Media Online, Jurnalisme Warga dan Percepatan Pembangunan

0
1432

“Fenomena media online yang menyertakan adanya partisipasi khalayak memunculkan fenomena bangkitnya jurnalisme warga atau citizen journalism.”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Pertumbuhan media massa saat ini tak terbendung. Jika sebelumnya publik dijejali dengan media konvensional, seperti surat kabar, radio dan televisi, belakangan yang paling cepat dan menjangkau banyak orang adalah media ‘Online’.

Medium yang satu ini disebut juga Digital Media, adalah media yang tersaji secara online di internet. Istilah media online sebenarnya masih belum sepenuhnya bahasa Indonesia, masih kental bahasa Inggris. Istilah Indonesia media online adalah Media Daring (Media dalam Jaringan).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, “daring” itu singkatan dari “dalam jaringan”, maksudnya dalam jaringan internet. Namun, rupanya istilah media daring masih jauh kalah populer oleh istilah media online.

Pengertian Media Online sendiri dibagi menjadi dua. Pertama, Pengertian Umum Media Online. Pengertian Media Online secara umum, yaitu segala jenis atau format media yang hanya bisa diakses melalui internet berisikan teks, foto, video, dan suara.

Dalam pengertian umum ini, media online juga bisa dimaknai sebagai sarana komunikasi secara online. Dengan pengertian media online secara umum ini, maka email, mailing list (milis), website, blog, whatsapp, dan media sosial (social media) masuk dalam kategori media online.

Kedua, Pengertian Khusus Media Online.
Pengertian Media Online secara khusus yaitu terkait dengan pengertian media dalam konteks komunikasi massa. Media –singkatan dari media komunikasi massa– dalam bidang keilmuan komunikasi massa mempunyai karakteristik tertentu, seperti publisitas dan periodisitas.

Pengertian media online secara khusus adalah media yang menyajikan karya jurnalistik (berita, artikel, feature) secara online. Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Online: Panduan Mengelola Media Online (Nuansa, Bandung, 2012) mengartikan media online sebagai berikut: Media online (online media) adalah media massa yang tersaji secara online di situs web (website) internet.

Baca Juga  Tidak Patuhi Anjuran Soal Covid-19 dan Miras Tempat Kumpul Pemuda Ditertibkan

Masih menurut Romli dalam buku tersebut, media online adalah media massa ”generasi ketiga” setelah media cetak (printed media) –koran, tabloid, majalah, buku– dan media elektronik (electronic media) –radio, televisi, dan film/video. Media Online merupakan produk jurnalistik online. Jurnalistik online –disebut juga cyber journalisme– didefinisikan wikipedia sebagai “pelaporan fakta atau peristiwa yang diproduksi dan didistribusikan melalui internet”.

Secara teknis atau ”fisik”, media online adalah media berbasis telekomunikasi dan multimedia (komputer dan internet). Termasuk kategori media online adalah portal, website (situs web, termasuk blog), radio online, TV online, dan email.

Karakteristik Media Online

Karakteristik dan keunggulan media online dibandingkan ”media konvensional” (cetak/elektronik) antara lain: Kapasitas luas –halaman web bisa menampung naskah sangat panjang. Pemuatan dan editing naskah bisa kapan saja dan di mana saja. Jadwal terbit bisa kapan saja bisa, setiap saat. Cepat, begitu di-upload langsung bisa diakses semua orang. Menjangkau seluruh dunia yang memiliki akses internet. Aktual, berisi info aktual karena kemudahan dan kecepatan penyajian.

Selain itu, update, pembaruan informasi di media online terus dan dapat dilakukan kapan saja. Interaktif, dua arah, dan ”egaliter” dengan adanya fasilitas kolom komentar, chat room, polling, dan sebagainya. Media online juga terdokumentasi, informasi tersimpan di ”bank data” (arsip) dan dapat ditemukan melalui ”link”, ”artikel terkait”, dan fasilitas ”cari” (search). Terhubung dengan sumber lain (hyperlink)yang berkaitan dengan informasi tersaji.

Karena media online begitu masif, mudah diakses dan memberikan ruang yang besar kepada khalayak, mestinya bisa dimanfaatkan dengan optimal. Antara lain dalam mendukung pembangunan di daerah. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya?.

Fenomena media online yang menyertakan adanya partisipasi khalayak memunculkan fenomena bangkitnya jurnalisme warga atau citizen journalism. Jurnalisme warga secara bebas diartikan sebagai kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita.

Jurnalisme warga didasari oleh gagasan bahwa masyarakat yang tidak mengalami pelatihan maupun pendidikan jurnalisme profesional dapat memanfaatkan peralatan teknologi modern dan internet global untuk berkreasi, melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Hal itu bisa dilakukan sendiri maupun berkolaborasi dengan yang lain.

Baca Juga  Sumpah Pemuda, Antara Fakta dan Rekayasa

Contoh, kita menulis tentang pertemuan di kantor bupati, camat atau lurah dalam blog kita atau forum dan media online. Atau bisa juga kita memeriksa fakta sebuah artikel yang dimuat media mainstream dan menunjukkan kekeliruannya atau bias-biasnya dalam blog kita.

Atau bisa juga memotret dengan kamera digital peristiwa-peristiwa penting yang kita temui dan mengirimkannya secara online ke situs-situ yang menyediakan ruang penyimpanan foto, seperti Picasa, Flickr dan lain-lain. Atau kita membuat video peristiwa khusus dan mengirimkannya ke sebuah web penyedia ruang penyimpanan film seperti You Tube, Google Video dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan praktik jurnalisme. Dengan tersebarnya banyak peralatan untuk menangkap peristiwa langsung, seperti kamera digital, hingga video handphone, sekarang siapapun bisa membuat berita dan mendistribusikannya secara global melalui media internet.

Dalam artikel Review Jurnalisme Online tahun 2003, J. D. Lasica mengklasifikasi media jurnalisme warga ke dalam beberapa tipe: (1) partisipasi pemirsa, seperti komentar dalam berita online, blog pribadi, foto atau video; (2) berita dan informasi situs-situs independen, (3) situs berita dengan partisipasi penuh, seperti OhmyNews; (4) kolaborasi situs-situs media, seperti Slashdot, Kuroshin; dan (5) “thin media”, seperti milis dan newsletter;

Intinya jurnalisme warga atau publik atau jurnalisme partisipatif adalah partisipasi aktif warga negara dalam mengoleksi, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan berita dan informasi. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga yang informasinya berasal dari warga itu sendiri.

Kemunculan jurnalisme warga dalam beberapa hal memang telah melahirkan kontroversi. Banyak jurnalis profesional berkeyakinan, hanya jurnalis terlatihlah yang dapat melakukan kerja-kerja jurnalistik yang sesungguhnya. Tetapi, banyak juga kalangan jurnalis profesional yang mendobrak hierarki jurnalisme tradisional dengan cara menulis dalam blog mereka sendiri.

Baca Juga  Pentingnya Kepastian Jadwal Produksi Gas Blok Masela Mempercepat Kesejahteraan Rakyat di Maluku

Salah satu konsep pokok yang mendasari jurnalisme warga adalah bahwa reporter-reporter dan produser media mainstream bukanlah pusat pengetahuan tentang subjek tertentu yang bersifat eksklusif. Karenanya, sekarang banyak saluran media besar berusaha memanfaatkan pengetahuan pemirsanya melalui penyediaan kolom komentar di akhir tulisan yang dimuat online, atau membuat data base kontributor jurnalis warga sebagai sumber penyampai informasi.

Namun terlepas dari kontroversi yang ada, jurnalisme warga dalam berbagai konteks bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan. Kita bisa melihat banyak contoh, peran jurnalisme warga, misalnya rusaknya infrastruktur, seperti jembatan dan Jalan yang diberitakan oleh jurnalis warga, kemudian dibaca atau diketahui oleh pemangku kewajiban, dan akhirnya mereka bergerak cepat memperbaiki atau membangunnya

Begitu pula dengan kejadian bencana alam disatu tempat yang jauh dari akses media mainstream, oleh jurnalis warga kemudian diberitakan lewat media online, dengan cepat informasi tersebar dan bantuan pun datang, baik dari warga sekitar lokasi maupun dari badan pemerintah yang terkait dengan penanganan bencana. Bahkan tidak hanya itu, donasi dari berbagai tempat, baik makanan, minuman, obat-obatan dan uang pun berdatangan

Semua ini memberikan gambaran dan pelajaran buat kita, bahwa hadirnya media online yang juga memberikan akses yang luas bagi partisipasi warga melalui jurnalisme warga, dapat memberi arti penting bagi pembangunan, khususnya di daerah yang jauh dari akses media massa dan jarang dikunjungi pejabat pengambil keputusan publik. Jadi, ayo sama-sama kita manfaatkan kehadiran media online dengan menjadi jurnalis warga dan beritakan atau informasikan problem sosial yang ada disekeliling kita.

Penulis adalah magister komunikasi politik dari Universitas Paramadina