Kokreto: Spirit Baru Anak Muda Maluku untuk Maju dan Berjaya

0
409

”Kokreto dapat menjadi fondasi atau tiga tungku baru bagi alas pijak anak-anak muda Maluku”

Oleh: Ikhsan Tualeka

Harus diakui, orang Maluku sering diperhadapkan dengan sejumlah realitas yang kurang menguntungkan. Selain kerap terjebak dalam pertikaian dan perdebatan yang tidak produktif, pada isu – isu yang kurang substantif, latar (politik) identitas seringkali pula menjadikan orang Maluku seperti ada pada kotak-kotak kecil, dalam satu kotak besar bernama Maluku. 

Satu hal yang memang menjadi bagian dari keanekaragaman, tapi bisa berdampak kontraproduktif ketika ada yang hanya merasa nyaman pada kotaknya sendiri, sehingga tidak membuka diri untuk melihat pada kotak yang lain, atau sebaliknya kotak lain yang cenderung menutup diri. Kondisi bahkan bisa lebih buruk, bila kotak-kotak kecil yang berada dalam kotak besar itu merasa lebih unggul dan saling meniadakan. 

Realitas ini menyebabkan terjadinya semacam ‘mental block’ atau bentuk penolakan dan kecenderungan menutup diri pada kelompok lain, sehingga sulit bagi satu individu atau kelompok untuk melangkah masuk pada ‘kotak’ yang berbeda. ‘Mental block’ ini dalam konteks yang lebih jauh menyebabkan terjadinya situasi yang kurang kondusif, terutama bagi anak-anak muda Maluku untuk dapat bersinergi dan berkolaborasi, 

Alih-alih bersinergi, yang terjadi malah sebaliknya. Seperti dua yang sedang terperosok di dasar sumur, walau sama-sama ingin keluar, bukannya saling bekerja sama untuk bisa naik atau selamat, yang terjadi justru saling bertikai di dasar sumur, dan itu artinya sampai tua atau mati keduanya akan tetap ada di dasar sumur.

Itu pula mengapa kebutuhan kedepan untuk Maluku maju adalah perlu dihadirkannya kultur baru yang lebih membangun dan mencerahkan. Kolaborasi anak-anak muda dalam gagasan, dan terus berfikir mengenai apa yang bisa dikontribusikan kepada daerah. Kemudian dilakukan dengan kreatif, tidak sekadar berserakan di media sosial, rumah-rumah kopi dan di forum-forum terbatas.

Jika itu berupa kritik dan masukan, dibuat secara konstruktif, tidak hanya debat kusir tanpa data, penuh prasangka atau dengan motif ‘like or dislike’ yang tidak berdasar.  Dialog yang konstruktif dan terukur, penting untuk menghidupkan atmosfer saling menerima dan menghargai perbedaan pendapat, atau sikap yang toleran. 

Toleran dalam artian bisa menjaga perilaku dan ekspresi diri sehingga tidak menyinggung perasaan individu atau kelompok lain. Toleran dalam artian, bebas namun dengan tidak melanggar kebebasan orang lain. Sikap ini tidak hanya mencakup atau atar manusia semata, tapi juga dengan alam atau lingkungan.

Kolaborasi, kreatif dan toleran yang menjadi kata kunci yang kemudian disingkat Kokreto adalah satu kebutuhan sosial orang Maluku yang hidup di era kekinian, dan dapat menjadi semacam gimmick baru yang mencerahkan. Kokreto dapat menjadi fondasi atau tiga tungku baru bagi alas pijak anak-anak muda Maluku, sehingga lebih maju dan berdaya saing, untuk kemudian berjaya.

Ambon, 26 Februari 2022

Penulis adalah Founder IndoEast Network