Dua Milenial Maluku Jadi Peserta Pertemuan Perempuan Indonesia

0
417

TABAOS.ID,- Dalam rangka mempertegas komitmen perempuan dalam arah perjuangan bangsa dan negara, perempuan Indonesia kembali menggelar kongres atau Pertemuan Perempuan Indonesia di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Rabu (07/09/2022).

Pertemuan ini bertujuan untuk mengorientasikan eksistensi perempuan dalam mempertegas komitmen konstitusi yang berakar pada nilai-nilai Pancasila dan mengkonkretkan kesejahteraan dan gemilang bangsa dan negara sebagai rumah bersama untuk kehidupan bersama dalam arti yang seluas-luasnya.

Disamping itu pertemuan ini juga bermaksud untuk melembagakan kongres perempuan Indonesia yang terhimpun dari aktivis kemanusiaan, intelektual, akademisi dan budayawan agar dapat bahu membahu dalam menyuarakan persoalan bangsa.

Kongres ini dibuka oleh Hj, Dr. Chandra Motik, SH, MSc, pendiri law firm Motik Yusuf & Associates penggagas kongres yang juga dikenal fokus dalam memajukan kemaritiman Indonesia.

Berlangsung juga dalam kongres atau pertemuan ini diskusi publik yang mengangkat tentang keterlibatan perempuan dalam isu-isu terkini yakni hak-hak Masyarakat adat, hak-hak dan kesejahteraan buruh, masalah agraria, pendidikan serta peran perempuan perbatasan dalam pembangunan bangsa.

Kegiatan Pertemuan Perempuan Indonesia 2022 menghadirkan representasi pemateri dari pulau-pulau besar di Indonesia. Seperti, Eva Susanti H. Bande,  Mahadelana, SKM, Nining Elitos, Aleta Kornia Baun, Yosefin Iriani Kewamija, Irma Natalia Hutabarat dan Dewi Lestari Rizky.

Sidang-sidang komisi dalam Pertemuan Perempuan Indonesia 2022 (Foto: ist)

Kongres ini juga dihadiri oleh peserta atau delegasi yang datang dari 34 Provinsi di Indonesia. Adapun semangat Pertemuan Perempuan Indonesia yang ke-5 merupakan inspirasi dari jejak perempuan yang telah menjadi sumbu sejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. 

Sejarah mencatat banyak perempuan yang punya keterlibatan penting dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Kontribusi mereka signifikan dalam membawa angin segar bagi lahirnya kemerdekaan bangsa.

Perjuangan fisik melawan penjajah telah mengabadikan nama-nama besar seperti, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, dan Cut Meutia dari Aceh, Martha Tiahahu dan Monia Latuarima dari Maluku, Nyi Ageng Serang dari Jawa tengah dan Walanda Maramis dari Sulawesi Utara.

Dalam pergerakan nasional pun muncul nama-nama seperti Rasuna Said, Trimurti dan sejumlah perempuan lainnya. Sejarah pun mencatat ada tiga kongres perempuan digelar di masa penjajahan, berhasil mempengaruhi kebijakan kebijakan pemerintah Belanda.

Semua adalah catatan keterlibatan kaum perempuan yang jejaknya patut diikuti oleh generasi perempuan hari ini. Kongres Perempuan kali sejatinya melanjutkan Kongres Perempuan Indonesia yang pernah dilakukan pada tahun; 1928, 1935, 1938.

Cantika Muhrim dan Christina Rumahlatu bersama aktivis senior Ratna Sarumpaet di lokasi pelaksanaan Pertemuan Perempuan Indonesia 2022 (Foto: Ist)

Adapun kongres atau pertemuan perempuan kali ini, dua Milenial asal Maluku turut menjadi peserta termuda. Yakni Cantika Muhrim dari Moluccas Democratization Watch (MDW) yang masuk dalam komisi pendidikan, ekonomi dan kesehatan serta Christina Rumahlatu dari Maluku Crisis Center (MCC), yang ikut dalam komisi masyarakat adat, lingkungan dan marginal.

Baca Juga  Ratusan Rumah di Seram Bagian Timur Terendam Banjir

Sejumlah rekomendasi kongres atau Pertemuan Perempuan Indonesia 2022 akan disampaikan pada berbagai pihak terkait, guna mendorong perbaikan dan perjalanan bangsa ke arah yang lebih baik. Menjadi kontribusi penting perempuan di era kekinian.

Pewarta: M. Hamdani