Warga Asli Papua Daur Tempurung Kelapa Jadi Omzet Puluhan Juta

0
109
Foto : Kelompok Binaan Pertamina Kobek Millenial Papua mendaur ulang tempurung kelapa menghasilkan omzet puluhan juta rupiah, Kamis, (17/9).

TABAOS.ID,- Banyak cara memanfaatkan limbah tempurung kelapa, salah satunya dengan mendaur ulang menjadi karya seni yang indah dan bernilai ekonomi tinggi.

Bagi kelompok usaha Kobek Millenial Papua yang berlokasi di sekitar Fuel Terminal Jayapura tengah mengubah tempurung kelapa menjadi bahan yang bernilai ekonomi.

Limbah tempurung kelapa yang hanya dijadikan bahan bakar untuk memasak mereka kumpulkan. Setelah dikumpulkan mereka mulai mengolah tempurung kelapa menjadi bahan jadi dan siap dipasarkan ke luar daerah.

Ketua kelompok usaha Kobek Millenial Papua, Yane Maria Nari (55) mengatakan konsep mendaur ulang tempurung kelapa berawal dari kerajinan mendaur ulang sampah plastik pada 20 tahun silam. Kala itu, ia dan anggotanya  memulai usaha dengan mendaur ulang limbah kertas dan sampah plastik.

Setelahnya, pihak Pertamina mulai mensoroti potensi dan bakat mereka, mereka kemudian diberdayakan sebagai warga binaan Pertamina dengan memulai usaha mengelola tempurung kelapa.

Pada Mei 2019, Yane dan anggota dikirim ke Provinsi Yogyakarta guna mengikuti pelatihan bersama pengrajin tempurung kelapa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Satu minggu saya pelajari seluk beluk tentang kerajinan tempurung kelapa, setelahnya pulang masih menggeluti kerajinan tersebut,” kata Yane.

Sepulang sekolah kerajinan, Yane membentuk kelompok Kobek Millenial Papua. Yane mengatakan “Kobek artinya kelapa dalam bahasa Biak dan Millenial Papua berarti era milenial yang mendapat dukungan PT Pertamina (Persero).

“Dengan rumah produksi yang dilengkapi dengan fasilitas 5 unit mesin, di sinilah mereka mulai menggeluti usaha kerajinan tempurung kelapa,”ucap Yane.

Saat ini, kata Yane anggota kelompok Kobek Millenial Papua per hari bisa menghasilkan sejumlah kerajinan, seperti lampu hias, peralatan makan dan minum, pernak pernik hiasan rumah tangga, hingga jepit rambut dan anting-anting.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 Momentum Kebangkitan Pangan Lokal

Yane menyebut kerajinan tempurung kelapa tak membutuhkan modal yang besar karena pembuatannya relatif mudah dan ramah lingkungan. Lebih lanjut ia berkata,  limbah tempurung kelapa mudah didapat dari penjual kelapa di Koya. Koya salah satu daerah penghasil  pertanian dan perkebunan di Kota Jayapura.

Biasanya, tempurung kelapa dibeli dengan harga berkisaran  Rp1.000-2.000 per batok. Tempurung kelapa juga kata dia berkualitas bahannya sehingga menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.

“Harga bervariasi, kalau peralatan makan dan minum dijual Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu per set, namun untuk kerajinan lain mulai Rp50 ribu hingga Rp2 juta. Jadi total omzet  penjualan  per 2020 mencapai puluhan juta rupiah,” ucap dia.

Saat ini, ia bilang kerajinan khas tempurung kelapa tengah dibanjiri pesanan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang rencana dihelat seusai corona di provinsi Papua pada 2021 mendatang.

“Pelan-pelan pesanan ini kami kerjakan, agar para tamu bisa membawa cinderamata hasil karya anak asli Papua,”kata Mama Yane sembari melemparkan senyum.

Kreasi tempurung kelapa yang tengah digeluti kelompok Kobek Millenial Papua juga mendapatkan pesanan melalui akun facebook “Kobek Millenial Papua”  pembuatan PT Pertamina.

Pihak Pertamina sendiri tengah membuat kartu nama sebagai sarana promosi Mama Yane. “Jadi siapa saja yang pernah melihat kerajinan yang kami buat ini pasti tak lupa saya sisipkan kartu nama, agar orang-orang itu bisa mengingat kerajinan yang kami buat,” ujar perempun berdarah Papua ini.

Saat ini, kerajinan buatan mama Yane dan para anggota kelompok tengah dipasarkan disepanjang jalan raya perempatan Kelurahan Imbi, Kota Jayapura. Seperti lampu hias dari tempurung kelaoa seharga Rp1 juta hingga Rp 2 juta

Unit Manager Communication, Relations & CSR MOR VIII, Edi Mangun, mengataka program tersebut merupakan cara Pertamina untuk memunculkan potensi dan kreativitas masyarakat Papua.

Baca Juga  Ketua DPRD Maluku Minta Semua Anggota DPRD Ikut Tes Swab

Ia mengatakan, Pertamina ingin mendorong dan membangkitkan perekonomian Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) yang berkreasi memanfaatkan limbah tempurung kelapa yang punya nilai jual tinggi.

Edi berkata pihak Pertamina mengapresiasi kerja keras mama Yane beserta anggota kelompok. “Kami bersyukur selama dua tahun terakhir didampingi, mama Yane dan anggota berhasil bertahan dan terus maju mempertahankan bisnisnya. Inovasi ini ditingkatkan karena  kerajinan tempurung kelapa satu-satunya bisnis di Jayapura,” ucap  Edi melalui keterangan resmi, Kamis (17/9).

Kreasi pembuatan tempurung kelapa oleh kelompok Kobek Millenial Papua yang disulap mendatangkan omzet puluhan juta rupiah dalam rangkaian Pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Perusahaan berplat merah di wilayah Marketing Operation Region VIII berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sekitar wilayah operasi di Maluku hingga Papua melalui program unggulan  pemberdayaan masyarakat melalui pendanaan CSR dan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL).

Reporter              : Said Hatala

Editor                   : Redaksi   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here