Urusan Pilpres Penting, Tapi Caleg Juga Harus Menang

0
341

Oleh: M. Sedek Latuconsina

Hingar-bingar pemilihan presiden (pilpres) 2024 tak terelakan, menarik konsentrasi pemilih, dan terutama politisi atau para calon anggota legislatif (caleg).

Bagi politisi yang punya pilihan politik yang sama dengan rekomendasi partai tentu saja tidak masalah, tapi bila beda dengan hati nurani akan jadi soal.

Misalnya, hati atau pilihan condong ke capres A atau B, tapi partai merekomendasi capres C. Menjadi dilema, apalagi bagi caleg. Tapi tak ada pilihan, sebagai politisi harus tegak lurus, tidak boleh neko-neko, apalagi main dua kaki.

Secara pribadi, sebagai politisi dari Golkar pun, saya ada dalam fatsun mendukung capres yang diusung Golkar, sekalipun tidak selalu sependapat dengan pilihan pimpinan pusat, tapi berpartai itu soal komitmen dan konsisten.

Sekalipun dalam berbagai pengalaman, ada saja politisi yang berani secara terbuka menunjukan perbedaan politik dengan pengurus pusat partai-nya, apalagi setiap partai punya mekanisme internal yang tak sama.

Ambil contoh caleg DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapil Bali, I Gusti Ngurah Harta, yang secara terbuka atau terang-terangan mendukung Ganjar Pranowo-Mahfud Md di Pilpres 2024.

Itu berani dilakukan, karena menurutnya, PSI tidak mempermasalahkan perbedaan pilihan kadernya. Konteks ini kebijakan tiap partai bisa beda-beda.

Seperti diketahui, DPP PSI resmi mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2024.

“Saya masih mendukung Ganjar-Mahfud, di PSI berbeda jauh dengan PDIP, beda pilihan dimusuhi. Di PSI demokrasi berjalan dengan baik dan tidak ada saling menjatuhkan,” kata Harta kepada detikBali, Kamis, 16 November 2023.

Harta menjelaskan kalau di PSI tidak ada saling menjatuhkan seseorang jika berbeda pilihan. Menurutnya, PSI malah mengacungkan jempol ketika ada kadernya yang berbeda dengan DPP PSI.

Baca Juga  Reinventing Kedaulatan Budaya Maluku

Menurutnya, sesuai dengan moto PSI berpolitik dengan riang gembira, berpolitik santun dan santuy.

Harta juga sempat menyindir cara-cara partai tua yang usang masih memiliki pola pikir untuk memusuhi teman satu partainya karena beda pilihan.

Selain Harta, kader PSI, Ranggawisnu, menyebut masih ada kader PSI Bali yang bertahan mendukung Ganjar Pranowo-Mahfud sebagai capres dan calon cawapres 2024.

Pria yang juga Penjabat (Pj) Ketua Komando Teritorial Relawan Ganjarian Spartan Bali itu mengaku masih mendukung Ganjar-Mahfud meski sebagian besar kader PSI Bali mendukung Prabowo -Gibran.

Fenomena Harta dan Rangga ini tak terelakkan, ketika capres harus dimenangkan pada satu sisi, tapi di sisi lain konstituen di Dapil-nya berseberangan.

Sehingga caleg harus pragmatis, penting menangkan capres, tapi dirinya juga harus tetap berikhtiar terpilih.

Di sejumlah daerah juga banyak caleg mengeluhkan hal atau gejala politik yang sama. Seperti disuruh memilih buah simalangkama. Bisa bikin galau.

Seperti pada kasus bali, pemilih Ganjar-Mahfud lebih dominan, itu artinya bila politisi Bali dari partai-partai pendukung Prabowo-Gunawan memaksakan diri dukung pasangan itu, siap-siap ditinggal pemilih.

Kata orang Maluku ‘ilang jalan’. Itu artinya caleg atau politisi dipaksa untuk realistis, jangan gasspoll dukung capres, padahal diri sendiri kehilangan simpati pemilih.

Apakah fenomena ini juga terjadi di Maluku? Masing-masing kita punya jawaban sendiri.

Penulis adalah politisi muda Partai Golkar