuk kabupaten ini?. Artinya sebagai Kepala Samsat saja saya bisa berbuat banyak, apalagi sebagai bupati yang setiap saat tinggal menerima kucuran dana triliunan dari pusat ?”.

Itulah jawaban Mat Putih pada saya, seorang tokoh muda yang kaya pengalaman, utamanya dalam menghimpun massa dalam pilkada. Kompetensi politiknya tak diragukan.

la memiliki teknik dan gaya komunikasi yang sanggup mengubah antipati menjadi simpati, ia punya kesanggupan menggambarkan kepalsuan menjadi realitas hakiki atau bahkan menggambarkan surga sebagai neraka atau neraka menjadi surga. Mat Putih layak didukung penuh untuk membawa perubahan di Maluku Tengah.

Penulis adalah Pemerhati Politik Maluku Tengah, catatan ini diambil dari laman facebook-nya.

Baca Juga  Terjerat Kasus Narkoba, Sekwan: Status WZW Masih Sebagai Anggota DPRD Maluku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here