Atas Nama Perlindungan Alam, Bahaya Ekonomi Mengancam Masyarakat Adat di Seram Utara

0
1246

TABAOS.ID,- Dimulai dengan mengutip kata-kata  dari Pdt.Chak Huwae “Keadilan Akang Par Sapa” (Suara Dari Anak Gunung Seram Utara), dan diperkaya dengan penjelasan realitas yang kini dihadapi masyarakat pegunungan seram Utara, pemilik akun Facebook Republik Tulalessy atau Bram Tulalessy memberikan saran dan alternatif bentuk-bentuk kehadiran negara untuk mereka.

Dalam ungkapan kata berbaur perasaan pada media sosial berdialog Melayu Ambon tentang kondisi menyedihkan masyarakat pegunungan seram Utara yang hidup dalam kesusahan. 

“Kasiang e beta punya saudara-saudara dong ni sama tikus mati dalam baras banya saja. Seng ada orang bale muka lia dong. Dong Punya tanah Pusaka yang sakarang jadi icon Konservasi Mancanegara dan Wisata Alam yang Populer di dunia yakni Taman Nasional Manusela sampai saat ini hanya mengisahkan cerita sedih dan pilu,” urai Tulalessy dalam dialek Ambon.

Diungkapkan, masyarakat pemilik ‘Tanah Pusaka’ Binya dan Murkele setiap hari bagai hidup dalam ‘pengasingan’. Seperti mereka yang di Kanikeh, Roho, Hualu, Serumena, Maraina, Manusela, Solea serta di wilayah pegunungan.

“Masalahnya adalah semua hasil alam yang milik mereka dilarang untuk dijadikan sebagai potensi ekonomi atas nama perlindungan alam dan satwa,” tulisnya.

Menurut Tulalessy, larangan untuk menjaga alam, namun harus disertai dengan solusi Bagaimana mereka makan yang layak, memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, bagaimana mendapatkan kesehatan yang layak. 

Desakan ekonomi, mau tidak mau, mereka harus berjuang untuk hidup termasuk berburu. “Bayangkan saja mereka tinggal dengan jarak tempuh 2 sampai 3 hari berjalan kaki. Bagaimana mereka bisa sejahtera (hidup layak). Kalau mereka dipermudah jalan transportasinya pasti. Mereka akan maju dan bertumbuh,” ulasnya.

Ketiadaan transportasi membuat segalanya lebih sulit dan berdampak pada produktivitas warga. “Mau bikin kabun coklat, ada masyarakat tanam. Mau pikul berapa kilo dengan jarak tempuh yang jauh, paling kurang lebih 10 kg”, keluh Tulalessy. 

Dijelaskan lagi, dari sisi ekonomi, harga dendeng (daging kering) di lokasi kota dengan wilayah mereka memiliki perbedaan bagaikan langit dan bumi. Dendeng 1 kg Rp.50.000 coklat Rp. 20.000. Burung 1 ekor berapa ratus ribu. Pasti mereka pilih yang mudah dan bisa dapat uang lebih untuk hidup

“Harga jual Coklat 10 kg pulang balik Wahai-Waiputiputi habis uang, tidak bisa beli makan yang cukup. Makan saja tidak cukup apalagi sekolah, periksa kesehatan yang 1 tahun satu kali, untung ilang juga, tergantung jadwal,” jelas Tulalessy.

Dirinya pun mengingatkan, kondisi masyarakat pegunungan seram Utara sangat susah Mestinya Negara dan Hukum hadir untuk mereka yang lemah dan bukan menindas yang lemah.

Mereka butuh rasa kemerdekaan, mereka adalah kita dan kita adalah mereka. Sampai kapan mereka seperti orang tertindas, sampai kapan atas perlindungan alam mereka menderita. 

Sampai kapan mereka harus berjalan kaki tiga hari. Dan negara ini hidup dalam pembangunan berkeadilan. “Di Sana sini jalan aspal kualitas bagus, yang kecil diperlebar, yang masih layak di perlebar,” ungkap Tulalessy pada akun facebooknya itu. 

Penulis: Edison Waas
Editor: M. Hamdani 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here