Kekuatan Imajinasi: Berimajinasilah Sampai Mati

0
89

“Orang mufakat bersatu karena didorong sebuah imajinasi, dipersatukan karena memiliki kesamaan nasib ketertindasan.”

Oleh: Faisal Marasabessy

Baru-baru ini ada satu artikel menarik, dengan Judul: ‘Sejarah Imajiner, Andai Tak Menempuh Jalan Bersama Indonesia’ yang ditulis intelektual muda Maluku, Ikhsan Tualeka. Satu tulisan ‘satire’ yang mampu menggelitik imaji publik.

Betapa tidak, penulis seakan membawa pembaca pada satu imajinasi tentang jalan lain dari sekian banyak jalan sejarah yang dapat ditempuh oleh Maluku. Satire untuk mengkritik das sein dan das sollen ber-Indonesia.

Sebagai sebuah imajinasi, penulis sejatinya mau menggambarkan bahwa realitas bisa saja berbeda, atau bisa jadi lebih beruntung bila saja Maluku ada dalam pengelolaan yang mandiri, dengan otoritas ada ditangan orang-orang Maluku sendiri.

Bahkan dalam imajinasinya, penulis membayangkan bila tak gabung dengan Indonesia, endapan politik yang terjadi di Jawa misalnya, seperti pemberontakan berbasis ideologi pun tak turut berimbas dan menjadi pemicu polarisasi politik di daerah kepulauan itu.

Berbagai imajinasi yang tersaji, kalau mau dibaca dengan jujur, bisa dijadikan proyeksi masa depan bagi Maluku. Karena imajinasi jalan lain, yang andai ditempuh dengan segala proyeksi pencapaiannya itu, sesungguhnya bisa menjadi satu model atau visi baru kemana sesungguhnya telos yang harus dituju.

Satu kondisi di mana bila Maluku mau dikelola dengan baik, akan ada pencapaian-pencapaian signifikan yang dapat diraih. Ya, imajinasi yang juga bisa merangsang proyeksi masa depan yang lebih kuat dan terang.

Belakangan tulisan lama yang juga saya bagikan di media sosial itu mendapat tanggapan lewat satu tulisan dari Bung Fazwan. Oleh saudara Fazwan yang sering kami panggil Prof di wilayah kaki gunung Sirimau, imajinasi yang dikemukakan dalam ‘sejarah imajiner’ seperti atau terkesan dilarang,‘bahkan dianggap berbahaya.

Bung Fazwan ingin mengarahkan imajinasi orang lain, dan fatalnya dengan memasukan imajinasinya pula. ‘Melarang Imajinasi’ tapi justru menyisipkan imajinasi sendiri. Paradoks.

Tapi itulah imajinasi. Sesuatu yang inheren dan tidak bisa terpisahkan dari diri manusia. Bahkan pengkritik alur imajinasi seseorang pun sebenarnya telah masuk dalam imajinasi yang divisualisasikan itu, baik dalam tulisan maupun gambar. Sebagian pun kadang menjawab imajinasi dengan menyuntikan ‘cairan’ imajinasi lainya.

Dapat kita lihat, imajinasi menjadi kekuatan penting dan soko guru bagi lahirnya berbagai karya. Bahkan novel atau film sejarah yang diangkat dari naskah dan artefak sejarah pun membuka ruang yang luas bagi dimasukkannya imajinasi.

Dalam penulisan novel sejarah misalnya, ada kategori novel ulang (rekon) yang menyediakan ruang imajinasi yang tinggi, yang disebut rekon imajinatif, yang memuat kisah faktual, tapi dikhayalkan dan diceritakan secara lebih rinci.

Artinya, dalam novel berbasis sejarah sebagai sebuah karya sastra pun dimungkinkan adanya penyertaan imajinasi untuk menutup ceruk kosong yang tak mampu diungkap oleh data, informasi, dokumen dan artefak sejarah, apalagi dalam karya yang berbasis fiksi.

Artinya pula, dalam karya non fiksi saja, imajinasi begitu kuat dan penting, apalagi dalam karya fiksi yang jelas-jelas adalah hasil visualisasi imajinasi. Seperti dalam film-film produksi Marvel, Avengers misalnya yang kadang dalam banyak skenario kurang masuk logika atau Dan Brown yang dalam setiap karya novelnya mengawinkan fiksi pada altar ilmiah.

Yang pasti tak hanya dalam urusan karya fiksi maupun non fiksi. Imajinasi dan kemudian divisualisasikan pun dalam konteks yang lebih jauh, telah terbukti menjadi alat bantu mencapai tujuan-tujuan, meraih visi dan kesuksesan.

Tokoh sekelas Albert Einstein yang terkenal dengan Teori Relativitasnya bahkan pernah mengatakan, “Imajinasi lebih penting dibandingkan pengetahuan. Sementara pengetahuan dibatasi oleh dunia yang kita tahu, imajinasi/visualisasi meliputi keseluruhan dunia dan semua yang dapat kita tahu dan kita pahami”.

Ya, Einstein benar, karena (kuat dugaan) dengan melakukan visualisasi atas imajinasinya maka lahirlah Teori Relativitas terkenalnya itu. Ia benar karena faktanya dengan imajinasi maka seluruh kenyataan dapat dihadirkan, bukan hanya dalam bentuk visual dan audio, bahkan rasa, bau dan sentuhan juga dapat diimajinasikan.

Imajinasi yang hadir dalam pikiran kita jauh lebih hebat dampaknya daripada film yang kita tonton di bioskop, televisi atau Netflix, bahkan lebih daripada efek drakor sekalipun.

Kekuatan imajinasi dan dampak bagi satu visualisasi, dapat disimak dalam cerita tokoh yang cukup tersohor, Arthur Schnabel dan Alex Morrison. Cerita tentang mereka menjadi pertanda bahwa imajinasi adalah anugerah Tuhan yang wajib dioptimalkan, alih-alih dilarang.

Diceritakan Arthur Schnabel, seorang pianis konon hanya belajar bermain piano selama tujuh tahun. Ia jarang sekali latihan dengan piano sungguhan seperti para pianis terkenal lainnya. Ketika ia ditanya mengenai hal itu, ia menjawab, “Saya berlatih di kepala saya” atau dengan imajinasi.

Sementara Alex Morrison yang merupakan pegolf terkenal dunia antara tahun 1910 – 1940, kemudian melatih pegolf terkenal lainnya, Lew Lehr yang berhasil mencapai skor 90. Uniknya itu dilakukan tanpa benar-benar berlatih sungguhan di atas padang golf, tapi dengan menggunakan kekuatan imajinasi hanya dengan duduk santai.

Tak salah kemudian bila Maxwell Maltz dalam bukunya Psycho-Cybernetics seperti ditulis oleh majalah Quarterly Research mengatakan, “Imajinasi memainkan peran jauh lebih penting dalam kehidupan daripada hampir semua yang kita sadari.” Barangkali itu rahasia dari ilmu mengenai kekuatan imajinasi dan visualisasi.

Begitu kuat imajinasi. Bahkan dalam konteks lahirnya Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa pun adalah hasil imajinasi dari para founding fathers-nya. Orang mufakat bersatu karena didorong sebuah imajinasi, dipersatukan karena memiliki kesamaan nasib ketertindasan.

Nah, sampai di titik ini, teruslah berimajinasi, berimajinasilah sampai mati. Apalagi sekedar berimajinasi atau satire sebagai sebuah otokritik terhadap satu realitas, yang kadang diperlukan dalam menjaga kesimbangan berbangsa dan bernegara. Berimajinasilah untuk menemukan visualisasi telos atau tujuan yang akan dicapai.

Penulis adalah Wakil Ketua GMPI Maluku