Suara Milenial: Sepucuk Surat Cinta dari Aru untuk Pak Murad Ismail

0
894

“Harapan masyarakat Maluku adalah Maluku yang lebih baik. Masyarakat Maluku percaya, bersama Murad Ismail, harapan tersebut dapat menjadi kenyataan.”

Oleh: Susana Labuem, M.Pd 

Sedikit bercerita, ketika saya diminta untuk turut berkontribusi dalam memberikan refleksi terkait 2 tahun kepemimpinan Gubernur Maluku di mata kaum milenial Maluku, ada beberapa pertanyaan mendasar yang kemudian muncul di benak saya; “apa yang akan saya refleksikan? fakta mana yang hendak saya paparkan? apakah saya mesti menulisnya secara umum ataukah fokus mendalam terhadap suatu fakta?”.

Seketika itu juga, muncul di benak saya wajah para siswa di kabupaten Kepulauan Aru khususnya para siswa yang sering saya kunjungi di daerah-daerah pedesaan yang jauh dari kota Dobo yang merupakan ibu kota kabupaten Kepulauan Aru. Saya kemudian tiba pada kesimpulan bahwa saya harus membawa surat dari mereka yang dialamatkan kepada Irjen Pol (Purn) Murad Ismail, Gubernur Provinsi Maluku.

Kabupaten Kepulauan Aru merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur provinsi Maluku. Salah satu karakteristik Kepulauan Aru secara geografis, yaitu memiliki 587 pulau yang terdiri dari lima pulau besar antara lain pulau Kola, pulau Wokam, pulau Kobror, pulau Maekor dan pulau Tarangan dengan luas daratan (6.426,77 km2) lebih kecil bila dibandingkan dengan luas laut (7,6 kali luas daratan). Dari 587 pulau tersebut, 98 pulau sudah dihuni dan sisanya belum berpenghuni. Terdapat 119 desa yang tersebar di 98 pulau yang sudah berpenghuni.

Julukan Maluku sebagai Negeri 1000 pulau tentunya mesti menempatkan kepulauan Aru dalam posisi yang sangat spesial. Sebagai daerah berbasis kepulauan, Aru memiliki berbagai keunggulan dan potensi alam yang kemudian menjadi alasan kuat Aru layak menyandang predikat negeri yang kaya karena berlimpah hasil alam.

Banyak kekayaan alam yang hanya dijumpai di Aru dan tidak ada di daerah-daerah lain di Maluku bahkan di Indonesia, sebut saja kanguru, burung cendrawasih, mutiara, penyu dan lain sebagainya. Tak hanya sebatas itu, terdapat berbagai biota laut (Plankton, Nekton dan Bentos) yang menjadikan perairan laut Aru ibarat taman yang asri, memanjakan setiap mata yang melihat dan kemudian menjadi tempat refreshing yang mengedepankan prinsip “back to nature”.

Berbagai spesies ikan dengan kualitas dan kuantitas yang unggul merupakan potensi yang ada di Aru yang kemudian mendorong pemerintah untuk menjadikan Aru secara khusus dan Maluku secara umum sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN). Itu artinya, kekayaan laut Aru memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara.

Selain hasil laut yang melimpah, hasil hutan di Kepulauan Aru pun tak kalah membawa Aru menuju identitas negeri yang kaya. Hutan yang masih perawan, tanah yang subur dan wilayah daratan yang cukup luas menjadikan hutan Aru mendapat tempat istimewa di hati banyak investor. Hutan yang asri menjadi habitat berbagai satwa yang dijadikan destinasi wisata yang tentu saja menjadi aset daerah dan negara.

Tak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Aru masih berbanding terbalik dengan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkompeten. Berbicara tentang SDM artinya berbicara tentang proses pembentukan generasi bangsa melalui jalur pendidikan yang berkualitas. Pembentukan generasi bangsa bukan hanya memprioritaskan aspek kognitif yang unggul tetapi juga karakter yang dapat menginspirasi orang lain.

Di Kepulauan Aru, terdapat 119 desa yang tersebar di 98 pulau yang berpenghuni. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Aru, di setiap desa tersebut terdapat sekolah dengan jenjang bervariasi baik itu PAUD, TK, SD, SMP maupun SMA/SMK.

Hal ini merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan tujuan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga memberikan hak warga negara sebagaimana yang tertuang dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Sebagai daerah yang masuk dalam kategori 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) dan diperhadapkan dengan letak geografis yang berbasis kepulauan. Berbagai tantangan muncul berbarengan dengan berbagai upaya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi generasi bangsa di Kepulauan Aru.

Tantangan-tantangan yang muncul selama ini meliputi minimnya buku-buku pelajaran, terbatasnya ruang dan sarana untuk mengakses informasi-informasi yang berkembang, jumlah tenaga guru yang sangat terbatas di setiap sekolah, letak sekolah yang jauh dari pusat kota dan terpisah oleh selat, lautan lepas dan pulau, terbatasnya sarana transportasi laut maupun darat, serta jaringan internet yang tidak menjangkau secara maksimal dan menyeluruh.

Tak dapat dipungkiri bahwa faktor-faktor penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran ini sangat mempengaruhi kualitas siswa sebagai subjek pembelajaran. Dengan demikian, semua tantangan yang muncul dalam dunia pendidikan di Kepulauan Aru sudah pasti akan berdampak terhadap kualitas SDM di Kepulauan Aru dan provinsi Maluku secara khusus serta Indonesia secara umum. Inilah fakta dalam dunia pendidikan di kabupaten Kepulauan Aru.

Berbicara tentang Indonesia tidak hanya sebatas berbicara tentang pulau Jawa. Berbicara tentang Maluku tidak hanya sebatas berbicara tentang kota Ambon. Ini sehakekat dengan ketika berbicara tentang dinamika pendidikan di Aru tidak hanya sebatas berbicara tentang potret pendidikan di kota Dobo. Pendidikan harus menyeluruh dan menyentuh setiap anak bangsa mulai dari yang di tempat metropolitan sampai di pelosok bahkan sampai di daerah yang terpinggirkan.

Oleh karena diperhadapkan dengan kondisi geografis yang berbasis kepulauan, muncul berbagai fenomena yang sangat menarik namun menyentuh hati nurani bahkan menguras emosi dan air mata dalam penyelenggaraan pendidikan di Kepulauan Aru. Fenomena ini muncul di beberapa kecamatan, misalnya di kecamatan Aru Selatan yang letaknya jauh dari kota Dobo.

Posisi desa-desa di Aru Selatan yang jauh dari pusat kota kabupaten tentu menjadi kendala dalam mengakses berbagai informasi. Jaringan internet yang tidak memadai bahkan tidak ada tentu memaksa para guru untuk harus bolak-balik ke kota dan desa untuk mencari berbagai informasi terbaru yang dibutuhkan oleh para siswa.

Perjalanan menempuh lautan lepas bukanlah perkara yang mudah. Itu perjuangan yang membutuhkan waktu selama kurang lebih 12 jam untuk membelah lautan lepas. Itupun jika laut sedang berdamai dengan manusia. Jika tidak, bahkan bisa lebih dari 12 jam. Buku-buku pelajaran yang jumlahnya sangat terbatas, bahkan ada beberapa mata pelajaran yang sama sekali tidak ada buku pegangan untuk siswa.

Listrik yang tidak ada di desa. Jaringan internet yang terbatas bahkan sangat sulit didapatkan. Dalam kondisi seperti ini, para guru dituntut untuk senantiasa bertindak sebagai fasilitator yang siaga. Terbatasnya sarana transportasi tentu mengganggu kelancaran penyelenggaraan pendidikan di daerah pedesaan baik lintas pulau, laut maupun daratan.

Persoalan hanya tak sebatas muncul dari para siswa yang ada di desa tetapi juga para siswa yang melanjutkan pendidikan di jenjang SMP dan SMA di kota Dobo tetapi orang tuanya menetap di desa. Terkadang sekolah harus libur walaupun dalam minggu efektif karena para guru yang terlambat kembali ke desa diakibatkan tidak adanya angkutan untuk ditumpangi.

Orang tua harus menunggu angkutan berminggu-minggu untuk mengantarkan kebutuhan pokok anaknya yang sementara menuntut ilmu di kota Dobo. Sungguh, fenomena yang menuntut perhatian serius dari semua pihak terkait. Bagaimana tidak, nasib bangsa tengah dipertaruhkan. Kondisi yang ada menjadi pemicu munculnya ekspresi sedih di wajah para siswa.

Pada awal tahun 2021 secara perlahan ekspresi sedih itu mulai berganti dengan senyuman manis lewat hadirnya 2 (dua) ASDP (ferry penyeberangan) yang melayani rute Dobo – Aru Selatan dan rute Dobo – Aru Utara. Kehadiran ferry penyeberangan ini tidak hanya menjawab keresahan para siswa tetapi juga guru dan orang tua. Rute pelayaran yang terjadwal, kapasitas/daya tampung ferry penyeberangan yang cukup memadai, size ferry penyeberangan yang cukup besar sehingga tidak ada ketakutan melakukan perjalanan ketika alam sedang tidak bersahabat.

Ketersediaan sarana transportasi ini menjadi angin segar bagi masyarakat Kepulauan Aru khususnya yang ada di kecamatan Aru Selatan dan Aru Utara. Kebijakan ini merupakan salah satu bentuk perhatian serius yang diberikan oleh pemerintah provinsi Maluku yang tentu saja tak terlepas dari sosok gubernur Maluku, Murad Ismail dalam 2 tahun kepemimpinannya sejak dilantik pada tanggal 24 April 2019.

“Pak gubernur, kami yang bersekolah di daerah pelosok sangat membutuhkan perhatian dari bapak untuk membawa kami keluar dari semua tantangan yang kami jumpai menuju masa depan yang cemerlang”.

“Pak gubernur, kami adalah generasi bangsa yang harus memiliki pengetahuan unggul dan siap pakai untuk menjaga, melindungi dan memanfaatkan SDA yang ada di negeri 1000 pulau ini”. 

“Pak gubernur, masa depan Maluku dan Indonesia ada di tangan kami. “Pak gubernur, kami percaya bahwa bapak sanggup membawa kami menuju perubahan dalam mewujudkan SDM yang berkualitas”. 

Demikian isi hati, kerinduan, harapan dan keyakinan dari para siswa di Kepulauan Aru yang dialamatkan kepada pemimpin di negeri 1000 pulau ini. Tentu masih ada banyak hal yang mesti mendapat perhatian serius dari berbagai pihak terkait. Masih ada banyak hal yang mesti diperbaiki dan semua itu memerlukan waktu dan proses yang tidak singkat.

Masyarakat Maluku secara umum dan yang ada di Kepulauan Aru secara khusus menaruh harapan sekaligus kepercayaan kepada pemerintah kabupaten Kepulauan Aru dan terlebih lagi pemerintah provinsi Maluku untuk selalu konsisten dalam menjawab setiap keresahan yang terjadi dalam berbagai sendi kehidupan orang Maluku.

Kiranya lewat kepemimpinan Gubernur Maluku periode 2019 – 2024, Maluku akan selalu dan terus berbenah untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas demi mewujudkan Maluku yang unggul, berkarakter dan sejahtera. Sebagai bagian dari Masyarakat Maluku yang optimis, saya percaya bahwa Pak Murad Ismail dapat mengubah harapan masyarakat Maluku menjadi kenyataan.

Penulis adalah dosen PSDKU Universitas Pattimura di Kabupaten Kepulauan Aru, aktif di Ikatan Cendekiawan Muda (ICMA) Maluku, tulisan ini turut menandai dua tahun kepemimpinan Gubernur Murad Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here