Turning Knowledge Into Action: Menghadapi Quarter Life Crisis ala Maudy Ayunda

0
304

Oleh: Cantika Muhrim

Dikalangan Gen Z sosok Maudy Ayunda begitu familiar, melalui karya-karya nya ia dikenal luas, bukan baru beberapa tahun terakhir, namun jauh sebelum itu.

Maudy memulai karirnya sejak kecil. Ia turut mengisi hari dan waktu remaja saya, sehingga kemudian terinspirasi menjadi seorang cerpenis atau penulis.

Ketika saya telah beranjak dewasa, dalam satu kesempatan, baru-baru ini, di sebuah kegiatan yang diadakan Girls Beyond, menghadirkan banyak tokoh-tokoh muda inspiratif, saya berkesempatan mengenal sosok Maudy lebih jauh.

Perjumpaan yang tentu saja berkesan. Karena sekelumit pemikiran dan perasaan yang kerap mengemuka dalam diri saya, menemukan relevansinya pada pandangan atau perspektif yang diutarakan Maudy.

Apalagi dalam menapaki usia di rentang 21-28 tahun, seperti yang sedang saya lalui, adalah situasi yahg menantang bagi sebagian besar anak muda.

Anak muda era ini dihadapkan dengan tantangan yang jauh lebih sulit, kompleks dan tentu saja berbeda daripada generasi sebelumnya.

Percepatan informasi, persaingan yang jauh lebih kompetitif dan global, bahkan di beberapa situasi beberapa anak muda justru diberi peran sehingga menjadi Sandwich Generation.

Satu generasi yang tidak saja menanggung dirinya sendiri, tapi juga menanggung beban orang tua, demi keberlangsungan kehidupan yang jauh lebih baik.

Tidak jarang anak muda merasakan quarter life crisis; fase dimana di rentang umur tertentu, anak muda dihantui perasaan bingung, tidak memiliki arah karena ketidakpastian dalam kelanjutan hidup.

Kerap kali muncul semacam overthinking terhadap kehidupan, dan hal-hal baru di kemudian hari atau di masa depan. Ada keraguan pada kemampuan diri.

Dalam situasi semacam itu, Maudy memberikan penguatan. Pada diskusi siang itu Maudy memberikan pesan kepada anak muda yang mungkin ada di situasi yang kurang menguntungkan.

Baca Juga  Lagi, Pasien Covid-19 Meninggal Dinyatakan Positif

Menurut Maudy, terkadang challenge dari situasi ini adalah diri kita sendiri. Bukan pada hal eksternal.

Bahwa mindset kita sendirilah yang menjadikan challenge atau barrier untuk kita bisa jalan. Mungkin bisa berupa rasa takut, insecure, keragu-raguan, dan itu semua bagian dari fase yang semestinya dilewati.

Bahwa sebenarnya perasaan takut, ragu itu merupakan sinyal yang bisa kita kelola untuk beranjak, untuk lebih berani, menyusun kembali strategi dan membuat keputusan-keputusan untuk memulai.

Selain itu menurut Maudy, keberadaan mentor yang tepat penting pada setiap fase ini. Hal ini untuk mengkurasi atau me-mitigasi kegagalan.

Entah itu seorang guru maupun profesor yang ditemui di lingkup akademik, atau dari mereka yang kita temui dan telah berkecimpung dalam komunitas yang berbeda serta menantang.

Maudy juga nge-bold kalimat, mentor tidak harus orang yang lebih tua, bisa siapa saja. Ini penting untuk kita mengubah perspektif dan merasa tumbuh untuk keluar dari quarter life crisis.

Menurut Maudy, jangan hanya mengejar opportunity atau peluang, karena peluang akan terus bergerak.

Namun kejarlah yang lebih dari itu, mungkin dimulai dengan mengerjakan dari apa yang kita sukai.

“Karena ketika kamu menyukai sesuatu, kamu juga akan berusaha keras, kamu akan bertumbuh dan akan menjadi yang terbaik dalam pekerjaanmu”, ungkap Maudy.

Selanjutnya kata Maudy, ketika kita dihadapkan dengan kasus khusus kita tidak terlalu mengetahui apa yang kita sukai, namun kita bisa tetap belajar.

Dengan itu juga kita akan punya foundation skill yang bisa di translate ke berbagai bentuk peluang.

“Karena seiring berjalan nya waktu karir itu akan semakin tidak linear sebenarnya, ini diluar pengetahuan kedokteran dan sejenisnya”, jelas Maudy.

Baca Juga  Beta Creative, Beta Sport dan Beta Green: Program dan Gimik untuk Milenial

Sesuatu yang relevan, karena pada dasarnya tujuan pendidikan mengajarkan kita tentang bagaimana kita berpikir, mengidentifikasi masalah dan menyelesaikan masalah-masalah itu.

Sehingga yang harus kita lakukan adalah memulai, i mean mulailah dari hal-hal kecil, hal-hal kecil yang konsisten itu lah yang nantinya mengantarkan kita pada impian yang lebih besar.

Penulis adalah pembelajar, aktif di Komunitas Penulis Maluku