Supermarket Bawah Laut, Paradoks Laut Maluku

0
118

“Kondisi sungguh memperlihatkan, karena pulau yang indah dengan posisi yang strategis itu betul-betul dipenuhi dengan sampah.”

Oleh: Cantika Muhrim

Sebuah ironi atau paradoks. Selain Maluku memiliki kekayaan bawah laut seperti terumbu karang dan ribuan spesies ikan. Laut Maluku juga punya satu supermarket besar di bawah laut.

Saat menyelam, apalagi di teluk Ambon, orang akan seperti masuk dalam pasar modern yang menjual berbagai produk. Sebut saja; detergen, popok bayi, sendal, sepatu obat obatan.

Yang membedakan adalah bila produk di supermarket yang ada di daratan ada masa kadaluarsa. Sedangkan supermarket bawah laut itu memiliki batas expired yang tidak terhingga. Bisa ratusan, ribuan tahun bahkan.

Ya, sampah rumah tangga, terutama berbahan plastik rata-rata membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk diurai oleh alam. Hal buruk yang bisa diwariskan hingga 7 generasi.

Di supermarket bawah laut memang didominasi oleh “Sampah plastik”. Semua brand ternama yang melegenda menggunakan bahan ini. Menjadi polusi, bukkan hanya di laut Maluku atau Indonesia, tapi laut dunia.

Dan manusia yang notabene punya akal dan pikiran ini adalah pelaku utama dari pencemaran itu. Makhluk bernama Manusia itulah yang menjadi brand ambassador, sekaligus investor tetap di supermarket bawah laut ini.

Seperti yang saya dan rekan-rekan temui saat aksi bersih pantai oleh Beta Green baru-baru ini di Pulau Pombo. Kondisi sungguh memperlihatkan, karena pulau yang indah dengan posisi yang strategis itu betul-betul dipenuhi dengan sampah.

Menjadi ironi. Permasalahan sampah plastik merupakan isu ratusan tahun yang tak kunjung menemukan titik klimaks penyelesaian. Lagi-lagi karena manusia banyak yang belum menyadari dampak buruknya.

Dalam kondisi semacam ini. Peran anak muda sangat penting dalam hal ini, Terutama dalam membangun gagasan dan perspektif. Anak muda harus terlibat dalam satu gebrakan besar. Karena sampah plastik bukan permasalahan sepele.

Anak muda butuh Kolaborasi, kreativitas dan toleransi (Kokreto) sebagai satu nilai dasar dalam membuat langkah langkah penyelesaian yang masif dan berkelanjutan. Terutama dalam hal permasalahan “Sampah plastik”.

Kita dapat memulai dengan Membangun perspektif dan kesadaran. Sederhana; seperti mengedukasi diri dengan menekan penggunaan kemasan sekali pakai, mengajak teman lain melakukan hal yang sama.

Saling merangkul untuk membuat gerakan sadar lingkungan. Gerakan sadar ini jika dilakukan secara terus menerus. Maka akan terbentuk satu clan atau arus baru kesadaran kolektif.

Mungkin tidak sekarang, tidak sekilat membalik telapak tangan. Tapi hal baik ini akan berbiak, akan berlanjut sampai pada generasi yang masih usia dini pun dalam kandungan. Dan Ketika generasi itu lahir, ia lahir dengan perspektif yang sadar, sampai dan mumpuni.

Penulis adalah sahabat muda Kokreto dan aktif di Moluccas Democratization Watch (MDW)